Refleksi Awal: Menemukan Kembali Posisi Produser
Lima hari intensif di Hotel Grandkemang, Jakarta, telah lama berlalu, namun percakapan masih berseliweran dalam pikiran. Sambil mendengarkan karya “Tetabuhan” Cholin Macphe dan secangkir kopi arabika kintamani panas, saya menulis ingatan tentang pertemuan lima hari di Hotel Grandkemang itu, 11-15 Juni 2025. Itu acara Forum Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan Indonesia.
Acara ini dikerjakan bersama Jejaring Produser Pertunjukan Indonesia (JPPI) yang terhimpun dari produser-produser seni pertunjukan seluruh Indonesia baik sebagai alumi magang, lokakarya dan jejaring di luar forum Kelola. JPPI mendorong praktek kekaryaan yang mengedepankan tata kelola yang sehat serta membangun ekosistem yang kuat.
Sebagai produser, ia tidak hanya memikirkan praktek kerja tata kelola lembaga/kolektif secara internal, tetapi memikirkan, membaca ulang dan menjejaring kerja eksterior dengan mengupayakan ruang baru, sistem baru dan pendekatan baru yang dapat mendukung praktek keproduseran. Dalam proses itu, JPPI secara bersamaan mendorong jejaring yang berbasis forum dengan harapan pengetahun praktek keproduseran pada setiap kolektif dibagikan dan didiskusikan dalam forum sehingga muncul ragam-ragam praktek movement (menggerakkan) secara organik, termasuk strategi tata kelola yang beragam.
Forum Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan Indonesia ini meninggalkan jejak yang membekas tentang “siapa produser itu” dan “bagaimana produser beroperasi dalam lanskap yang terus berubah”.
Mengenal Praktek Keproduseran
Forum Lokakarya dan Pertemuan Produser Seni Pertunjukan Indonesia ini menghadirkan 10 peserta dari bergai komunitas/kolektif, diantaranya I Putu Ardiyasa (Lemah Tulis), Wulan Pusposari (Lab Teater Ciputat), Halida Bunga Fisandra (Perempuan Komponis: Forum & Lab), Aik Vela (Institut Hidup), Ojax Manalu (Rumah Karya Indonesia), Bianca Da Silva (Komunitas Kahe), Ibe S Palogai (Antologi Manusia), Retha Janu (Teater Saja Ruteng), Scholastica Wahyu Pribadi (Loka Seni Indonesia), Muhamad Rasyid Ridlo (Perkumpulan Seni Nusantara Baca).

Seluruh peserta mendapat kesempatan yang sama untuk mempresentasikan praktek kerja keproduserannya, mulai dari Aik yang berangkat dari mempelajari penonton pertunjukan. Karena bagi Aik, setiap pertunjukan dapat membangun penonton ataupun mempelajari motif menonton, membangun kesadaran estetis, dan menemukan kategori penonton.
Wulan dalam prakteknya di Lab Teater Ciputat mengedepankan penciptaan seni untuk masyarakat berbasis riset dan penciptaan artistik dengan tata kelola kuat, jejaring luas dan regenerasi yang berkesinambungan. Ia memandang bahwa Produser itu adalah “Eksekutor Mimpi”.
Selanjutnya kawan saya dari Medan, Ojax Manalu yang menggerakkan festival warga, memandang kerja kolektif berbasis warga kekuatannya ada pada keragaman laku budaya gotong royong serta kolektivitas yang sudah terbangun sebelumnya. Di sisi lain perlu adanya penguatan infrastruktur kebudayaan yang dapat diaktivasi dan digunakan dalam penguatan-penguatan festival berbasis warga.
Praktek kerja yang berbeda ditawarkan oleh Ibe di Antologi Manusia dengan memandang narasi kebudayaan yang beririsan dengan ekologis sosial dan spasial menjadi poin penting dalam praktek kerja keproduserannya yang cair fleksibel berbasis komnitas. Dalam prakteknya Ibe menawarkan sebuah perjalanan sebagai metode membaca kota yang secara langsung menjadi metode riset artistik termasuk jejaring solidaritas.
