Wisatawan yang sedang melakukan check in ataupun check out di The 1O1 Bali Oasis Sanur tiba-tiba terhenti sejenak. Mereka bukan komplin atau demo, tetapi asyik menikmati atraksi budaya berupa prosesi pembukaan pameran seni lukis bertajuk ‘Naive Art Malukis Surga’ berlangsung di lobby hotel. Maka tak heran, saat itu, area lobi memang banyak dihadiri oleh seniman, dan pecinta seni.
Pelukis Young Artist Style, Ngurah KK memajang karya-karyanya untuk disajikan kepada masyarakat luas. Tari Panyembrama oleh dua orang gadis menari lembut mengawali prosesi pembukaan pameran itu. Sementara menjadi latarnya, karya lukis dengan berbagai ukuran, diantaranya 60 x 70 Cm yang terbesar, dan ada ukuran 120 x 40 Cm. Objek yang diangkat, seperti air terjun, orang maturan, pemandangan sungai, sawah, kampung dengan budaya dan lainnya.
Pameran seni ini menampilkan hanya 7 karya, namun objek yang ada dalam karya itu seakan mengajak kita untuk malihat masa lalu, dimana alam Bali yang asri dan budaya lestari. Karya-karya itu, seakan memperkuatkan pemahaman terhadap alam dan budaya masa lalu, setelah membaca buku, majalah ataupun bacaan lainnya.

Pemeran dibuka oleh General Manager, I Nyoman Astika bersama pelukis Ngurah KK, pada Kamis 15 Januari 2026, dan pameran akan berlangsung hingga 10 Maret 2026. “Semua objek itu untuk mengingatkan anak-anak kita supaya tahu kehidupan para orang tua jaman dulu. Mereka tumbuh di jaman modern, bahkan di jaman mutakhir, sehingga penting diajak mengenal budaya leluhur mereka jaman dulu,” kata Ngurah KK.
Ngurah KK, merupakan murid dari Arie Smit, seorang pelukis asal Belanda yang tinggal di Ubud, Bali itu. Dirinya telah banyak melahirkan karya seni lukis karena setiap hari selalu melukis dan melukis. Namun, pada pameran kali ini hanya memajang 7 karya tentang alam yang idenya lahir dari kehidupan di pedesaan yang asri. “Saya ingin mengenalkan alam dan budaya dulu kepada anak-anak kita,” imbuhnya.


Gaya lukisannya “naif”, aliran seni kesederhanaan dan spontanitas, namun mengandung makna yang sangat mendalam. Ide-idenya, berdasarkan ingatan sejak kecil, kebanyakan mengangkat kenangan lama, seperti suasana area Campuhan Ubud jaman dulu. “Lukisan ini berdasarkan ingatan dan pengalaman masa kecil, dan pengalaman hidup di desa, tempo dulu. Dulu, saya belajar melukis mulai tahun 1960, ketika berusia 13 tahun dari peluski asal Belanda, Arie Smit,” ucapnya.
Ngurah KK yang konsisten melukis dengan gaya Young Artist Style itu, sering mengikuti pameran di luar negeri, diantaranya Roma, Italia, Jerman, Belanda, Austria, Switzerland dan banyak lagi lainnya. “Anak-anak sekarang tidak banyak yang mengetahui kehidupan jaman dulu, sehingga lewat lukisan ini mereka mengetahui dan belajar budaya dari jaman dulu. Lukisan itu untuk menggugah anak-anak supaya mau mengerti, belajar dan mau menghargai yang kuno,” harapnya.
Astika mengatakan, pameran ini untuk memberikan ruang dan kesempatan kepada seniman lokal yang meniliki karya untuk memperkenalkan karyanya kepada masyarakat luas. Sanur merupakan destinasi dunia yang sering dikunjungi wisatawan dari berbagai negara. “Pameran ini, memajang karya-karya pelukis “Young Artist Style” Ngurah KK untuk mengajak semua orang untuk melihat kebelakang kembali, Desa Penestanan Ubud yang terkenal dengan seni lukis,” ucap Astika.

Karya-karya Ngurah KK ini, sebuah gaya yang merekam kebudayaan dan alam Bali tempo dulu, dengan warna polos dan penuh warna kreativ. Pameran ini, untuk memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Bali kepada wisatawan. “Ini wujud komitmen kami untuk memdukung seni budaya lokal sekaligus memberi pengalaman terutama kepada para tamu,” ucapnya. [T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole



























