SERAT Gatholoco menjadi sesuatu yang kontroversial di dunia spiritual. Bukan hanya isinya. Gambaran fisik siapa sosok Gatholoco (ada pula yang menulis Gatholotjo) dan siapa di balik serat atau karya tulis yang lahir abad ke-18 ini juga masih diperdebatkan hingga kini. Serat yang berisi suluk atau tembang ini pernah dilarang beredar di zaman kolonial, Orde Lama, hingga Orde Baru.
Gatholoco merupakan sosok atau tokoh dalam suluk khazanah sastra Jawa klasik yang kontroversial dan dianggap anti Islam. Perdebatan dalam suluk Gatholoco berkisar soal namanya, masalah ilmu, keilaihan, Islam, alam semesta, dan sebagainya. Namun guru besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, Damardjati Supadjar, sebagaimana dikutip pustakaindigo.com (2017) mengungkapkan, serat Gatholoco ini adalah bentuk sastra peralihan dari masa Majapahit ke masa Islam.
Menurut Damardjati Supadjar, suasana waktu itu menggambarkan betapa banyak orang mengagungkan syariat, namun ia tidak setuju jika suluk itu dianggap sebagai sindiran bagi umat Islam. Bagi Damardjati, suluk Gatholoco adalah pepenget (pengingat) bagi mereka yang mengagungkan syariat.
Semestinya tidak berhenti di situ. Sesudah syariat yang informatif, masih ada bentuk lebih lanjut, yaitu tarekat yang transformatif, hakikat yang konformatif hingga akhirnya berpuncak pada makrifat yang iluminatif, yang mencerahkan. Dalam istilah Jawa, Jiwa kang Kajawi mencakup syariat, tarekat, hakikat dan makrifat. Hal ini juga sejalan dengan serat Wedhatama yang mengulas sembah raga, cipta, jiwa dan rasa.
Unsur mistik dan dipenuhi narasi vulgar dan seksual membuat serat Gatholoco menuai banyak kecaman. Carel Poensen, seorang misionaris Belanda pada tahun 1872 menyebut serat Gatholoco dari sudut pandang sastra, karya ini kurang berharga. Tetapi menilik dari semangatnya, penulis karya itu menyodorkan konsepsi terkait akhlak dan kebajikan, yang sayangnya disampaikan tanpa kearifan dan kesopanan.
Tentang siapa penulis serat Gatholoco hingga kini masih menjadi misteri. Banyak yang menyebut sebagai karya anonim. Namun ada pula yang beranggapan serat itu karya Soerjanagara, ada yang menyebut Raden Ngabehi Ronggowarsito, dan ada pula yang mengatakan karya seorang bangsawan tinggi di Kediri.
Lantas siapakah Gatholoco itu? Dalam tafsir Gatholoco yang ditulis oleh Joko Su’ud Sukahar (1999), sosok Gatholoco digambarkan sebagai manusia yang jelek rupa dan bertabiat tercela. Manusia ini mengaku sebagai lelanange jagad yang konotatif. Menyebut diri sebagai lelaki yang mumpuni. Menantang siapa saja yang ditemui. Mengajak berdiskusi maupun berkelahi.
Figur Gatholoco dianggap luar biasa. Pandai bicara, pandai berfilsafat. Pandai mengolok-olok, juga pandai memprediksi. Dengan kemampuannya yang seperti itu, para lawan Gatholoco mengakui kehebatannya. Namun lantaran sikapnya yang arogan membuat orang lain tak pernah menghargainya. Kehadiran Gatholoco selalu dihindari. Siapa pun enggan bertemu, takut bermasalah dengannya.
Tak Melulu Soal Agama
Gatholoco memang selalu ingin berdebat tentang agama, ketuhanan, dan kehidupan di mana pun dan kepada siapa pun yang ia temui dalam pengembaraannya. Ketika dituduh telah merusak agama oleh seorang penyabit rumput, Gatholoco tidak terima. Ia mengatakan, agama tidak bisa dirusak. Sudah ditakdirkan Hyang Widi, agama adalah agemaning aji. Namun kalau hanya dimasukkan lisan, itu yang sanggup merusak agama. Sama dengan jika makan dimasukkan dubur. Itu tetap namanya manusia yang merusak agama ( Sukahar, 1999:24).
Selanjutnya Gatholoco bertutur, agama itu bebas. Sesuka orang hidup. Biar agama Cina, jika tulus lahir batin, sungguh akan diterima. Agamaku yang suci, yaitu agama rasa. Agama yang menuruti perasaan yang dirasakan hati. Rasa badan dan lisan. Rasanya manis gurih, pedas, asin, masam, kecut. Pahit dan getir. Semua.
Ketika berdebat dengan seorang kiai, Gatholoco pun menguraikan tentang doa. Menurut Gatholoco, di dunia ini jangan cuma melafalkan sesuatu. Komat-kamit berdoa. Semua itu hanya lafal. Di dunia harus mengetahui asal manusia, hidup sampai mati.
Dalam pengelanaannya, Gatholoco berhasil mendapatkan banyak murid. Tak melulu soal agama, Gatholoco juga mengingatkan tentang keselamatan hidup. Jika berharap selamat, maka jangan semaunya dan sewenang-wenang. Yang seperti itu tidak baik. Jangan menghina-hina kepada sesama. Umat itu sama saja. Pandai, bodoh, baik, jelek, untung dan celaka, kuli, tani, putra putri tidak berbeda.
