DI tengah pusaran arus perubahan zaman, umat Hindu berada pada sebuah persimpangan eksistensial yang krusial. Persimpangan ini bukan sekadar momen transisi, melainkan cerminan dari kompleksitas identitas religius yang telah diperjuangkan sejak era kolonial hingga pascakemerdekaan. Tidak semua umat berjalan dalam satu langkah, tidak semua berada dalam satu cara pandang. Justru, keberagaman posisi inilah yang memperlihatkan wajah Hindu kontemporer, kaya, hidup, dinamis, tetapi juga penuh tantangan fundamental.
Michel Picard dalam kajiannya tentang identitas masyarakat Bali menjelaskan, bahwa perdebatan antara kaum bangsawan konservatif dan masyarakat terpelajar progresif mengenai keterkaitan agama dan adat telah berlangsung sejak lama, dengan keprihatinan bersama tentang identitas dan pelestarian landasannya. Pergulatan ini bukanlah fenomena baru, melainkan kontinuitas historis yang terus berkembang dan menemukan bentuk- bentuk baru di masa kini.
Tulisan ini berupaya memetakan empat orientasi utama dalam komunitas Hindu kontemporer: kaum konservatif yang berpegang pada prinsip “mule kéto,” kaum progresif yang mengembangkan dialog dengan modernitas dan teknologi, kaum mengambang yang berada dalam ketidakpastian epistemologis, dan kaum kritis yang mendalami sastra dan tattwa sebagai kompas navigasi spiritual. Keempat orientasi ini bukan entitas yang terpisah secara rigid, melainkan spektrum yang saling berkelindan dalam realitas kehidupan beragama Hindu di Bali.
Kelompok konservatif dalam komunitas Hindu berdiri tegak pada ajaran leluhur dengan semboyan “mule kéto”, begitulah dari dulu, begitu pula sekarang. Frasa ini bukan sekadar ungkapan nostalgia, melainkan representasi dari epistemologi tradisional yang menganggap kebenaran telah terartikulasi secara sempurna dalam praktik-praktik yang diwariskan secara turun-temurun.
Istilah “anak mula keto” yang telah mengakar di kalangan masyarakat Hindu merupakan istilah yang diturunkan secara bergenerasi, umumnya diartikan sebagai sesuatu yang memang sudah begitu adanya atau sudah begitu dari dulu. Sikap ini digunakan sebagai jawaban ketika ada pertanyaan tentang hakikat makna filosofis dari tindakan- tindakan religius atau budaya dan adat kebiasaan.
Ada nilai luhur yang mereka pertahankan dalam sikap konservatif ini: kesakralan upacara, kesinambungan tradisi, dan rasa hormat mendalam pada para leluhur (Dewa Pitara). Tradisi dipahami bukan sebagai artefak masa lalu yang statis, melainkan sebagai warisan hidup yang memerlukan pemeliharaan intensif agar tidak tercerabut dari akar spiritualnya. Dalam pandangan ini, setiap detail upacara, setiap persembahan (banten), setiap mantra yang diucapkan, memiliki dimensi sakral yang tidak boleh dikompromikan dengan pertimbangan pragmatis modern.
Namun demikian, sikap “mule kéto” mengandung paradoks epistemologis yang krusial. Perkembangan zaman yang semakin maju membuat istilah “anak mula keto” menimbulkan pertentangan antara masyarakat Hindu yang progresif dan konservatif, dengan kaum progresif menganggapnya sebagai cerminan pemikiran apatis, skeptis, dan pembodohan.
Ketika dialog tertutup dan setiap pertanyaan dianggap sebagai ancaman terhadap kesucian, tradisi dapat berubah menjadi tembok penghalang, bukan pelita. Di titik inilah konservatisme menghadapi tantangan fundamentalnya: bagaimana mempertahankan kesakralan tanpa jatuh pada dogmatisme yang membeku? Bagaimana memelihara tradisi tanpa menolak kemungkinan pemahaman yang lebih mendalam?