Serupa dengan itu, Ridlo bersama Perkumpulan Seni Nusantara Baca juga membicarakan praktek yang sangat cair, mendorong praktek kerja yang “Seni Kok Menyusahkan: Mangkat Seneng-Muleh Yo Seneng (pergi senang, pulang senang)” . Baginya praktek keproduseran itu HPKP (hibah, proposal, kirim, pentas), yang secara tidak langsung dapat “membunuh” kemandirian seniman apabila hanya bergantung pada hibah.
Berbeda dengan Ridlo, praktek industri budaya dilakukan oleh Scholastika yang memandang seni dengan cara yang lain, bahwa kesenian harus realistis, baginya seniman yang sukses itu adalah seniman yang “payu” laku dengan membuat mitra percaya selama 3 menit dengan bahan yang dipresentasikan.
Tiba saatnya kesempatan presentasi saya dapatkan, sebelum menceritakannya, saya seruput kopi dulu.


Pada kesempatan ini saya sebagai produser di Lemah Tulis yang bergerak di Singaraja melakukan praktek keproduseran yang berfokus pada komunitas. Prinsipnya bahwa produser itu harus bisa memastikan sebuah jalan untuk seniman bisa pentas dan memenuhi kebutuhan pentasnya. Dalam praktek keproduseran saya lebih mengutamakan sebagai penggerak yang memahami relasi personal dan interpersonal, membangun kepercayaan mitra melalui karya yang berkualitas serta membangun jejaring kemitraan yang kuat.
Praktek kerja keproduseran berfokus pada komunitas tertentu dilakukan oleh Dida di Perempuan Komponis (PK). Dida menjelaskan bahwa kehadiran PK berangkat dari prinsip “mengganggu, menggugat dan menyuarakan” hal-hal yang terpinggirkan termasuk peremuan dalam konteks komponis. Ruang yang dibangun adalah community sharing saision berbasis perempuan yang mengupayakan penumbuhan kepercayaan terhadap kaum perempuan dalam praktek per-musik-an di Indonesia.
Praktek serupa juga hadir di Maumere yang dijelaskan oleh Bianca dalam praktek keproduserannya di Komunitas Kahe bahwa seniman dan produser itu saling menghidupi dengan kualitas kekaryaan kuat, namun tetap mendorong praktek tata kelola yang tidak rumit “jalani sa” yang dapat bermakna bergerak secara natural dengan tetap mengutamakan karya berkualitas.
Produser juga bertanggung jawab menemukan jejaring/mitra kerja untuk diajak bicara, selanjutnya tergantung pada bagaimana kemamuan bicara dan konteks yang dihadirkan. Di daerah yang sama di bagian timur Indonesia kita, Reta bersama komunitas Teater Saja Ruteng yang sekaligus sebagai guru matematika, mengutamakan prinsip kerja yang presisi namun tetap fleksibel. Kepresisian itu diatur dalam praktek kerja keproduseran yang mengacu pada indikator keberhasilan, dan visi bersama. Sedangkan ke-fleksibel-an dapat berpegang pada hasil membaca ulang penonton, penentuan skala dan modal (modal ekonomi, sosial, dan budaya) yang ada, sehingga dapat menentukan skala prioritas kembali.
Kehadiran 10 peserta terpilih dari berbagai latar belakang mulai dari produser teater konvensional hingga mereka yang bergerak di ruang komunitas dan advokasi sosial menciptakan spektrum diskusi yang kaya. Bukan lagi sekadar berbagi pengalaman teknis mengelola produksi, tetapi merefleksikan posisi strategis produser sebagai arsitek ekosistem seni pertunjukan.
Setelah presentasi dan refleksi praktek kerja keproduseran itu, seluruh peserta mendengarkan paparan materi dengan berbagai metode.
