6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Agung Sudarsa by Agung Sudarsa
December 6, 2025
in Esai
Setra Gandamayu, Kremasi, dan Kesadaran Penghijauan

Ilustrasi tatkala.co

KALAU saja kuburan Badung yang dulu dikenal dengan sebutan Setra Gandamayu bukanlah sebuah kuburan, bisa dipastikan tempat itu sudah lama berubah menjadi deretan ruko, perumahan, atau kegiatan bertanam beton lainnya. Di tengah derasnya arus komersialisasi dan alih fungsi lahan di Bali, keberadaan Setra Gandamayu sesungguhnya adalah anugerah ekologis, kultural, sekaligus spiritual. Tanah lapang itu menyimpan jejak masa kecil: ada pohon trembesi—atau di Bali disebut suar—yang merupakan produsen oksigen terbesar, menaungi area yang dulu menjadi tempat bermain bola. Kadang bola kami masuk ke lubang galian makam, dan itu dianggap biasa saja; kami tinggal mengambilnya, dan permainan berlanjut. Di tempat itu pula kami mencari buah celagi atau asam, menikmati rasa masamnya di antara canda tawa kanak-kanak.

Namun Setra Gandamayu bukan hanya ruang kenangan. Ia adalah contoh nyata bagaimana sebuah tradisi mampu berfungsi sekaligus sebagai mekanisme ekologis. Pembakaran mayat—ngaben—membuat setra tidak pernah penuh, sehingga tidak boros lahan untuk kuburan. Ketika banyak daerah di luar Bali kehabisan ruang pemakaman, masyarakat Bali sejak lama telah menghidupi cara pandang yang selaras dengan alam: tubuh kembali ke unsur-unsurnya secara cepat, tanpa menuntut ruang permanen.

Perbandingan ini tampak jelas saat masa pandemi COVID-19. Ketika banyak wilayah di Indonesia terpaksa membuka kuburan baru karena lonjakan kematian, Bali relatif tidak mengalami tekanan serupa. Ngaben, baik yang besar maupun sederhana, menjadi solusi ekologis sekaligus spiritual. Sementara ribuan hektar lahan di berbagai kota ditelan menjadi tempat pemakaman, Setra Gandamayu tetap seperti sediakala—lapang, teduh, dan hijau. Tradisi leluhur ternyata jauh lebih adaptif dibanding berbagai sistem modern yang belum tentu ramah lingkungan.

Sebenarnya, ide kremasi sendiri pernah disuarakan oleh seorang tokoh besar Indonesia: Ali Sadikin. Saat menjabat Gubernur DKI Jakarta, ia menyadari betapa borosnya ruang pemakaman. Ia bukan hanya mengusulkan, tetapi memberikan contoh: beliau dan istri tercinta ditempatkan dalam satu liang lahat. Ini adalah langkah visioner, yang hingga kini sering dilupakan. Padahal, apa yang diperjuangkan Bang Ali sejalan dengan apa yang telah dihayati masyarakat Bali berabad-abad lamanya.

Pembakaran jenazah—baik dalam bentuk ngaben maupun kremasi modern—adalah warisan Sanatana Dharma yang terbukti dan teruji oleh waktu sangat bermanfaat. Bukan saja dari sisi efisiensi lahan, tetapi juga dari sisi kesadaran. Ketika tubuh menjadi abu, sang jiwa—atau jivamtan—seolah berbisik, “Ah, ternyata aku bukan badan.” Inilah kesadaran awal yang semestinya kita capai saat masih berbadan. Tubuh hanya kendaraan sementara; keberadaan sejati tidak melekat pada materi yang fana.

Namun bagi banyak orang, kesadaran itu sering datang terlambat. Walau demikian, seperti kata seorang sahabat saya, Made Wiranata—seorang guide Korea, filsuf jalanan, dan penggemar berat Osho atau Bhagavan Shri Rajneesh—“Better late than never.” Lebih baik terlambat sadar daripada tidak pernah sama sekali. Ngaben, dalam kedalaman simboliknya, menjadi pengingat keras bahwa hidup adalah kesempatan untuk mengenali diri sejati; bukan sekadar rutinitas mengejar dunia.

