— Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Desember 2025
Tawur Kasanga berdasar tradisi kuno dilakukan pada hari Tilem Kasanga. Besoknya, penanggal apisan, sasih sasih kedasa, dilakukan Brata Penyepian — berdasarkan lontar Aji Swamandala dan lontar Panugrahan Bhatara Durgha ring Sri Jaya Kasunu (dikenal sebagai lontar Sri Jaya Kasunu) yang menjadi pedoman tradisi Tawur di Parahyangan Besakih.
- Pesamuan Agung II (9 Maret 1960):
Diadakan di Balai Masyarakat Denpasar, pesamuan menetapkan bahwa berdasarkan lontar Sundarigama, Nyepi jatuh tepat pada Tilem Kesanga. Upacara Bhuta Yadnya (Pangerupukan) dilakukan sehari sebelumnya, dan Ngembak dilakukan sehari setelahnya.
- Perubahan Tradisi (1960–1982):
Selama periode ini 1960–1982, pelaksanaan Nyepi mengikuti “tafsir baru” tersebut, yang berbeda dari tradisi kuno.
- Seminar Kesatuan Tafsir (13 Januari 1983):
Keputusan tahun 1960 tersebut direvisi kembali dalam ‘Seminar Kesatuan Tafsir Denpasar’, 13 Januari 1983. Hasil seminar ini kemudian diterbitkan sebagai HIMPUNAN KEPUTUSAN SEMINAR KESATUAN TAFSIR TERHADAP ASPEK-ASPEK AGAMA HINDU I–IX oleh PHDI Pusat tertanggal 27 Januari 1983. Pelaksanaan Nyepi dikembalikan ke tradisi lama.
Nyepi sekarang dirayakan seperti sediakala, telah sesuai tradisi kuno, yaitu: Tawur Kesanga dilaksanakan pada hari Tilem, dan Nyepi dilaksanakan sehari setelah Tilem (Pananggal Apisan Sasih Kedasa).
Perubahan pada Pesamuan Agung II (9 Maret 1960) dinilai lemah karena hanya berdasarkan tafsir satu sumber (Lontar Sundarigama) yang secara linguistik dan isi tergolong literatur baru, sehingga diputuskan untuk kembali ke akar tradisi yang lebih tua. Lontar inipun bukan lontar pedoman Tawur yang dipakai dalam tradisi Parahyangan Besakih sebagaimana lontar Aji Swamandala dan lontar Sri Jaya Kasunu. [T]


























