MENUTUP tahun 2025, duka melanda bangsa Indonesia. Beragam bencana terjadi di berbagai daerah. Puncaknya, banjir dan tanah longsor di Pulau Sumatra. Ada yang menyebut ini musibah. Ada pula yang menganggap bencana hidrometeorologi ini akibat ulah manusia yang merusak lingkungan.
Dunia ilmu pengetahuan mungkin mampu menjelaskan. Sisi religiusitas juga punya alasan. Namun ruang tradisional juga punya cerita tentang ini semua. Dalam dunia pewayangan, khususnya di Jawa; semua bencana adalah gonjang-ganjing semesta. Bisa berupa gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, gunung meletus, dan hutan gundul. Gonjang-ganjing juga dapat berupa kekacauan sosial, ekonomi, dan politik, seperti kriminalitas, korupsi, kelaparan, pengangguran, maupun konflik politik.
Mungkin ahistoris, tidak rasional, dan terdengar kuno. Tetapi dunia pewayangan sering banyak memberikan perspektif sesuai zaman. Mengandung nilai yang dipercaya dan dipedomani sebagai rujukan perilaku dari waktu ke waktu. Bahkan dunia pewayangan dapat memberikan prediksi lewat tanda-tanda alam dan munculnya tokoh-tokoh di balik gejolak semesta.
Adalah suluk (nyanyian) seorang dalang yang menggambarkan bakal terjadinya gonjang-ganjing atau ontran-ontran dalam kehidupan manusia dan semesta. Suluk dalang bisa beragam; yang paling sering diingat penonton wayang adalah yang berbunyi:“Bumi gonjang ganjing langit kelap-kelip, katon lir kincanging alis risang maweh gandrung, sabarang kadulu wukir moyag-mayig, saking tyas baliwur lumaris anggandrung, Dhuh Sang Ri Sumitra, tanlyan paran reh kabeh sining wana, nangsaya maringsun”.
Arti suluk tersebut adalah: “Bumi bergerak-gerak (gempa), langit gelap kilat menyambar-nyambar, tampak seperti gerak alis orang yang sedang kasmaran, semua yang terlihat seperti gunung yang bergoyang-goyang , dari hati yang kacau ia pun berjalan memikat, Dhuh Sang Adi Sumitra, tiada yang lain, mengapa semua isi hutan, menganiaya pada diriku”
Menyimak suluk tersebut, gambaran semesta itu tampaknya berlaku sepanjang zaman. Selalu kontekstual untuk kekinian. Gonjang-ganjing bumi Indonesia nyaris terjadi setiap tahun. Bencana demi bencana silih berganti. Ada yang memang karena faktor alam, namun tidak jarang pula bencana yang datang karena ulah manusia.
Gonjang-ganjing bukan semata banjir bandang dan hutan yang gundul. Dalam ruang sosial, ekonomi, dan politik juga muncul berbagai kasus yang menimbulkan gonjang-ganjing. Korupsi ratusan triliun rupiah, pajak yang mencekik rakyat, dan harga sembako yang terus melonjak naik juga dapat menyebabkan gonjang-ganjing. Belum lagi persoalan ijazah mantan presiden yang tak kunjung tuntas menyebabkan gonjang-ganjing politik.
Pertanda Gonjang-Ganjing
Banyak faktor yang dapat menjadi pertanda gonjang-ganjing. Ramalan akan terjadinya gonjang-ganjing atau ontran-ontran juga sudah disampaikan Sri Aji Joyoboyo atau Prabu Jayabaya jauh sebelum Indonesia merdeka. Beliau dikenal sebagai Raja Kediri yang berkuasa sekitar tahun 1135 hingga 1159. Prabu Jayabaya banyak membuat ramalan tentang kehidupan masyarakat Nusantara.
Ramalan Prabu Jayabaya lebih banyak menyoroti kehidupan sosial, ekonomi, dan politik saat itu. Pertanda gonjang-ganjing dapat dilihat dari pembagian maupun perebutan kekuasaan. Sejarah berbagai negara senantiasa diwarnai dengan kegaduhan politik yang bersumber dari perebutan kekuasaan. Pemilu yang digadang-gadang sebagai jalan keluar untuk memilih pemimpin secara demokratis pun acapkali menimbulkan keributan. Pihak yang kalah tidak mau mengakui kekalahannya, pihak yang menang merasa jumawa atas kemenangannya.
Pembagian kekuasaan juga dapat memicu gonjang ganjing atau ontran-ontran. Hal ini terjadi ketika penguasa memilih orang-orang yang dekat dengan dirinya untuk duduk dalam pemerintahan. Sementara orang yang tak sepaham akan dijauhkan dari kekuasaan. Modal kejujuran semata tidak cukup bagi orang untuk mendapat jatah kekuasaan. Hal itu pernah dikatakan oleh Jayabaya dengan ungkapan “sing ciluka mulya, sing jujur kojur”. Artinya yang salah mulia, yang jujur hancur (Chusmeru,2024).
Perebutan sumber daya alam dapat pula memicu keonaran. Indonesia merupakan negara yang memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah. Jika dikelola dengan baik, dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat tentu akan membuat Indonesia sebagai negara yang gemah ripah loh jinawi.
Namun bila sumber daya alam itu hanya dikelola oleh penguasa dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang dekat dengan kekuasaan, maka gonjang-ganjing akan terjadi. Dan fenomena itu kini mendekati datangnya tanda-tanda kegaduhan. Hutan gundul dan banjir bandang yang melanda berbagai daerah diduga lantaran pengelolaan sumber daya alam yang serakah dan tak berpihak kepada kemakmuran rakyat.
