6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengapa Desain Tradisonal Kembali Populer?

Muhammad Syahrul Wafda by Muhammad Syahrul Wafda
January 12, 2026
in Esai
Mengapa Desain ‘User Interface’ Aplikasi Meditasi Selalu Bernuansa Pastel?

Muhammad Syahrul Wafda

Di tengah pesatnya arus visualmodern yang serba minimalis, desain tradisional justru kembali mencuri perhatian. Kita dapat menemuinya seperti motif batik muncul di brand streetwear, ilustrasi wayang menghiasi poster konser musik, aksara lokal digunakan pada kemasan kopi kekinian, hingga ornamen etnik tampil percaya diri di feed insgatam anak muda.

Fenomena ini menjadi menarik, sebab desain tradisional sempat dianggap kuno, berat dan tidak relevan dengan selera generasi digital. Namun kini hadir kembali bukan sebagai nostalgia semata, melainkan sebagai bahasa visual yang baru. Tentu ini menjadi sebuah pertanyaan, mengapa desain tradisional kembali populer di era yang begitu modern dan serba cepat?

Kejenuhan Visual Modern

Salah satu jawabannya bisa terletak pada kejenuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, kita hidup di tengah visual yang nyaris seragam. Font sans serif yang mirip satu sama lain, palet warna netral, layout bersih dengan ruang kosong berlimpah, serta gaya minimalis yang diulang terus-menerus.

Gaya tersebut sering disebut dengan flat design. Flat Design merupakan gaya desain yang menonjolkan aspek pendekatan karakter minimalism (kesederhanaan), usefulness (kegunaan), dan cleanliness (kerapian) (Yasa, dkk. (2022:221). Sehingga dapat dikatakan bahwa desain yang dihasilkan nantinya akan terkesan sederhana dengan tampilan yang datar. Desain seperti itu memang fungsional dan efisien, tetapi pada titik tertentu ia kehilangan keunikan.

Di media sosial, kejenuhan mulai terasa. Saat kita scrolling layar handphone, banyak sekali kita jumpai konten visual hadir dengan gaya yang hampir sama. Di sinilah desain tradisonal menawarkan sesuatu yang berbeda. Membawa kesan detail, tekstur dan keberagaman akan bentuk, sehingga terasa “ramai” dan disitulah muncul daya tariknya. Desain tradisional menjadi semacam gerakan dari seorang desainer untuk menciptakan tren terhadap jenuhnya visual yang terlalu flat dan homogen.

Desain Tradisional sebagai Pembawa Cerita

Kalau coba kita amati kebanyakan desain modern beorientasi pada fungsi dan estetika semata, sedangkan desain tradisional bisa membawa cerita disitu. Seperti motif batik, ukiran atau ilustrasi tradisional tidak lahir dari ruang kosong. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai dan filosofi yang dapat diwariskan lintas generasi.

Di era komunikasi visual saat ini, audience mulai tertarik dengan makna di baliknya. Tidak lagi hanya mementingkan pada tampilan yang indah. Kita hidup di zaman di mana storytelling bisa menjadi point kunci. Definisi storytelling itu sendiri merupakan seni menggambarkan peristiwa nyata atau nonfiksi menggunakan gambar atau suara, termasuk pengalaman pribadi dan pembelajaran hidup (Oliver, 2008). Desain tradisional menawarkan narasi yang autentik, sesuatu yang tidak bisa direplikasi oleh template desain global. Karena dari setiap visual memiliki cerita yang terasa lebih manusiawi dan bermakna.

Identitas di Tengah Arus Globalisasi

Hal ini berkaitan juga dengan popularitas desain tradisonal sebagai bentuk pencarian identitas. Globalisasi membuat batas budaya semakin kabur. Mulai dari brand, produk, bahkan gaya hidup sering kali terlihat serupa, tak peduli berasal dari negara mana. Dalam situasi ini, desain tradisional hadir sebagai penanda identitas visual yang membedakan. Seperti contoh brand lokal sepatu Aerostreet yang kolaborasi dengan “Wonderful Indonesia”, membuat sepatu dengan motif ukiran dan batik di Indonesia.