Kehidupan beragama Hindu, khususnya di Bali sangat kuat dari sisi ritual atau upacara, namun lemah dari sisi tattwa seperti teologi atau filsafatnya, akibat kepatuhan pada adagium “nak mula keto”. Konsekuensinya, kebanyakan umat relatif awam pengetahuan dalam hal pemahaman tattwa, tetapi disiplin dalam melaksanakan ritual. Kondisi ini menciptakan ketimpangan antara praktek dan pemahaman, antara ritual dan makna.
Di sisi lain spektrum, terdapat kelompok progresif yang melihat perubahan zaman bukan sebagai ancaman eksistensial, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat dan memperjelas esensi dharma. Mereka percaya bahwa Hindu tidak akan kehilangan kesakralannya hanya karena beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan hidup kontemporer.
Kelompok progresif yang tergabung dalam publikasi seperti Surya Kanta memiliki tujuan untuk meneguhkan agama dan mengubah adat istiadat yang bertentangan dengan kemajuan zaman. Mereka berpendapat bahwa mic yang lebih keras dari kentongan, mantram yang dipelajari dari aplikasi digital, atau penggunaan media sosial untuk dharmawacana, tidak serta merta mengurangi kesucian ajaran Hindu.
Kaum progresif berangkat dari premis bahwa dharma bersifat universal dan abadi (sanatana), sementara cara pengamalannya (acara) bersifat kontekstual dan adaptif. Mereka merujuk pada prinsip Manawa Dharmasastra yang menyatakan bahwa penerapan dharma harus mempertimbangkan lima dasar: Iksa (pandangan/cita-cita), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), Kala (waktu), dan Tattwa (hakikat). Artinya, agama Hindu dirancang untuk responsif terhadap konteks ruang dan waktu tanpa kehilangan esensi filosofisnya.
Namun, semangat reformasi ini seringkali berbenturan dengan rasa hormat pada pakem dan tradisi. Kaum progresif kerap dianggap “mengurangi kesucian” atau bahkan “merusak tradisi” oleh kelompok konservatif. Hinduisasi praktik-praktik keagamaan telah menyulut konflik berulang antara orang Bali yang ingin melestarikan kekhasan tradisi leluhur dan mereka yang ingin mereformasinya sesuai gagasan tentang Hinduisme.
Tantangan utama kaum progresif terletak pada kemampuan mereka untuk mengartikulasikan visi reformasi tanpa terkesan merendahkan warisan leluhur. Mereka harus mampu menunjukkan bahwa modernisasi bukan berarti westernisasi atau de-sakralisasi, melainkan revitalisasi yang membuat ajaran Hindu lebih mudah diakses dan dipahami oleh generasi kontemporer.
Kelompok ketiga, yang jumlahnya cukup signifikan, adalah mereka yang berada dalam kondisi “mengambang”, beragama sesuai ritme sosial, bukan kesadaran spiritual. Mereka mengikuti upacara, melakukan persembahan, menghadiri ritual komunal, tetapi tanpa pemahaman mendalam tentang makna dan tujuan dari semua itu.
Fenomena ini bukan sepenuhnya kesalahan individual. Akses pendidikan tattwa memang belum merata, sehingga banyak umat yang relatif awam dalam pengetahuan filosofis Hindu. Sistem pendidikan agama yang lebih menekankan aspek ritual daripada pemahaman konseptual turut berkontribusi pada kondisi ini.
Kaum mengambang seringkali beragama secara performatif, hadir dalam upacara karena tekanan sosial, melakukan persembahan karena kebiasaan, bukan karena kesadaran akan hubungan transenden dengan Sang Hyang Widhi. Mereka rentan terhadap pemahaman yang superfisial dan mudah terpengaruh oleh interpretasi, interpretasi yang tidak berdasar pada sastra suci.
Ketika banyak umat berada dalam posisi mengambang, Hindu sebagai agama rentan kehilangan arah identitasnya. Sikap “cuek” dan merasa cukup dengan yang itu-itu saja membuat mereka mudah terseret ke kiri atau ke kanan tanpa filter kritis. Mereka menjadi objek, bukan subjek, dalam diskursus keagamaan.