Tata Kelola Sebagai Strategi Arsitek Ekosistem Pertunjukan
Sesi pertama yang difasilitasi Imron Zuhri dan Aan Mansyur membuka mata bahwa tata kelola bukan hanya soal administrasi atau manajemen teknis. Di awal paparannya Imron bertindak sebagai Bapak Mertua yang menghadapi calon menantu yang bermaksud meyakinkan sang calon mertua. Menariknya, tidak ada satupun cara yang dikeluarkan sama antara setiap peserta. Semua orang punya strateginya masing-masing berdasarkan tempat, kebiasaan dan pengetahunanya untuk berusaha membuat praktek keproduserannya meyakinkan calon donor.

Dalam konteks Indonesia, di mana infrastruktur seni masih terbatas dan dukungan sistemik belum merata, produser dituntut untuk menjadi strategis kultural. Menariknya dari diskusi ini, para peserta merefleksikan praktiknya yang sudah secara intuitif menerapkan “tata kelola sebagai strategi” tanpa menyadarinya. Imron menekankan pentingnya memiliki cita-cita sebagai produser yang diterjemahkan ke dalam sebuah visi.
Penerjemahan visi tersebut tidak semata atas keinginan namun berdasarkan pada hasil analisis modal yang harapannya mampu di konversi menjadi macam-macam bentuk melalui metode-metode yang dapat berubah kapan saja sesuai dengan kebutuhan namun dibangun atas fundamendel lembaga/komunitas/kolektif yang kuat. Dalam paparannya Imron juga menekankan bahwa seorang produser memikirkan sumber daya dari aspek psikologis termasuk kesejahteraannya. Produser mengajak orang-orang dengan cita-cita yang sama memastikan karya bermakna.
Bagaimana “menjual” Karya?
Kunci “penjualan” bagi Imron adalah produser mampu mendengar dengan baik, menganalisis kebutuhan dan permasalahan serta How to Build Fundament (membangun prinsip kerja) sehingga mampu menentukan karya yang sesuai dengan kebutuhan stakeholder. Produser harus memastikan donor dari patron melalui proses yang sama, yaitu mendengar, membaca kebutuhan, analisis dan terjemahkan dalam bentuk produk. Kerja-kerja keproduseran lainnya dapat dilakukan melalui membaca dan memahami penonton pertunjukan, mulai dari aspek kecenderungan menonton, hingga perilaku konsumen.
Hal ini disebut oleh Imron sebagai How to Understanding Audiens (bagaimana memahami perilaku/respon audiens). Selanjutnya sebagai produser dalam konteks kekaryaan penting membangun kultur menghargai dan bersikap baik (berkata baik) terhadap karya orang lain serta mampu selalu membangun interaksi yang berkelanjutan dengan audiens tidak hanya saat pentas, namun saat tidak ada pementasanpun dapat berinteraksi melalui kanal-kanal media sosial yang tersedia ataupun membangun workshop.
Festival Sebagai Metode
Pada Hari yang sama, Aan Mansyur akrab di sapa Aan Mansyur melanjutkan sesi topik Tata Kelola Sebagai strategi. Aan memaparkan Makassar International Writers Festival sebuah festival yang menghubungkan ekosistem pertunjukan mulai dari aspek geopolitik, penciptaan semesta, sosial agensi, perwakilan agensi dan kolektif agensi dalam sebuah festival sebagai jejaring komunitas. Misalnya membuatkan kelas untuk volunteer dibidangnya masing-masing, yang berguna untuk menemukan polisentrik desition dalam sebuah kebijakan festival.
Bagi Aan Mansyur, produser menemukan bahasa konseptual yang dimengerti dan menumbuhkan rasa memiliki dalam sebuah kolektif serta memastikan kolaborator sepakat dalam memahami dan siap untuk bergabung. Baginya dalam kerja-kerja keproduseran harus memastikan bahwa semua aspek tergarap. Misalnya pendokumentasian kegiatan prinsipnya bukan sekedar foto dan video, melainkan adalah informasi melalui visual yang dapat menyentuh perasaan penontonnya. Dalam konteks bahasa misalnya, Aan memandang bahwa bahasa adalah sistem pengetahuan itu sendiri, maka penting membaca ulang kehadiran bahasa yang dipilih dalam festival.