Sumber daya alam di darat, laut, dan udara diperebutkan. Tanah milik rakyat diserobot untuk kepentingan bisnis. Kasus tambang ilegal juga mewarnai persoalan sumber daya alam di Indonesia. Ada tambang ilegal yang memang dilakukan oleh masyarakat lantaran ingin merasakan nikmat ekonomis dari kekayaan alam tanpa harus ada izin. Namun ada pula tambang ilegal yang dilakukan oleh pengusaha yang dibekingi oleh oknum penguasa.
Pertanda gonjang-ganjing juga dapat terlihat dari munculnya orang-orang yang haus pada harta dan kekayaan. Orang tidak cukup mendapatkan kekuasaan belaka. Namun kekuasaan itu akan digunakan untuk menumpuk harta dan kekayaan. Jangan heran jika penjara saat ini banyak dihuni oleh para pejabat dan elit politik. Kegaduhan pun terjadi. Bukan hanya di dunia nyata; gonjang-ganjing juga terjadi di dunia maya lewat media sosial tentang perilaku korup oknum penguasa.
Tokoh yang Rakus dan Merusak Alam
Tokoh dalam pewayangan ibarat artis peran, ada yang protagonis, ada pula yang antagonis. Begitu pun dalam kehidupan nyata, sangat mudah ditemui orang-orang dengan perangai baik dan bijak, ada pula yang rakus dan bengis. Dalam pewayangan banyak dikenal tokoh yang yang rakus dan merusak alam.
Tokoh rakus dan merusak alam sering dikaitkan dengan sosok antagonis pewayangan yang ada di Kurawa. Tokoh yang melambangkan keburukan sifat dan perilaku misalnya tergambar pada Duryudana, Dursasana, Rahwana, Sengkuni, Buta Cakil, dan raksasa lainnya yang ada di Kurawa. Mereka semua berkontribusi terhadap terjadinya gonjang-ganjing di muka bumi.
Duryudana dan Dursasana sering digambarkan memiliki sifat serakah, kejam, dan tidak bermoral. Kekuasaan yang mereka miliki bukan untuk melindungi dan menyejahterakan rakyatnya. Tindakan mereka didorong oleh nafsu kekuasaan dan kerakusan yang dapat disamakan dengan eksploitasi sumber daya alam secara membabi buta di dunia nyata.
Rahwana secara eksplisit mungkin tidak digambarkan sebagai perusak alam dan lingkungan sebagaimana Buta Cakil dan para raksasa. Namun kasus penculikan terhadap Sinta dalam epos Ramayana telah mengakibatkan gonjang-ganjing, peperangan, dan kerusakan terhadap lingkungan. Kasus Rahwana dan Sinta menggambarkan betapa sifat nafsu dan angkara murka dapat menimbulkan kekacauan.
Tokoh pewayangan yang sering dikaitkan dengan gonjang-ganjing, ontran-ontran, dan kekacauan adalah Sengkuni. Tokoh antagonis dari Kurawa ini dikenal sebagai provokator ulung yang licik. Nyaris di setiap konflik antara Kurawa dan Pendawa adalah hasil hasutan Sengkuni. Selain licik, Sengkuni juga dikenal sebagai penjilat pada kekuasaan. Hal ini membuat penguasa sulit membedakan antara pujian, jebakan, dan hasutan yang dilontarkan Sengkuni.
Sebetulnya Kurawa banyak memiliki penasihat yang mencegah terjadinya gonjang-ganjing, seperti Togog salah satunya. Togog digambarkan sebagai sosok yang berparas jelek dan bermulut lebar. Namun Togog kerap mendapat stigma penasihat Kurawa yang gagal. Padahal sesungguhnya para elite Kurawa yang berperilaku buruk itu memang tidak pernah mau mengikuti nasihat Togog. Selain itu, nasihat Togog yang baik untuk Kurawa sering kalah pengaruh dengan hasutan Sengkuni yang lebih dipercaya.
Beda dengan punakawan Semar di pihak Pendawa yang nasihatnya selalu didengar para raja. Karena elite Pendawa memang memiliki itikad baik untuk selalu melindungi dan menyejahterakan rakyatnya, sehingga mereka bersedia mendengar nasihat Semar sebagai representasi suara rakyat kecil.
Gonjang-ganjing dan kerusakan alam bukan hanya datang dari tokoh antagonis Kurawa. Tokoh Pendawa seperti Prabu Kresna, Yudistira, dan Arjuna juga sempat melakukan tindakan yang menyebabkan gonjang-ganjing. Ketika mereka marah atas ulah elite Kurawa, mereka melakukan tiwikrama, bertransformasi menjadi raksasa yang mengamuk dan menimbulkan kerusakan. Simboliknya, ketika orang baik tersakiti, ketika rakyat yang tak berdaya teraniaya, mereka dapat bertransformasi menjadi satu kekuatan yang dapat menghancurkan kekuasaan.
Dunia dan kehidupan ini memang bukan pentas pewayangan. Namun banyak orang dan perilakunya yang menyerupai tokoh dalam wayang. Semua berharap tahun 2026 gonjang-ganjing, hutan gundul, dan banjir bandang tak lagi terjadi. Sambil berharap “Sang Dalang” kehidupan menyajikan lakon teduh bagi semesta. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole


