Kondisi ini juga menciptakan kerentanan terhadap eksploitasi ritual. Tanpa pemahaman yang memadai, upacara dapat berubah menjadi kompetisi prestise sosial, persembahan diukur dari kemegahan material, bukan dari ketulusan bhakti. Dimensi spiritual dari yadnya, sebagai korban suci yang mengandung makna filosofis mendalam, tereduksi menjadi sekadar kewajiban sosial.
Kelompok keempat adalah mereka yang haus akan pengetahuan, yang menyelami sastra suci dan menelaah tattwa dengan intensitas intelektual tinggi. Mereka bertanya tanpa henti, tidak puas dengan jawaban-jawaban yang superfisial, dan berupaya memahami esensi filosofis di balik setiap praktek keagamaan.
Agama Hindu memiliki kerangka dasar kebenaran yang kokoh karena masuk akal dan konseptual, dengan konsep pencarian kebenaran hakiki diuraikan dalam ajaran tutur Tattwa yang dapat diserap melalui Tri Pramana. Kaum kritis mengambil pendekatan epistemologis ini secara serius: mereka tidak hanya menerima ajaran, tetapi memprosesnya melalui pratyaksa (persepsi langsung), anumana (inferensi logis), dan sabda/agama (testimoni kitab suci).
Mereka melihat masa depan Hindu bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat logika spiritual, merapikan sistem teologis, dan menjaga esensi dharma tanpa terkurung dalam formalitas yang berlebihan. Bagi mereka, Hindu harus hadir dengan martabat intelektual di mana pun umatnya berada, di desa yang tenang, kota yang sibuk, atau negara yang jauh.
Salah satu tokoh yang merepresentasikan orientasi kritis ini adalah I Ketut Wiana, seorang intelektual Hindu Indonesia yang menjadi salah satu otoritas terkemuka dalam Agama Hindu Dharma. Dalam berbagai karyanya, Wiana konsisten menekankan pentingnya pemahaman tattwa sebagai fondasi praktek keagamaan.
Wiana menjelaskan bahwa banten dalam upacara yadnya adalah upaya para orang suci Hindu untuk mentradisikan ajaran Weda dengan memvisualisasikan tattwa agar nilai-nilai filosofis Hindu lebih mudah diserap oleh umat dari semua lapisan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ritual bukan tujuan akhir, melainkan medium pedagogis untuk mengkomunikasikan kebenaran spiritual.
Namun, kelompok kritis sering dianggap “melawan arus” atau bahkan “subversif” karena berani mempertanyakan hal-hal yang selama ini diterima begitu saja. Pertanyaan, pertanyaan kritis seringkali disalahpahami sebagai ketidakpercayaan atau penghinaan, padahal justru berangkat dari kerinduan untuk memahami lebih mendalam.
Tantangan kaum kritis adalah mengkomunikasikan pemikiran mereka tanpa terkesan elitis atau merendahkan umat yang belum memiliki akses pada pendidikan tattwa. Mereka harus mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan esoterik dan kebutuhan praktis umat, antara analisis filosofis dan pengalaman religius sehari-hari.
Keempat orientasi ini, konservatif, progresif, mengambang, dan kritis, bukan untuk dipertentangkan atau dihierarkikan. Mereka adalah cermin dari dinamika organik umat Hindu di era kontemporer, manifestasi dari kenyataan bahwa agama bukan benda mati yang monolitik, melainkan perjalanan kolektif yang hidup dan terus berevolusi.
Yang konservatif menjaga akar tradisi, memastikan bahwa warisan spiritual tidak terputus dalam pusaran modernitas. Yang progresif membuka cabang, cabang baru, mengeksplorasi kemungkinan, kemungkinan adaptasi yang kreatif. Yang mengambang menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah besar dalam hal pendidikan agama dan demokratisasi akses pada pengetahuan spiritual. Yang kritis mengingatkan bahwa dharma selalu menuntut pemahaman, bukan sekadar pengulangan mekanis.