Produser juga harus sering melakukan modus kerja yang mengupayakan keberjarakan terhadap sebuah obyek yang kerjakan (misalnya: festival), serta upayakan membangun sistem yang tidak bergantung pada figur tertentu. Sehingga penting adanya regenerasi mulai dari tingkat fungsi kerja konseptual hingga kerja teknis.
Dari percakapan Imron dan Aan ini muncul kesadaran bahwa tata kelola yang kontekstual dan lentur justru menjadi kekuatan. Keterbatasan infrastruktur mendorong kreativitas dalam merancang solusi. Produser Indonesia tidak meniru model Barat, tetapi menciptakan pendekatan hibrid yang merespons realitas lokal.
Dramaturgi Keproduseran: Produser Sebagai Dramaturg
Sesi yang difasilitasi Bunga Siagian dan Eka Putra Nggalu ini mungkin yang paling mengejutkan. Konsep “produser sebagai dramaturg” membuka perspektif baru tentang peran produser yang selama ini mungkin kita pandang terlalu teknis, namun sangat konseptual, terstruktur dan berelasi dengan karya.
Jika dramaturg bertugas merancang relasi dalam karya, maka produser pada dasarnya juga melakukan hal serupa merancang relasi antara karya dengan konteks eksternalnya. Produser tidak hanya mengatur sumber daya, tetapi juga menenun konteks: bagaimana karya ini berbicara dengan zamannya, dengan audiensnya, dengan isu-isu yang berkembang.

Praktek keproduseran Bunga di Majalengka, Jawa Tengah, yang mengerjakan proyek seni jangka Panjang yang berkelanjutan, memobilisasi narasi desa, dan melakukan intervensi kolektif sehingga bisa mewujudkan mother bank yang awalnya berangkat dari keresahan warga melawan bank emo menjadi bank yang dikelola oleh ibu-ibu warga desa di Majelengka.
Konteks kerja Bunga ini menawarkan praktek kerja keproduseran yang bertumpu pada narasi guna menciptakan hal-hal baru dan mempertemukan karya dengan publik yang lebih luas. Dalam penguatan dan penciptaan narasi penting adanya advokasi isu yang membangun kesadaran kolektif tentang hal-hal penting disekitarnya terutama berkaitan dengan tantangan memobilisasi kolektif. Selain itu produser perlu membangun lembaga kajian yang kuat dan pendekatankultural, sehingga seni dapat bergerak sebagai rekonsiliasi warga/konflik warga.
Diskusi menjadi intens ketika masuk sesi dua bersama Eka Putra Nggalu yang memaparkan kerja kolektifnya bersama Komunitas Kahe dalam mengelola Maumere Logia. Bagi Eka, Produser itu bersiasat dengan keataan kontekstual. Kadang Kala Produser itu counter institutional artinya tidak selalu bekerja menaati sistem instansi yang sudah berlaku sebelumnya. Bahkan produser bisa menemukan caranya yang berbeda seuai dengan konteksnya.
Dalam paparan Eka, Kahe mampu mengidentifikasi konteks isu di Maumere yang ditindalanjuti dengan upaya resistensi modal termasuk konversi modal (sosial, kultur, ekonomi dll) kemudian bermuara pada praktek negosiasi dengan jejaring kolektif yang berlandaskan pada kontrol kuat yang disebut oleh Eka sebagai super ego.
Hal penting yang dapat dilakukan sebelum melakukan negosiasi jejaring kolektif adalah menggambar (breakdown) potensi sumber daya dari masing-masing jejaring kemudian dibahas dan dieksekusi. Misalnya sumber dayanya adalah lembaga pendidikan seperti sekolah atau kampus, maka pola negosiasi yang digambarkan adalah membuat kelas tatakelola festival yang dibuka unutk mahasiswa. Jika sumber dayanya bergerak dibidang Sound Engginering, maka memahami kebutuhan mereka kemudian buatkan kelas untuk menyelesaikan kebutuhan itu.