Bagi banyak kreator dan brand lokal, penggunaan elemen tradisional bukan sekadar pilihan estetika, melainkan pernyataan sikap. Ia menjadi cara untuk mengatakan bahwa modernitas tidak harus menghapus akar budaya. Justru, nilai lokal bisa menjadi kekuatan di tengah pasar global yang kompetitif.

Peran Generasi Muda dan Media Sosial

Salah satu poin menariknya, kebangkitan desain tradisional justru banyak dipelopori oleh generasi muda. Generasi ini yang lahir dan tumbuh di era digital justru tidak melihat tradisi ini sebagai sesuatu yang sakral dan kaku. Mereka berani mencoba berkreasi, memadukan dan mendistorsi visual tradisional agar sesuai dengan konteks zaman. Seperti beberapa brand lokal yang menggunakan model anak muda sebagai bentuk kampanyenya, seperti contoh dari brand Bateeq yang membuat pakaian bermotif batik untuk Laki-laki dan perempuan.

Tentu ini memberi citra bahwa anak muda tetap bisa tampil stylish walaupun menggunakan batik. Ditambah lagi adanya media sosial dapat dijadikan ruang promosi yang masif. Karena penggunanya didominasi oleh generasi muda, hal ini dapat secara tidak sadar dapat meng-       influence mereka untuk melihat bagaimana desain tradisional yang direinterpretasi menjadi gaya baru. Hasil ini tidak hanya sekedar “kembali ke masa lalu”, melainkan dialog antartradisi dan modernitas.

Tradisi yang Fleksibel dan Adaptif

Stigma tentang desain tradisional yang terkesan kaku dan tidak fleksibel perlahan mulai hilang. Justru sebaliknya, desain terbukti bisa adaptif. Ia bisa hidup di berbagai medium, salah satunya dalam ranah fashion.

Ketika ditempatkan dan dikonsep secara matang, visual tradisional mampu berbicara dengan bahasa zaman sekarang. Di sini letak kekuatannya, tradisi tidak harus dibekukan untuk dilestarikan. Ia bisa bergerak, berubah dan beradaptasi tanpa kehilangan esensi. Desain tradisional yang kembali populer hari ini adalah desain yang berani bernegosiasi dengan zaman.

Lebih dari Sekadar Tren Estetika

Kepopuleran desain tradisional bukan hanya masalah selera visual; itu adalah ekspresi dari keresahan, pencarian makna, dan kebutuhan akan identitas di dunia yang serba cepat. Dirancang untuk berfungsi sebagai alat untuk komunikasi sosial dan budaya, bukan hanya sebagai hiasan.

Ketika desain tradisional digunakan secara sadar dan kontekstual, ia bisa menjadi agen perubahan. Ia mengajak kita untuk melihat kembali akar budaya, menghargai proses dan memahami bahwa visual memiliki kekuatan untuk membentuk cara pandang.

Kesimpulan

Popularitas desain tradisional saat ini menunjukan satu hal yang penting; masa depan desain bukan soal memilih antara modern atau tradisional. Keduanya tidak harus saling meniadakan. Justru, kekuatan desain terletak pada dialog antara masa lalu dan masa kini, antara lokal dan global.

Desain tradisional kembali populer karena ia mampu beradaptasi dan berbicara dengan bahasa visual zaman sekarang. Selama ia terus dimaknai, diolah dan dikontekstualkan, tradisi tidak akan pernah benar-benar usang. Ia hanya menunggu untuk dibaca ulang dengan cara yang baru. [T]

Penulis: Muhammad Syahrul Wafda
Editor: Adnyana Ole

Tags: desaindesain tradisionalSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Golden Hibernation, Sonic: Re-Listening and Re-activating the Sleeping Narrative

Next Post

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Muhammad Syahrul Wafda

Muhammad Syahrul Wafda

Mahasiswa Prodi S2 Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN SAIZU Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

ARMA 2026: Menjaga Taksu di Antara Deru Digital

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co