ERA saat ini, ketika setiap orang berlomba-lomba pamer kopi mahal, tumbler yang ketinggalan, sunset palsu, dan soft launching hubungan baru seperti foto dua gelas kopi tapi salah satunya bukan punyanya, foto tangan cowok atau cewek yang cuma kelihatan jamnya, foto bayangan dua orang di tembok, foto sepatu berdua, macam-macam lah.
Nah, ini Gen Z tiba-tiba muncul dengan feed Instagram kosong. Disebut oleh penulis esai Kyle Chayka di The New Yorker sebagai Zero Post. Kosong alias nihil. Sementara itu, sempat pula muncul slogan baru, offline is the new luxury.Lah, bagaimana ini, di tengah dunia yang 24 jam online, kok offline malah dianggap sebagai suatu kemewahan?
Jadi fenomena ini rasa-rasanya persis seperti menonton konser metal tapi sound-nya di-mute, tanpa suara. Sunyi, tapi kita tahu ada energi yang terasa. Ada perlawanan, yang meski tidak teriak, tapi hasilnya seperti tamparan halus ke wajah kapitalisme digital. Ya memang media sosial makin kemari makin kapitalisik dia.
Dan menilik dari gejalanya, fenomena ini bukan gejala random. Ini bukan sekadar anak muda Gen Z yang males posting, atau gaya-gayaan biar tampak estetik. Ini sebenarnya ada aroma pemberontakan filosofis yang kuat, bahkan jika mereka sendiri mungkin tidak menyadarinya.
Mogok Kerja dari Ekonomi Pamer
Media sosial sejak awal dibangun sebagai industri dengan satu logika sederhana, semakin kita tampil, semakin banyak data yang bisa diekstraksi. Apapun yang ada di medsos adalah data, posting adalah data, caption juga data, senyum miring sambil sonkarak hate itu juga data, mampir tiga detik jadi data. Karena platform medsos apa pun, dia dihidupi dari representasi diri kita. Dari segala macam bentuk pamer kita.
Bahkan Linkedin yang konon untuk dunia profesional juga polanya begitu. Lalu Gen Z muncul dan mereka bilang, capek. Memang mereka tetap pakai Instagram, tetap scroll, tetap DM-an, tapi feed kosong. Seperti pekerja pabrik yang masih datang ke lokasi tapi menolak menyalakan mesin. Ini jelas bisa bikin pabrik rungkad ala Happy Asmara. Bisa jadi ini adalah sebuah aksi kriminal dalam ekonomi atensi, tapi dilakukan secara diam-diam.
Baudrillard, sang filsuf simulakra, mungkin akan menyeringai melihat ini. Baginya, dunia modern sudah berubah menjadi banjir bandang visual yang menenggelamkan realitas. Para pembaca yang budiman pasti juga mulai merasa, orang kini hidup bukan lagi untuk mengalami, tapi untuk menampilkan. Di sini, zero post adalah cara Gen Z menolak tenggelam dalam banjir simulasi itu.
Tidak tampil berarti tidak ikut dalam permainan ilusi, yang memaksa manusia menjadi komoditas visual, karena tampil artinya data yang bisa dicuankan.
Pernah muncul slogan offline is the new luxury yang lahir dari kesadaran pahit di mana waktu tanpa notifikasi sekarang lebih langka daripada pejabat yang amanah. Byung-Chul Han menyebut generasi ini hidup dalam “tiraninya keterbukaan” dan “ekonomi performativitas”. Disebut tirani, karena keterbukaan bukan pilihan bebas. Ia jadi tuntutan sosial bahkan jadi syarat diterima dalam komunitas digital.
Jadi, kita dipaksa untuk terus hadir, tampil, update, harus menunjukkan produktivitas, pencapaian, dan kebahagiaan. Semua itu harus dilakukan di ruang publik digital, kalau tidak, maka kita dianggap tidak eksis. Maka, ketika Gen Z bilang offline itu mewah, itu bukan candaan dan sok-sokan. Itu kritik. Itu suatu deklarasi bahwa ketenteraman batin sudah dirampas dan kini harus berani dibayar dengan tidak posting.
Secara filosofis, offline adalah tindakan penarikan diri, mirip konsep Gelassenheit dalam Heidegger, letting go, sikap membiarkan dunia teknologis tetap ada, tapi tidak membiarkan diri dikuasai olehnya. Offline di sini bukan pelarian, tapi kontemplasi. Bukan hilang, tapi mengambil jarak. Bumi langit pokonya sama pelari kalcer.
