PUTU Fajar Arcana, jurnalis, penyair, esais, dan pelukis asal Jembrana, Bali, pada tahun 2019 menulis esai yang indah berjudul Cintalah yang Membuat Diri Bertahan di harian Kompas. Esai itu bukan sekadar catatan jurnalistik, melainkan persembahan untuk Umbu Landu Paranggi (1943-2021), penyair misterius yang hidupnya menjelma legenda. Umbu dikenal sebagai sosok bohemian yang setia kepada puisi dan bukan kepada popularitas.
Dalam tulisannya, Putu Fajar Arcana menggambarkan bagaimana Umbu sejak muda telah menyerahkan dirinya sepenuhnya kepada puisi. Dari Sumba ia berangkat ke Yogyakarta, menulis sajak-sajak yang membuatnya dihukum di sekolah, tetapi tidak pernah membuatnya gentar. Umbu menempuh jalan sunyi kepenyairan dengan cinta yang total dan pengabdian yang membabi buta kepada kesenian, tulis Arcana.
Cinta dalam konteks itu bukan romantisme, melainkan daya hidup. Sebuah kekuatan yang membuat seseorang tahan menghadapi kesunyian, kerja keras, dan ketidakpastian. Umbu tidak punya ambisi menjadi terkenal. Ia bahkan menghindar dari panggung ketika diberi penghargaan bergengsi. Ia memilih menghilang, sebab bagi Umbu, puisi adalah jalan pencarian, bukan tujuan akhir.
Dari Umbu, kita belajar bahwa cinta bukan hanya perasaan, tetapi laku hidup. Ia menulis dalam puisinya yang terkenal, Melodia,
Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan,
karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.
Larik itu seolah menjawab banyak pertanyaan tentang bagaimana manusia bisa bertahan di tengah hidup yang melelahkan, dunia kerja yang keras, atau hubungan yang sering retak karena kesalahpahaman.
Sebagai wartawan, saya sering mendapat tugas untuk meliput kegiatan DPRD Badung, Bali. Seperti biasa, setelah acara usai, para undangan dan wartawan mendapat nasi kotak sebagai makan siang. Saya tidak langsung memakannya, melainkan menaruhnya di dalam tas punggung yang selalu saya bawa saat liputan.
Setelah berpamitan kepada rekan-rekan wartawan, saya bergegas meninggalkan kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung yang megah. Di luar, langit mulai gelap. Mendung menggantung tebal. Saya menuju sebuah kedai kecil di dekat jalan masuk Puspem. Setelah memesan kopi panas, saya duduk di bangku kayu di pojok kedai. Tak lama kemudian, hujan turun deras.
Kopi saya nikmati perlahan. Sembari menunggu hujan reda, saya mengetik berita dari liputan tadi. Tak sampai tiga puluh menit, berita rampung dan saya kirimkan kepada redaktur. Di luar, hujan mulai menipis. Saya membuka aplikasi ojek online di ponsel, lalu memesan kurir untuk mengirim nasi kotak itu kepada tunangan saya di tempat kerjanya.
Beberapa menit kemudian, pengemudi datang menjemput ke kedai. Setelah membayar, ia segera meluncur ke arah tempat tunangan saya bekerja. Saya tahu, ia akan senang menerimanya. Hal sederhana seperti itu sudah sering saya lakukan. Entah mengapa, jika makan sendiri, selalu terasa ada yang kurang.
Tunangan saya banyak menolong saya selama di kota rantau ini. Ia menjadi teman berbagi, pendengar yang sabar, penenang di kala pikiran saya kacau. Ia tidak selalu sempurna, pun saya. Namun kami sama-sama belajar bertahan. Saya percaya, cinta bukan tentang siapa yang lebih benar, melainkan siapa yang lebih sabar.
Cintalah yang membuat diri bertahan, kata Umbu. Dan saya kini benar-benar mengerti maknanya.
Kadang cinta tidak perlu dirayakan dengan kata-kata besar. Ia cukup hadir dalam bentuk kecil, secangkir kopi panas di tengah hujan, sebuah nasi kotak yang dikirim diam-diam, pesan singkat bertuliskan “hati-hati di jalan”, atau tatapan lelah yang tetap mengandung harapan.
Cinta, seperti puisi bagi Umbu, adalah cara untuk menanam di ladang diri. Nandurin karang awak, kata Umbu suatu kali kepada Arcana di Pantai Sindhu, Sanur. Ia adalah proses menyemai dan mengolah batin agar tidak kering oleh rutinitas.
Saya sering berpikir betapa rapuhnya manusia tanpa cinta. Ia bisa cerdas, berprestasi, dan dihormati, tetapi sekaligus mudah hancur oleh kesepian. Hubungan bisa retak karena gengsi, persahabatan bisa renggang karena salah paham. Namun pada akhirnya, sesuatu yang misterius yang kita sebut cinta membuat kita mau memaafkan, mengulurkan tangan, dan kembali bicara dengan lembut.
Cinta juga yang membuat kita berani mengakui kesalahan. Kadang yang lebih sulit bukan memaafkan orang lain, melainkan memaafkan diri sendiri. Namun jika kita mencintai hidup, kita akan memberi kesempatan pada diri untuk tumbuh kembali.
Begitulah, cinta adalah perekat segalanya. Ia tidak bisa dijelaskan dengan logika, tetapi terasa dalam tindakan sehari-hari yang kecil dan tulus. Bahkan dalam pekerjaan saya sebagai wartawan, ketika menulis berita yang barangkali biasa saja, cinta membuat saya bertahan kepada profesi, kepada pembaca, kepada hidup.
Umbu Landu Paranggi memang akhirnya memiliki buku kumpulan sajak tunggal, tapi itu diterbitkan sebagai penghormatan setelah beliau berpulang. Hidupnya sendiri adalah sajak yang terus ditulis ulang. Ia berjalan di jalan sunyi, namun langkahnya meninggalkan gema bagi banyak orang yang pernah mengenalnya.
Dan kini saya percaya, memang cintalah yang membuat diri sesekali bertahan. Cinta kepada hidup, kepada pekerjaan, kepada orang-orang yang kita sayangi. Cinta yang sederhana, tetapi nyata.
Karena seperti kata Umbu,
“Takkan jemu-jemu napas bergelut di sini, dengan sunyi dan rindu menyanyi.” [T]
Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole


























