Ampar yang Meninggi
di kampung petani
aku sebiji padi
yang menemui puisi
di celah tanah
yang berdegup
dan mengecambah
dari ampar yang meninggi
kusembahkan berbiji
biji
untuk mengisi lumbung padi
di dada petani
dan di gubuk
tanpa traktak bambu
aku melihatmu tersenyum
menghitung musim yang silih berganti
dengan kuku jari
yang telah digunting presisi
sebelum puisi
Usia Arak Beras
beningbeningmu
dalam gelas
makin tua
makin berasa
ditenggak kembali
hangat tubuh lagi
hilang lelah
hilang marah
arak beras
yang segelas
menjadi puisi
sampai larut
kita bagi
oh. usiaku arak beras
di dalam gelasmu
makin tua makin pahit
bandingku
ah. usiaku tebu
di pematangmu
makin tua makin manis
timpalmu
Pemburu
pemburu keluar goa
kelelawar menghambur dari kepala
sehabis menerima ganggu jin
ilmu jadi
dan mandi pun diri
dan
di curuk hutan. taji dikepal erat
mulut berkomat mantra
bunyi yang dijaga
biar runduk malam
dan daundaun
mesti warna tubuh mudah dibau
pemburu sudah pandai berpetak umpet
di balik daun ranting pepohonan
sana
di sini
buruan mendengus dengus
seekor babi dalam diri
dirajang tanpa henti
Pagi yang Dipatuk Ayam
paruh ayam yang selembut
daging basah di pembaringan
membikin perut menggempal
tetapi di kepala
belum sampai korosi
sebab garam yang sedikit kasar
yang diteguk dari jauh laut
mengandung juga yodium
diri mesti kuat
dan pandai mengakali
ayam yang tanpa jenuh
mematuk
pagi
Burung Dara
seekor burung dara
yang berkukur di atap rumah
kacaukan tidur siang
dan setengah mimpi indahmu
tetapi setelah kau temukan
sehelai bulunya yang jatuh
di atas ubun-ubunmu
yang putih bersih
dan kau pun melupakan kesal
dan mimpimu
dan kau berniat memeliharanya
dan mencoba menangkapnya
biar kau taruh
di sangkar kosongmu
tetapi burung dara itu
tak kalah cerdas darimu
Di Atas Sampan
/1/
berakit rakit ke hulu
beranang ke tepian
berbelit belit dahulu
berpulang kemudian
di balik gua garba. selapang mata air
kerinduan menyerauk dari belahan batu
dan di dadamu berdenyut
anakmu. mengayuhkan napasnya
jauh di sampan itu
ke tengah sungai yang entah
menampak riak air
mata ikan kecil dan matanya
juga hitam bayangan
dan sedikit rembulan
“kemudian?”
tanyanya jauh sebelum
sampai di hulu
/2/
sebuah sampan daun kendali yang engkau
layarkan telah berlabuh di mataku
aku mengerti sebelum rabun
menghapus garis garis daunmu
dan sampan kecilmu
yang memuat seribu berita
terombang gelombang pasang
juga hamburan tempias
di sudut sudut pandang
sayang, aku tak mengerti sampai kapan
basah di mataku dan hijau daunmu
dan engkau kembali kembangkan layar
berlabuh jauh di mataku
/3/
nelayan di atas bulan sampan
mendayung di sela gumpal gemawan
yang menjaring gemintang di langit malam
lalu nelayan ambil dua buat dibawa pulang
yang sebuah digantung di halaman
di bawah lalu lalang orang
sebab yang gelap bikin gamang
sebuah lagi dimasak buat santap
malam keluarga. bukan kenyang
tapi bintang bikin dada
terang
sebalum nelayan
kembali mengayuh bulan sampan
/4/
sehabis menjaring matahari kesiangan
yang menggelapar di sampanku
tubuhnya yang gempal
bakal melaku di pasar
tetapi tak sampai hati
menampak sisik yang menyala
kepak sirip, engah napas
ekor menawan, bau amis
dan bening
matanya matahari
maka aku pelihara
matahari di akuariumku
yang dipajang di lubuk yang terdalam
biar petang lagi mendatang
2025
Penulis: S. Kamar
Editor: Adnyana Ole



