Nasihat demi nasihat meuluncur dari mulut Gatholoco di hadapan murid-muridnya. Sudah ditakdir oleh Allah, kata Gatholoco. Tidak bisa diubah, takdirnya sendiri-sendiri. Lebih baik menerima. Dan saat hidup ingatlah mati. Di dunia ini ingatlah. Jangan gampang curiga dan kikir. Setengah menyombongkan diri. Memelihara dengki. Senang berdusta dan memfitnah. Jahil serta iri, menipu dengan kasar dan halus; lebih-lebih senang menganiaya.
Memang tak melulu soal agama. Sisi humanis sempat dilontarkan Gatholoco. Menurutnya, jangan sekali-kali berlagak sok. Berwatak angkuh menuruti hawa nafsu. Jangan kenyang makan tidur. Nikmatilah secukupnya saja. Yang sabar dan tawakal, yang suka senyum dan jangan marah.
Sosok Gatholoco yang kontroversial, yang sering dikaitkan dengan mistik dan porno; terlontar pula sikap toleransi kepada orang lain. Menurut Gatholoco, orang harus menghargai sesama. Jangan membuat kebencian. Jangan membuat kecewa. Jangan membuat takut dan terkejut. Katanya itu termasuk najis dan haram. Gatholoco pun menegaskan, memakai pakaian dan makan yang sah, itu amalannya orang berilmu. Jangan sembarangan.
Luluh oleh Wanita
Gatholoco yang dinarasaikan sebagai sosok yang buruk rupa, kurus dekil, senang berdebat, ngeyel, petantang-petenteng, galak, dan keras kepala akhirnya luluh juga oleh wanita. Hal itu terjadi ketika ia berada di Cemarajamus, di Gua Siluman yang dihuni para wanita cantik. Gatholoco menantang para wanita untuk berdebat tentang apa saja.
Saat ditanya oleh salah satu wanita di Cemarajamus tentang iman, budi, kukuatan, tentang bumi dan langit, kaya dan miskin, dan wanita; Gatholotjo dengan santai menjawabnya. Tempat iman itu ada di jantung, katanya. Otak adalah tempatnya budi. Otot tempat kekuatan, dan tempatnya malu ada di mata. Di dunia ini yang lebih pahit adalah untungnya orang yang melarat; yang lebih manis untungnya orang yang kaya.
Menurut Gatholoco, yang luas melebihi bumi adalah penglihatan. Tajam melebihi senjata itu nalarnya orang pandai. Yang dingin melebihi air maksudnya hati yang sabar. Lebih keras dari batu adalah hatinya orang yang dangkal pikirannya. Hatinya orang yang gampang marah, panasnya melebihi api.
Tentang pertanyaan pria dan wanita serta budi, Gatholoco menjawab bahwa pria dan wanita lebih banyak wanitanya. Meskipun berujud pria, tidak tahu maksudnya wanita. Itu juga bisa disebut buta wanita. Orang hidup dan orang mati sesungguhnya banyak yang mati. Meskipun wujudnya hidup, kalau orang tanpa budi, itu sama saja seperti orang mati. Orang kaya dan nista pasti banyak yang nista. Meski kaya harta benda, tapi bodoh tanpa budi dan tanpa nalar boleh disebut orang nista.
Lantaran semua pertanyaan para wanita di Cemarajamus mampu dijawab Gatholoco, mereka pun menyerah. Sesuai perjanjian, mereka dengan rela menjadi istri Gatholoco. Hatinya berbunga. Setelah Gatholoco memperistri para wanita itu, kecongkakannya tiba-tiba meredup. Ia luluh oleh para wanita. Gatholoco tiba-tiba meredup, seperti lampu tempel yang kehabisan minyak, bak lilin yang telah mencair (Sukahar, 1999:68).
Begitu juga kekasarannya. Gerak fisiknya tak lagi layaknya Bratasena yang marah atau Wisanggeni yang mengejek para dewa. Sikap itu terpoles akal budi, dan berubah menjadi kewibawaan. Arogansi pernyataan Gatholoco berubah menjadi kearifan. Penuh budi luhur. Tutur katanya lembut dan menyejukkan.
Nasihat Gatholoco kepada para istrinya begitu santun. Dia berpesan, jika berbicara atur tutur kata, dan sampaikan dengan mulut manis. Kabar yang dibawa harus kabar baik, agar hati yang mendengar senang dan lega. Jangan bicara jelek, atau senang membicarakan kejelekan orang lain. Yang demikian itu tabiat buruk dan dibenci banyak orang.
Gatholoco memang telah luluh oleh wanita. Namun mendengar semua nasihat itu, para istri Gatholoco menunduk. Mereka meresapi kata-kata itu. Mendengarkan melalui telinga kiri, masuk menjadi pepundi. Mendengarkan melalui telinga kanan, menyelusup dalam otak menjadi penalaran.
Serat Gatholoco tentu saja hanya sebuah karya yang entah siapa penulisnya. Meski ada yang menyebutnya sebagai karya sastra. Isinya menuai kontroversi, pro dan kontra. Sosoknya banyak dibenci orang. Namun tidak sedikit yang menyukainya. Gatholoco muncul di masa silam. Kalau pun hendak ditarik dalam konteks kekinian, entah siapa dia. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole


