Michel Picard menggunakan konsep “konstruksi dialogis” untuk menjelaskan bagaimana identitas Bali, yang dipahami sebagai pohon dengan akar agama, batang adat, dan buah budaya, terbentuk melalui dialektika antara input eksternal dan respons internal. Konsep ini relevan untuk memahami bagaimana keempat orientasi dalam umat Hindu dapat berinteraksi secara produktif.
Jika keempatnya bisa berdialog, bukan bertengkar, maka Hindu akan tumbuh sebagai agama yang kuat: memiliki dasar yang kokoh dalam tradisi, pikiran yang terbuka terhadap perkembangan, umat yang tercerahkan melalui pendidikan tattwa, dan sikap yang sesuai dengan konteks ruang, waktu tanpa kehilangan jiwa spiritualnya.
Dialog ini mengandaikan beberapa prasyarat: Pertama, pengakuan mutual bahwa setiap orientasi memiliki kontribusi valid dalam ekosistem keagamaan. Konservatisme bukan kemunduran, progresivisme bukan pengkhianatan, posisi mengambang bukan kebodohan, dan kritisisme bukan arogansi intelektual.
Kedua, komitmen pada sastra suci sebagai common ground. Hindu sesuai dengan teksnya dalam pustaka Tattwa dan pustaka Sastra Weda, dengan substansi agama untuk menuntun penganutnya melakukan Asih pada alam dan Punia pada sesama manusia sebagai bentuk Bhakti pada Tuhan. Ketika perbedaan muncul, rujukannya adalah tekstual, bukan preferensi individual atau tekanan kelompok.
Ketiga, kesediaan untuk belajar dari sejarah. Perdebatan panjang antara kaum konservatif dan progresif sejak era kolonial telah mempersiapkan orang Bali untuk menghadapi tekanan terhadap identitas keagamaan mereka ketika menjadi bagian dari Republik Indonesia. Pembelajaran dari pengalaman historis ini dapat menjadi modal untuk menghadapi tantangan kontemporer.
Hindu hari ini berada pada momen yang krusial namun juga penuh potensi. Keberagaman orientasi dalam umat bukan tanda kehancuran, melainkan vitalitas, bukti bahwa agama ini masih hidup, masih bergumul, masih mencari bentuk, bentuk ekspresi yang paling otentik di tengah kompleksitas zaman.
Tantangannya bukan untuk memaksakan uniformitas, melainkan untuk menciptakan unity in diversity, kesatuan dalam keberagaman. Bukan untuk memenangkan satu orientasi atas yang lain, melainkan untuk mengorkestrasikan semua suara menjadi simfoni yang harmonis.
Masa depan Hindu akan ditentukan oleh kemampuan keempat orientasi ini untuk berdialog secara produktif: yang konservatif tidak menutup diri pada pembaruan yang substansial, yang progresif tidak meremehkan nilai, nilai tradisi, yang mengambang diberdayakan melalui pendidikan, dan yang kritis menyampaikan pemikirannya dengan cara yang inklusif dan konstruktif.
Pada akhirnya, dharma bukan tentang memilih antara tradisi dan modernitas, antara ritual dan pengetahuan, antara memelihara dan mereformasi. Dharma adalah tentang menemukan keseimbangan dinamis, jalan tengah yang tidak kaku namun tidak mengambang, yang berakar pada kebenaran abadi namun responsif terhadap kebutuhan kontekstual.
Jika dialog ini dapat terwujud, maka Hindu akan tumbuh sebagai agama yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitasnya, yang mampu menawarkan pencerahan spiritual dalam bahasa yang dipahami oleh generasi kontemporer, yang mampu menjadi kompas moral di tengah kebingungan modern, dengan kata lain, menjadi dharma yang benar-benar hidup, bukan fosil masa lalu yang dikagumi namun tidak relevan. Rahayu. [T]
Penulis: I Putu Aryawan
Editor: Adnyana Ole


























