Hal-Hal Kecil yang Menyebut Namamu
aku mencintaimu
seperti hujan mencintai jalanan
tanpa ingin memiliki,
cukup jatuh, pulang, dan menghilang
di gelas kopi yang kau tinggalkan
namamu mengendap perlahan
aku meminumnya
agar rindu tidak tumpah ke mana-mana
jika suatu hari aku lupa caraku berdoa
biarlah wajahmu
menjadi satu-satunya kalimat
yang masih kuingat dengan sempurna
Kaus Kaki di Sudut Kamar
kau lupa kaus kakimu
di sudut kamar
ia menggulung diam-diam
seperti rindu yang malu mengaku
aku tidak memindahkannya
sebab dari sanalah
aku belajar menunggumu
tanpa suara, tanpa jadwal
barangkali cinta memang seperti itu
hadir sebagai benda sepele
yang membuat kamar
tak pernah benar-benar kosong
Aku Menyebut Namamu Pelan-Pelan
aku menyebut namamu
pelan-pelan
takut angin iri dan membawanya pergi
di antara detak jam dan lampu redup
namamu tumbuh
seperti doa yang enggan selesai
jika kelak dunia bertanya
apa yang paling sering kupikirkan
aku akan menjawab:
sesuatu yang selalu kusebut dengan lirih
Payung yang Kau Pinjamkan
kau meminjamkan payungmu
padahal hujan masih panjang
aku menerimanya
seperti menerima masa depan
di bawah payung itu
aku belajar
bahwa cinta tidak selalu berjalan berdampingan
kadang cukup saling menjaga dari jauh
jika nanti hujan reda
kembalikan payung itu padaku
aku ingin meminjam lagi
alasan untuk bertemu
Surat Pendek untuk Orang yang Kucintai
aku ingin menulis surat panjang
tapi kata-kata takut berlebihan
akhirnya kutulis namamu saja
itu sudah mewakili segalanya
di antara huruf-hurufnya
aku menyelipkan rindu
biar kau membacanya perlahan
seperti membuka pintu rumah sendiri
jika surat ini sampai padamu
tolong jangan dibalas
cukup simpan aku
di tempat paling sunyi dalam dadamu
.
Penulis: Alfiansyah Bayu Wardhana
Editor: Adnyana Ole



























