— Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Januari 2026
“Kira-kira Gubernur Bali setuju perubahan hari Nyepi yang menjadi polemik sekarang?”
Budi — sahabat dari masa remaja — datang pagi-pagi. Bukannya membawa kabar santai, malah membawa pertanyaan aneh. Setelah saya seduhkan kopi saya jawab santai.
“Saya berasumsi gubernur Bali memahami napas pulau Bali yaitu desa adat pakraman. Pemahaman terhadap desa pakraman kuncinya adalah Awig-Awig Desa Adat Pakraman di seluruh Bali. Jika paham isi Awig-Awig Desa Pakraman di semua wilayah maka gubernur pasti tidak akan menerima ide tersebut.”
“Kenapa demikian?” kembali Budi bertanya.
Budi berhasil memancing. Saya jawab dengan serius:
“Awig-Awig Desa Adat umumnya berisi pasal atau aturan penyelenggaraan Bhuta Yadnya. Di dalamnya diatur TAWUR SASIH KASANGA. Di sana dengan jelas menyebutkan bahwa TAWUR KASANGA dilakukan pada HARI TILEM KASANGA. Tidak ada satupun desa pakraman di Bali yang saya baca awig-awignya menyebutkan Tawur Kasanga jatuh pada sehari sebelum Tilem.”
“Polemik sekarang adalah warisan masalah dari Parisada tahun 1960. Ketika itu Parisada mengadakan Pesamuan yang salah satu isinya mengubah tradisi kuno Tawur Kasanga dimajukan pelaksanaannya sehari. Jadi semenjak tahun 1960 sampai 1970 pernah Nyepi jatuh pada saat Tilem karena Tawur Kasanga dimajukan sehari. Pada tahun 1970 Parisada menyadari kesalahan hasil Pesamuan Agung 1960. Sadar akan kesalahan itu Parisada mengembalikan lagi tradisi Tawur Kasanga agar dilangsungkan seperti sedia kala yaitu Tawur pada Tilem, besoknya Nyepi. Parisada membuat kalender khusus tahun 1971 untuk memberikan tanggal-tanggal odalan bagi umat Hindu.”
“Karena di lapangan masih terjadi kesimpang siuran akibat hasil Pesamuan 1960, permasalahan ini tidak dengan mudah diluruskan. Parisada membuat seminar Kesatuan Tafsir tahun 1983 yang salah satu isinya menegaskan hasil Pesamuan Parisada tahun 1970, atau menegaskan bahwa Tawur Kasanga dilakukan pada hari Tilem dan diikuti Nyepi keesokan harinya sesuai dengan tradisi kuno sebelum tahun 1960.”
“Polemik sekarang muncul karena masyarakat awam tidak memahami apa yang terjadi di Pesamuan Agung Parisada tahun 1960 yang merubah tradisi kuno Tawur pada hari Tilem menjadi sehari sebelum Tilem. Jadi bukan Pesamuan Parisada 1983 yang mengubah tradisi hari Nyepi. Tapi Pesamuan 1960 yang pertama-tama merubah hari Tawur dan perayaan Nyepi. Pesamuan Parisada tahun 1970 dan Kesatuan Tafsir tahun 1983 justru mengembalikan tradisi Tawur yang memang jatuh pada Tilem sebagaimana dahulu kala.”
“Jika gubernur menyetujui Nyepi dirayakan pada hari Tilem, artinya saya salah.”
“Eh.. maksudmu kamu yang salah?” kejar Budi.
“Saya salah. Salah telah berasumsi jika gubernur Bali punya pemahaman komprehensif terhadap desa pakraman Bali dan sejarah Bali.”.
“Bagaimana jika gubernur merasa pemahamannya sudah komprehensif dan mendukung ide itu?” tanya Budi kembali.