Pola seperti ini mampu memetakan jalan kebudayaan mulai dari potensi wacana lokal dan sumber daya pendukung, dimana dalam prakteknya semua orang dalam kolektif memiliki hak suara. Pada prinsipnya bahwa ukuran-ukuran komunitas itu menjadi skala kerja profesional yang sudah dibicarakan sejak awal, karena yang dapat dipastikan adalah adanya medan kerja yang penuh polemik serta dapat menimbulkan ekstraksi di dalam komunitas.
Keputusannya untuk berkerja di desa bersama warga di Majalengka yang berakar dari perlindungan terhadap hak warga terhadap tanah dan lingkungan ataupun kerja kreatif dalam konteks Maumerelogia yang mempertemukan berbagai kepentingan kolektif menjadi satu visi bukan sekadar strategi, tetapi bagian dari dramaturgi keproduseran menciptakan konteks di mana karya bisa berbicara lebih kuat.
Yang paling berkesan pada sesi ini adalah ketika diskusi menyentuh tanggung jawab etis produser. Jika produser memiliki kuasa dalam menentukan konteks karya, maka dia juga memiliki tanggung jawab terhadap dampak sosial dari karya tersebut. Pertanyaan ini memicu perdebatan seru: sejauh mana produser harus terlibat dalam aspek konten karya? Jawabannya ada di awal pembicaraan saat komunitas itu mulai dijalankan dan dievaluasi sesuai kebutuhan. Karena, ketika memandang dua paparan ini, praktek kerja keproduseran dimaknai bahwa kerja bareng warga adalah bekerja sebagai dan menjadi warga, tidak membawa metode baru, namun mimikri bentuk/metode/model kerja warga dan penuh humor.
Proses ini juga memunculkan kesadaran tentang perlunya jejaring yang lebih solid. Selama ini, produser sering bekerja sendirian, bergulat dengan tantangan serupa tanpa berbagi pengalaman. Forum ini menjadi katalis untuk membangun ekosistem saling dukung.
Peta Jalan Keproduseran: Merancang Masa Depan
Sesi terakhir yang dipandu Linda Mayasari dan Aan Mansyur terasa seperti puncak dari seluruh proses. Setelah dua hari membahas konsep, para peserta diminta merancang peta jalan konkret untuk praktik mereka masing-masing. Sebelum penyusunan peta jalan itu peserta diajak untuk memahami praktek kerja produser yang mampu berjarak untuk melihat ruang-ruang atau ceruk yang dapat diekselarasi dan penetrasi melalui exercise seru yaitu mencari teman yang diawali dengan perintah kerja dari Linda sebagai fasilitator.
Menariknya dalam upaya mencari teman itu, semua peserta berusaha untuk mendekat dengan teman yang sesuai pada konteks yang dibacakan. Namun yang terjadi adalah sulitnya melihat celah dan tidak mamu membaca kebutuhan teman, karena ruang sudah penuh. Exercise berikutnya peserta diajak untuk menuliskan potlak yang berisikan kekuatan dan apa yang dibutuhkan. Metode ini mampu menemukan apa yang kita inginkan dari peserta lain, dan sebaliknya.
Dalam sesi ini juga peserta dibagi menjadi 2 kelompok untuk membuat karya yang menginterpretasikan praktek kerja keproduseran yang dapat mewakili seluruh anggota kelompok dalam sebuah pertunjukan singkat. Cara ini menjadi medium ungkap yang menarik, karena kedua kelompok memainkan simbol-simbol mulai dari gerak, vokal dan beberapa alat-alat untuk memvisualkan idenya.