Karena itu, cerita Setra Gandamayu bukanlah sekadar kisah penghijauan, atau lapangan bola masa kecil, atau deretan pohon trembesi yang memproduksi oksigen. Ia adalah cermin kesadaran para leluhur dalam tradisi Sanatana Dharma—kesadaran yang tidak hanya spiritual, tetapi juga ekologis. Leluhur kita tahu bahwa tanah harus dikembalikan kepada alam, bukan dipenuhi tumpukan beton menjuang tinggi. Mereka memahami bahwa ruang publik adalah ruang bersama, bukan komoditas.

Kesadaran ekologis para leluhur itu relevan kembali setelah bencana banjir besar yang melanda Bali pada September lalu. Banjir bukan hanya peristiwa alam; ia adalah sinyal keras bahwa kita telah melampaui batas. Alih fungsi lahan, penebangan pohon, dan pembangunan tak terkendali telah menghilangkan banyak “Setra Gandamayu” versi lain: ruang terbuka hijau yang semestinya menjadi paru-paru wilayah. Ketika sawah berubah menjadi villa, kebun berubah menjadi ruko, dan tebing berubah menjadi hotel, jangan heran jika air tidak lagi punya tempat untuk meresap. Alam hanya menagih haknya yang kita cabik-cabik. Dalam konteks itu, Setra Gandamayu adalah anomali yang indah—sebuah ruang yang selamat karena tradisi melindunginya.

Ironisnya, banyak orang modern yang menganggap tradisi sebagai sesuatu yang kolot. Padahal tradisi tertentu justru lebih maju dalam melihat relasi manusia dengan alam. Apa yang dianggap “kuno” ternyata menyimpan kebijaksanaan ekologis yang tidak dimiliki pendekatan pembangunan kontemporer. Ngaben adalah salah satu contohnya.

Dalam waktu dekat, seorang teman dari Surabaya meminta saya memfasilitasi Sudi Wadani, karena kepercayaan lamanya tidak membenarkan tindakan kremasi atau ngaben. Ia merasa tergerak kembali pada akar tradisi Nusantara yang lebih tua. Saya membuka kedua belah tangan dan mendekapnya erat sembari berkata: “Selamat kawanku, kau telah kembali ke dalam pangkuan Bunda Ilahi, Sanatana Dharma.” Ada getaran haru saat ia mengaku merasa “pulang.” Kembali ke keyakinan yang menghormati alam, menghormati kesadaran, dan menghormati perjalanan jiwa.

Di tengah dunia yang semakin sesak oleh beton, semakin panas oleh polusi, semakin bising oleh ambisi manusia, kita perlu kembali merenungi pesan sederhana dari para leluhur: tanah tidak untuk dikuasai, tetapi untuk diselarasi. Setra Gandamayu, dengan segala kesederhanaannya, mengajarkan hal itu.

Dan jika suatu hari kita kembali ke sana—melihat pohon trembesi tua yang masih meneduhkan, mendengar desir angin yang seakan mengenang doa-doa ngaben yang pernah bergema—kita mungkin akan mengerti bahwa penghijauan bukan hanya program lingkungan. Ia adalah wujud konkret kesadaran spiritual: kesadaran bahwa kita datang dari alam, hidup bersama alam, dan pada akhirnya kembali ke alam.

Mungkin, itu sebabnya para leluhur berkata: “Bumi bukan warisan untuk dimiliki, tetapi titipan untuk dijaga.” [T]

Penulis: Agung Sudarsa
Editor: Adnyana Ole

Tags: alambaliHindu Balisetra gandamayu
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Enam Perupa Sad Rasa Pamerkan ‘Paradiso’ di ARMA Ubud: Ungkap ‘Surga’ yang Kian Compang-camping

Next Post

‘Game’ dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa

Agung Sudarsa, SE, SH, MH adalah Wakil Ketua Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Bali bidang Sosial Budaya, Direktur LBH Manusia Merdeka, jurnalis indonesiaexpose.co.id, dan kandidat doktor di UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar dengan disertasi: Inner Peace, Communal Love, Global Harmony: Yoga, Meditasi, dan Visi Anand Krishna tentang One Earth, One Sky, One Humankind

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

'Game' dan Otak: Perspektif Neurosains dan Psikologi Kognitif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co