Zero post dan offline is the new luxury adalah dua bentuk resistensi yang berbeda , namun berasal dari sumber yang sama yaitu kelelahan eksistensial akibat komersialisasi kehidupan digital. Foucault berbicara soal panoptikon, suatu sistem pengawasan yang membuat orang selalu merasa ditonton. Media sosial adalah panoptikon yang di-upgrade, panoptikon media sosial lebih jahat karena ia membuat kita menikmati pengawasan itu. Lebih jahat karena parahnya, kita tidak hanya terawasi, tapi kita ikut aktif menampilkan diri agar diawasi. Buntutnya setelah dituntut tampil, nanti akan dinilai, dilike, direkam, kemudian dipasarkan.
Gen Z menolak. Bukan dengan demo, bukan dengan uninstall, tapi dengan cara lebih subtil, hadir tapi tidak menyumbang konten, tetap online tapi tidak memberi data, scrolling tapi tidak feeding algoritma, eksis tanpa eksibisi. Memang suatu perlawanan kecil, micro-resistance, namun dalam teori kekuasaan Foucault, yang semacam ini justru paling efektif. Jika kapitalisme digital ingin semua orang jadi pekerja konten gratis, Gen Z membalas dengan cara paling mengganggu yaitu mogokkerja di sistem ini.
Estetika Minimalis sebagai Status Baru
Zero post bukan sekadar feed kosong. Itu estetika baru. Kalau dulu orang kaya pamer dengan mobil, sekarang orang “kaya secara mental” pamer dengan ketiadaan. Kesannya adalah bersih, terkontrol, dan tidak murahan. Ini bukan nihilisme, tapi suatu brand identity, di mana ketiadaan menjadi tanda superioritas kultural baru. Generasi ini tidak butuh validasi visual, merka memegang kendali di atas permainan ini. Etnografi digital melihat ini sebagai cara Gen Z menciptakan prestige versi mereka sendiri, yang tidak bisa dijual oleh iklan dan tidak bisa diukur oleh likes.
Yang menarik adalah zero post tidak berarti mereka menolak komunikasi. Mereka hanya memindahkan ekspresi ke ruang-ruang DM di antara Close Friends, grup Discord, catatan HP, TikTok yang sifatnya ephemeral, atau bahkan voice note jam 2 pagi. Jauh dari kekhawatiran mereka ini adalah generasi anti-sosial. Mereka hanya mengurangi jangkauan publik untuk memperbesar ruang privat . Hartmut Rosa, filsuf Jerman, menyebut ini sebagai resonanz, suatu tempat di mana kehadiran terasa, bukan dipertontonkan. Di zaman bising, diam menjadi mode komunikasi yang paling radikal.
Fenomena yang Harus Dibaca Serius
Heidegger mengingatkan bahwa manusia modern kehilangan kemampuan tinggal dalam keheningan karena dunia teknologis selalu mendesak kita untuk tampil, bergerak, bekerja, dan menunjukkan sesuatu. Sementara zero post dan offline is luxury adalah cara Gen Z mengambil kembali ruang batin, ritme personal, kendali atas eksistensi mereka, dan menentukan jarak dari tatapan publik. Tentu ini bukan anti-teknologi, tapi anti-ekstraksi. Mereka tidak menolak media sosial, hanya saja mereka menolak menjadi komoditasnya.
Ketika jutaan Gen Z berhenti posting, itu bukan sekedar gaya-gayaan. Itu tanda bahwa generasi ini sadar bahwa privasi adalah komoditas langka. Mereka sadar bahwa performa digital lama-lama jadi tekanan mental. Mereka juga mampu melihat bahwa representasi diri telah dikapitalisasi oleh algoritma yang menjadikan manusia jadi buruh konten tanpa bayaran, kecuali memang kalau kerjanya konten kreator.
Perlawanan sunyi ini tentu saja bisa mengubah arsitektur sosial digital. Jika banyak orang kemudian berhenti memberi data, algoritma jelas kehilangan bahan bakar. Mungkin nanti terbukti Teori Internet Mati, yaitu gagasan bahwa konten di internet makin lama makin didominasi oleh AI dan pemasaran, sementara pengguna manusia makin berkurang.
Zero post dan offline is luxury adalah deklarasi yang sederhana tapi mengguncang. Dan Gen Z, entah sengaja atau tidak, sedang mengajarkan bahwa kadang cara paling radikal untuk melawan teknologi yang satu ini adalah dengan tidak melakukan apa-apa, diam, tapi menghantam. Tabik. [T]
Penulis: Petrus Imam Prawoto Jati
Editor: Adnyana Ole


