“Jika gubernur paham desa-desa pakraman di Bali (sekarang tercatat terakhir ada 1.493 Desa Adat di Bali) yang telah memilik Awig dengan menyebutkan ketentuan TAWUR KASANGA jatuh pada hari Tilem Kasanga, dan sadar mau mengubah perayaan Nyepi jatuh pada hari Tilem, ini artinya gubernur Bali siap menanggung segala resiko untuk mengumpulkan semua Kelian Adat dan Krama seluruh Bali untuk merevisi Awig-Awig desa mereka.”
Budi kaget:
“Seken to? Sudah habis dibaca semua Awig-Awig Desa Adat Pakraman di Bali? Semua isinya TAWUR KASANGA jatuh pada HARI TILEM?”
Kami ketawa.
Semenjak saya dari kuliah S1 tahun tahun 1995, sambil iseng-iseng kuliah S2 dan S3, saya bolak-balik Buleleng dan Karangasem dll, mengumpulkan Awig-awig di berbagai desa. Obsesi saya mengumpulkan semua Awig-Awig Desa Pakraman di Bali mulai ketika saya belajar tata bahasa dan sor-singgih basa Bali, serta bagaimana format bahasa legal atau bahasa awig-awig dan sima yang mengatur odalan Pura-pura. Dari puluhan Awig-Awig dan Sima Desa kuno, termasuk Prasasti Bali Kuno, saya belajar mendalami urusan sosioliguitik dan instrumen legal kebudayaan Bali.
Budi tahu itu.
“Jadi begini Bud. Kalau gubernurnya yang mau menerima gagasan menjadikan Nyepi dirayakan pada hari Tilem, ini artinya sangat menarik. Kenapa menarik? Karena keputusan ini cukup gila. Artinya gubernur siap berhadapan dengan semua Awig-Awig yang menyatakan Tawur jatuh pada Tilem dan Nyepi sehari setelah Tilem Kasanga. Jika gubernur paham maka ia siap berhadap-hadapan dengan prajuru pakraman se-Bali.”
Dari semua arsip yang saya kumpulkan, dari era kerajaan Bali atau sebelum berdiri NKRI, berbagai desa-desa pakraman telah memilik Awig terkait Tawur Kasanga. Sebagian sudah tertulis dalam bentuk lontar, dan sebagian lagi ketentuan lisan tersebut diketik dan di era setelah kemerdekaan dikompilasi dengan format awig yang mirib antar satu desa pakraman dengan desa pakraman lainnya.
Sebelum kemerdekaan ada banyak desa-desa memiliki Awig-Awig tertulis dalam bentuk lontar dan telah “dipasupati” di Pura Desa atau Pura Bale Agung. Setelah kemerdekaan makin banyak diketik, tidak lagi dalam bentuk lontar. Baik lontar dan ketikannya disakralkan dengan disepakati secara adat di Pura Desa. Artinya awig-awig dikramatkan. Disakralkan. Jika krama dipaksa pindah hari Nyepi ke Tilem, artinya seluruh krama yang mensakralkan Awig-Awig diajak melanggar Awig-Awig yang mereka sakralkan.
Saya telah menunjukkan beberapa salinan Awig-Awig, pertama Desa Pakraman Besakih, dan berbagai desa tua lainnya. Ada belasan Awig-Awig yang terhitung tua yang ditulis di atas lontar telah saya dapatkan ketikan dan salinannya. Awig-awig dalam bentuk lontar itu pun telah diketik dan disalin dengan mesin ketik sebelum kemerdekaan.
Ada berbagai Awig (istilah yang lebih kunonya dalam Sima) yang saya sempat ikut baca lontarnya ditulis tahun 1864 Masehi. Sima Desa tahun 1864 masehi ini disetujui krama desa dan disakralkan pangempon pura, disahkan oleh Kerajaan Buleleng. Sima Desa ini dengan jelas menyatakan: “Tawur Kasanga jatuh pada hari Tilem dan besoknya sehari setelah Tawur diadakan Nyepi”. Ketentuan seperti ini merata di Bali di masanya.