Bukan untuk mencari yang baik, tetapi pasca penampilan kedua karya itu Aan sebagai fasilitator memberikan alat berupa tangga abtraksi untuk membaca ulang hal-hal yang abstrak menjadi lebih konkret. Tangga itu digambarkan seperti garis vertikal, yang dari atas semakin abstrak, dan dari bawah semakin kongkrit. Misalnya jika abstraksinya paling atas adalah kendaraan, maka kebawah dapat di urut tangganya mulai dari bentuknya mobil, turunannya merek, warnanya hingga hal-hal yang sangat spesipik.
Keragaman peta jalan muncul dalam sesi menggambar peta yang mengajak ingatan kembali kemasa kecil namun dalam spektrum berbeda. Peta jalan yang digambar mencerminkan spektrum praktik keproduseran di Indonesia, dimana seluruh peserta dibagi menjadi 3 kelompok dan otomatis ada 3 gambar peta jalan yang diupayakan dapat mewakili praktek keproduseran masing-masing kelompok. Tidak ada gambar yang serupa, ketiganya memiliki ciri khasnya masing-masing dengan narasi yang dibangun untuk memperkuatnya.
Dalam penyusunan peta jalan ini, menurut Linda bahwa penting memahami proses penyusunan program yang membreakdown obyek seni dan sumber daya yang dimiliki. Selain itu program yang dirancang ini memiliki jejaring/keterhubungan dengan lembaga/kolektif bergerak dibidang seni, ekonomi, sosial dan lain-lain, serta memastikan bahwa produser memahami posisi dan perannya dalam peta jalan.
Catatan Kritis
Meski forum berlangsung produktif, catatan yang perlu dipertimbangkan bersama adalah soal keberlanjutan bahwa memastikan praktik-praktik baik yang dibagikan di forum ini bisa berkelanjutan serta jejaring yang terbangun akan bertahan setelah forum berakhir. Forum ini bukan sekadar event tahunan, tetapi momentum untuk membangun ekosistem keproduseran yang lebih solid di Indonesia.

Beberapa langkah konkret yang perlu ditindaklanjuti misalnya pertama membangun Platform Digital Untuk memfasilitasi berbagi pengetahuan dan kolaborasi antar produser di seluruh Indonesia; kedua program mentorship yang menghubungkan produser senior dengan yang muda; ketiga riset dan dokumentasi untuk mendokumentasikan praktik-praktik keproduseran Indonesia sebagai pengetahuan yang bisa dibagikan.
Penutup: Produser Sebagai Agen Perubahan
Lima hari di Jakarta menguatkan keyakinan bahwa produser bukan sekadar pengelola teknis, tetapi agen perubahan dalam ekosistem seni pertunjukan. Dalam konteks Indonesia yang kompleks dengan keragaman budaya, ketimpangan akses, dan dinamika sosial politik yang terus berubah produser memiliki peran strategis dalam menentukan arah perkembangan seni pertunjukan.
Forum ini meninggalkan optimisme bahwa komunitas produser Indonesia semakin matang dan siap mengambil peran yang lebih strategis. Bukan lagi sekadar mengikuti model dari luar, tetapi menciptakan pendekatan yang otentik sesuai konteks lokal. Tantangannya sekarang adalah memastikan momentum ini tidak hilang begitu saja. Perlu kerja keras untuk menerjemahkan insight dari forum menjadi praktik konkret di lapangan. Perlu komitmen untuk terus membangun jejaring dan berbagi pengetahuan.
Yang pasti, pertemuan dikesempatan lainnya dinanti-nantikan. Bukan hanya untuk berbagi perkembangan praktik masing-masing, tetapi juga untuk terus mengasah visi bersama tentang masa depan eksosistem seni pertunjukan Indonesia. [T]
Catatan ini disusun berdasarkan observasi dan diskusi selama forum. Mencerminkan keragaman perspektif peserta dan tidak mewakili posisi resmi penyelenggara.
Penulis: Putu Ardiyasa
Editor: Adnyana Ole


























