Hujan Belum Berakhir
pagi hingga petang ini
kunikmati hujan bersama sepi
tetesannya tak merdu kudengar
menusuk napas bumi
bagai kalamretiu mengintai
taringnya mencabik-cabik
merontokkan aliran nadiku
deru angin, deru hujan
menghempaskan titik jiwa
jiwa-jiwa yang merapuh
jiwa-jiwa yang tak merunduk
pada pohon-pohon kehidupan.
Di Senja Ini
di senja ini
kutulis secarik puisi
yang merindukan cintamu
dengan tubuh menggigil
untuk bertanya pada diri
kenapa aku mabuk tak kenal diri
di senja ini
kulihat tubuh menghitam
karena ia kurang katam
pada hidup semesta
di senja ini
kuingat kata rindu
yang merindukan dirimu
yang di sana di ujung cinta
menabur cinta pada cinta.
Kematian Semakin Dekat
tuhan, napas jiwa raga ini milikmu
beri aku sebut namamu
sebelum dewa maut menjemput
tuhan, beri aku bersaksi atas karmaku
hitam puih kau yang tahu
karena kau mahatahu
tuhan, di hatiku ada dirimu
walau tak kutahu di mana dirimu
walau tak kutahu wajahmu
tuhan, napas jiwa raga ini milikmu
beri aku sebut namamu
di akhir napasku.
Mata ini Tuhan
mata ini tuhan, semakin buram
tak terlihat pasti
kurasa mesti
mata ini tuhan, semakin menua
tak sempat terawat
tak terlihat di dalam
mata ini tuhan, semakin berkaca
sinarnya meredup
tak mau memberi hidup
mata ini tuhan
.
Penulis: IBW Widiasa Keniten
Editor: Adnyana Ole



























