Mendengarkan Matt Monro menyanyikan “Born Free” serasa melakukan perjalanan pulang ke tahun 1960-an, masa ketika dunia berada di ambang perubahan besar. Di jalanan, orang-orang meneriakkan protes; di kampus dan kafe, gagasan tentang kebebasan, hak sipil, dan penolakan terhadap tatanan lama bergema. Dalam lanskap itulah “Born Free” hadir, bukan sekadar sebagai soundtrack film, melainkan sebagai himne lembut bagi jiwa yang merindukan kebebasan. Lagu ini menangkap kesadaran zaman: bahwa kebebasan bukan hanya tuntutan politik, melainkan cara hidup, sebuah dorongan untuk kembali pada fitrah manusia: bebas seperti angin.
Kita tentu merindukan suara bariton Matt Monro yang hangat dan bersih itu. Namun di balik ketenangan suaranya, hidup Monro, yang terlahir dengan nama Terry Parsons di London Utara pada 1930, justru penuh liku. Ia kehilangan ayah pada usia tiga tahun, disusul ibunya tak lama kemudian, dan harus menjalani masa kecil di panti asuhan.
Sekolah ditinggalkannya pada usia 14 tahun demi bertahan hidup, sebelum akhirnya menjalani wajib militer pada usia 18 tahun dan ditempatkan di Hong Kong sebagai instruktur mengemudi tank.
Di sanalah, justru jauh dari rumah, bakat menyanyinya berkembang. Monro kerap mengikuti kontes bakat dan hampir selalu menang, sampai-sampai ia dilarang ikut kompetisi karena dominasinya. Sebagai gantinya, ia diberi acara radio sendiri berjudul “Terry Parsons Sings.”
Sepulang ke London, kariernya mulai menemukan arah setelah pianis Winifred Atwell merekomendasikannya ke perusahaan rekaman, dan di sanalah ia mendapat nama baru: Matt Monro.
Kesempatan emas datang ketika produser EMI, George Martin, mengontraknya ke label Parlophone. Kolaborasi Monro, Martin, dan penata musik Johnnie Spence melahirkan serangkaian rekaman elegan: Portrait of My Love, My Kind of Girl, Softly As I Leave You, From Russia with Love, hingga Walk Away. Antara 1960 dan 1966 saja, Parlophone merilis sembilan belas single, delapan EP, dan empat LP Matt Monro, sebuah produktivitas yang mengukuhkan posisinya sebagai penyanyi balada kelas atas di Inggris.
Pada 1966, Monro pindah ke Capitol Records dan kerap disebut sebagai pengganti ideal Nat King Cole yang wafat setahun sebelumnya. Didukung musisi dan arranger papan atas seperti Sid Feller dan Billy May, ia merilis album-album seperti This Is the Life, Invitation to the Movies, dan Invitation to Broadway. Lalu, pada 1967, lahirlah lagu yang kelak menjadi penanda kariernya: “Born Free.”
Lagu ini diciptakan Don Black (lirik) dan John Barry (musik) untuk film tentang kisah nyata Joy Adamson yang membesarkan anak singa yatim piatu, Elsa, di Kenya. Film dan lagunya memenangkan Oscar, dan “Born Free” segera melekat sebagai lagu khas Monro. Secara tematis, liriknya sederhana, bahkan nyaris naif:
Born free
As free as the wind blows
As free as the grass grows
Born free to follow your heart
Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat maknanya meluas. Meski ditulis untuk kisah konservasi satwa, lagu ini dengan cepat dibaca sebagai antitesis terhadap kekakuan struktur sosial dan moral yang membelit masyarakat modern. Ia menyentuh urat batin pendengar yang, di tengah hiruk-pikuk protes dan eksperimen budaya, juga merindukan kebebasan yang lebih sunyi, lebih personal, dan lebih eksistensial. Dan saat lagu ini meledak (1966-1977) juga merupakan puncak gerakan Hippie dan Summer of Love.
Sejumlah pengamat pernah mengatakan bahwa ketika musik psychedelic dan demonstrasi jalanan menjadi wajah paling mencolok dari kontra-budaya 1960-an, “Born Free” justru menawarkan bentuk perlawanan yang lebih subtil namun tak kalah dalam: sebuah pernyataan batin tentang hak untuk menjadi diri sendiri, untuk mengikuti kata hati, dan untuk hidup selaras dengan alam.
Di sini, suara Matt Monro memainkan peran penting. Ia tidak berteriak, tidak menghasut, tidak menggugat secara frontal. Ia membujuk dengan kelembutan. Dan justru lewat kelembutan itulah pesan kebebasan terasa semakin mendalam, seakan mengingatkan bahwa sebelum menjadi slogan politik, kebebasan adalah pengalaman batin yang paling purba.
Getaran lagu ini pun melampaui wacana sosial dan masuk ke wilayah etika terhadap alam. Kebebasan bukan hanya milik manusia, tetapi juga milik makhluk lain yang kerap terjerat oleh keserakahan dan eksploitasi. Dalam arti itu, “Born Free” berbicara tentang kebebasan yang utuh: kebebasan manusia, sekaligus kebebasan alam liar untuk tetap menjadi dirinya sendiri.
Pada akhirnya, “Born Free” bukan sekadar lagu populer dari era keemasan balada orkestra, melainkan gema nostalgia dari semangat zaman yang ingin melepaskan diri dari belenggu, baik yang bersifat sosial, kultural, maupun batiniah. Di balik aransemen megah dan suara bariton yang teduh, tersimpan denyut radikal era tersebut: penolakan terhadap tirani, sekaligus perayaan atas kebebasan tanpa syarat. Sebuah ajakan halus untuk kembali pada sifat alami manusia, lahir untuk merdeka, dan berjalan mengikuti suara hati. [T]
Penulis: Sukaya Sukawati
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