Tawur Kasanga Besakih dari tahun 1189 Masehi sampai sekarang jatuhnya hari Tilem. Ini tercatat dalam lontar-lontar babad, seperti Babad Pasek dan Babad Bendesa Mas. Awig-Awig Desa Adat Besakih yang dipakai sekarang jelas-jelas menyatakan hal yang sama bahwa Tawur Kasanga dilakukan pada hari Tilem. Awig-Awig di seluruh Bali isinya serupa soal pengaturan Tawur Kasanga.

Si Budi ini memang kompor. Tidak mau terima begitu saja data-data sejarah yang sangat valid. Lantas ia bertanya lagi:
“Bagaimana jika gubernur dengan sadar mau merubah dan sudah bersiap dengan segala resikonya?”
Karena saya sudah bosan dengan pertanyaan Budi yang sering numpang ngopi di rumah saya. Saya pun akhirnya menjawab dengan ketus:
“Bud, sebenarnya saya terlalu sibuk berkomentar soal ini.”
“Jadi begini: Jika saja gubernur Bali dengan segala pertimbangan historis tersebut berani mengubah hari Nyepi menjadi Tilem dan siap bertentang dengan Awig-Awig dan Sima Desa kuno, artinya gubernurnya “kuang gae”. Kan banyak sekali pekerjaan di Bali seperti urusan sampah dll yang harus diberesin. Atau, jangan-jangan saya yang salah. Siapa tahu memang gubernur dan kelompok ahlinya telah dengan sangat matang memahami data historis dan siap menghadapi semua resiko yang akan dihadapi sebagai konsekuensi perubahan hari Nyepi ini. Jika gubernur dan para profesor anggota Pokli-nya siap dengan segala resiko, berarti mereka punya pertimbangan lebih dasyat, punya riset dan data yang lebih hebat dibandingkan data lontar awig-awig dan sima yang saya kumpulkan semenjak tahun 1995. Artinya agenda kebudayaannya sudah tersusun matang dan di luar nurul saya.”
Saya jelaskan dengan rinci jika di Pura Besakih setiap 10 tahun ada Tawur Panca Walikrama jatuh setiap Tilem Kesanga. Demikian juga dengan Tawur Agung Eka Dasa Rudra yang datang 100 tahun sekali dengan hari Tawur tepat Tilem Kasanga. Jadi bisa dibayangkan bagaimana lempas jika Nyepi jatuh saat Tilem dan di Besakih ada Panca Walikrama pada hari yang bersamaan. Di luar kawasan Besakih dilakukan Nyepi, sementara itu di Besakih hari dilakukan Tawur Agung? Bagaimana melakukan sinkronisasi dua peristiwa suci ini yang bertabrakan hari? Mana yang hendak digeser atau dinomor duakan?
Saya juga jelaskan berbagai lontar pedoman Tawur di Bali yang jelas-jelas menyebutkan Tawur Kasangan jatuh pada hari Tilem. Ya, lontar-lontar pedoman Tawur dan Caru yang mengatur hal tersebut.
Sahabat Budi berasal dari Buleleng. Kami bersekolah sama. Dari SMA sering memancing perdebatan di sekolah. Orangnya keren sekaligus menjengkelkan. Kebiasaan mancing-mancing dengan pertanyaan masih saja tetap tidak terobati.
“Bud, ente suud metakon nah. Ana sibuk gatine liu ada urusan lenan. Sing dot masi milu ngurusang keto-keto. Sing cocok milu komentar. Sepak terjang politisi kadang di luar perkiraan BMKG. Monto gen malu nah. Mulih ente. Sing perlu ente milu mikir urusan gubernur. Pemda Bali suba liu mesuang pis ngajih Pokli. Tulung gen kurnan ente ngutang luu. Aba luun ente uli Ubung ke Bleleng. Keweh soalne ngalih pengutangan luu di Badung.”
Budi ketawa dan pulang dengan celetukan khasnya: “Bangsat!” [T]


























