PUTRA tidak pernah membayangkan namanya akan disebut sebagai pemenang. Ketika pembawa acara mengucapkan “I Kadek Putra Pradyana”, pemuda asal Klungkung itu sempat terdiam sepersekian detik, memastikan apa yang ia dengar benar adanya. Sabtu siang, 27 Desember 2025, di Wantilan Pura Desa Padang Luwih, Badung, Putra dinobatkan sebagai Winner Pro Bali Ambassador 2025 sekaligus peraih Best Fan Vote. Di balik senyum yang ia tampilkan di atas panggung, ada rasa syukur, lega, dan kesadaran bahwa sejak hari itu, perjalanannya baru dimulai.
I Kadek Putra Pradyana lahir di Satra, Klungkung pada 26 September 2005. Usianya kini 20 tahun dan tengah menempuh pendidikan di Program Studi Keperawatan, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, semester tiga. Dalam kesehariannya, Putra dikenal aktif dan terbiasa membagi waktu antara perkuliahan, organisasi, serta berbagai kegiatan pengembangan diri. Namun hari itu, ia berdiri di hadapan publik dengan peran baru sebagai representasi generasi muda.
Pro Bali Ambassador sendiri bukanlah ajang biasa. Ajang ini telah diselenggarakan secara konsisten setiap tahun sejak 2016. Pro Bali Ambassador dibentuk atas inisiasi Yayasan Ria Asteria Mahawidia dengan tujuan memilih putra-putri terbaik Bali untuk melanjutkan perjuangan ‘berkarya, berbagi, dan menginspirasi’. Seluruh nilai tersebut dirancang sejalan dengan visi dan misi Provinsi Bali.
Pada perhelatan tahun 2025, Pro Bali Ambassador mengusung tema “Connecting The Sparks of Creativity to Endless Inspiration”. Tema ini menegaskan pentingnya kreativitas sebagai percikan awal yang mampu melahirkan inspirasi berkelanjutan.

Sebelum mencapai hari puncak, seluruh finalis telah melewati tujuh tahapan seleksi. Proses dimulai dari tes pengetahuan umum, wawancara, pra-karantina, outbound, karantina, hingga akhirnya grand final. Setiap tahap dirancang untuk menguji pengetahuan, karakter, kepemimpinan, serta kepekaan sosial para peserta.
Bagi Putra Pradyana sendiri, keberhasilan ini bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Hari kemenangan itu terasa seperti kejutan yang datang bersama tanggung jawab besar. Rasa syukur menjadi emosi pertama yang ia rasakan. “Saya sangat bersyukur bisa diberikan kepercayaan dan tanggung jawab sebagai winner Pro Bali Ambassador,” ujarnya. Kalimat itu ia ucapkan dengan kesadaran bahwa pencapaian tersebut lahir dari proses panjang, bukan kebetulan.
Putra mengakui bahwa jalan menuju titik ini tidak mudah. Setiap tahapan seleksi menghadirkan tantangan yang menguras energi dan fokus. Namun dari situ pula ia belajar memaknai proses. “Sebuah pedang yang tajam tidak akan tercipta jika tidak ditempa berkali-kali,” katanya. Prinsip itu menjadi pegangan Putra sejak awal, bahkan ketika kelelahan dan keraguan datang.

Ketertarikan Putra mengikuti ajang Pro Bali Ambassador bermula dari melihat unggahan media sosial tentang berbagai social project yang dijalankan para duta sebelumnya. Dari sana, ia melihat ruang yang sesuai dengan nilai yang ia yakini. “Saya memang menyukai aksi sosial dan terjun langsung ke lapangan,” tuturnya. Keinginan bergabung pun lahir bukan karena ambisi personal semata, melainkan dorongan untuk terlibat dalam kerja nyata.
Pilihan tersebut merupakan kelanjutan dari perjalanan yang telah ia mulai sejak SMA. Putra pernah mengikuti ajang Duta GenRe (Generasi Berencana) di tingkat kabupaten dan provinsi. Pengalaman itu mempertemukannya dengan isu-isu remaja, kependudukan, dan sosial, sekaligus melatihnya untuk berbicara di ruang publik. Baru-baru ini, ia juga mengikuti ajang Jegeg Bagus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, yang semakin mengasah keterampilan dan kepercayaan dirinya.
Selama mengikuti rangkaian pemilihan Pro Bali Ambassador, Putra mengatakan banyak menyimpan momen berkesan. Menurutnya, setiap tahap membawa dinamika tersendiri, mulai dari kelelahan fisik hingga pembelajaran tentang empati dan kerja sama. Namun satu momen paling membekas baginya terjadi saat tes bakat. “Puisi ‘Seda ning Taru Poleng’ yang saya bawakan adalah bentuk aspirasi dan respon saya terhadap berbagai problematika yang terjadi sekarang ini,” jelasnya.
Melalui puisi tersebut, Putra menyuarakan tragedi banjir di Sumatra akibat penebangan hutan liar. Ia menjadikan panggung sebagai ruang refleksi atas persoalan lingkungan yang dampaknya melampaui batas wilayah. Pesan yang disampaikan bukan sekadar artistik, tetapi juga politis dan ekologis, mencerminkan pandangan Putra tentang peran duta sebagai penyambung suara masyarakat.

Ketika grand final usai dan namanya resmi diumumkan sebagai pemenang, Putra tidak memaknainya sebagai akhir. Baginya, justru di situlah perjalanan dimulai. “Grand final ini adalah langkah awal bagi saya untuk memulai kisah di Pro Bali Ambassador,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Putra telah menyiapkan social project yang akan direalisasikan langsung ke lapangan. Program tersebut dirancang agar menyentuh masyarakat secara langsung dan berkelanjutan. “Kami ingin benar-benar turun dan bekerja,” ucapnya. Bagi Putra, gelar duta hanya akan bermakna jika diiringi aksi nyata.
Di luar perannya sebagai winner, Putra tetap menjalani keseharian sebagai mahasiswa semester tiga Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ia aktif di organisasi BEM FK Unud, terlibat dalam berbagai kepanitiaan, serta mengikuti sejumlah ajang perlombaan. Ritme tersebut menuntut kedisiplinan tinggi dan kemampuan mengelola waktu yang baik.
Ketika ditanya mengenai rencana mengikuti ajang lain, Putra memilih tidak terburu-buru. Ia merasa perlu memberi ruang bagi dirinya sendiri setelah melalui proses panjang. “Untuk saat ini saya ingin rehat sejenak,” katanya. Keputusan itu ia ambil dengan kesadaran bahwa jeda juga bagian dari perjalanan.

Dalam menjalani prosesnya, Putra memegang satu lirik lagu dari Hindia sebagai pengingat. “Hidup bukan saling mendahului, bermimpilah sendiri-sendiri”. Penggalan lirik tersebut merangkum cara pandangnya tentang mimpi dan kegagalan, bahwa hidup bukan soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang terus berjalan.
Kini, sebagai Winner Pro Bali Ambassador 2025, I Kadek Putra Pradyana memikul peran sebagai wajah muda Bali yang diharapkan mampu menginspirasi. Dari Klungkung, dari bangku kuliah keperawatan, hingga panggung pageant, Putra melangkah dengan kesadaran bahwa gelar hanyalah awal. Yang terpenting adalah bagaimana menjaga komitmen, menghadirkan dampak, dan terus mengubah percikan kreativitas menjadi inspirasi berkelanjutan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole



























