JIKA seseorang/sekelompok orang ingin menyampaikan kiriman berupa pesan pada seseorang/sekelompok orang, atau sesuatu biasanya akan menyampaikan pesannya secara tertulis di atas kertas, daun, kulit kayu, tanah, batu, tembaga, perak, emas (fisik), email, fb, massager, wa dan lain-lain (digital). Pengirim pesan bersifat aktif dan penerima pesan biasanya bersifat pasif.
Agar pesan tertulis dari pengirim bisa sampai kepada penerima pesan, biasanya ada perantara yang memerlukan biaya jasa. Dulu biaya perantara dipakai prangko (sebuah satuan lambang dengan nilai tertentu).
Selain pesan tertulis (pikiran, kata-kata, perbuatan, dan perasaan yang disampaikan melalui tulisan) pesan juga bisa berupa paket (berbentuk material, spiritual dan gabungan material-spiritual).
Kini perantara penyampai pesan bisa berupa nilai kouta maupun ongkos gojek yang dibayarkan oleh pengirim atau oleh penerima (sistem COD).
Dalam hubungan dengan spiritual masyarakat Hindu Bali khususnya, biasanya memakai jasa seorang pandita/pinandita/yang dipercaya dengan biaya jasa yang dikenal sebagai ‘sesari” (seharga saripati bunga) untuk menyampaikan pesan berupa surat maupun paket kepada yang diharapkan untuk menerima.
Dalam hal ini pemberi pesanlah yang semestinya aktif untuk mencari tahu, bentuk, jenis, ragam kuantitas dan kualitas, pesan yang disampaikan agar bisa sampai dengan baik dan benar pada si penerima pesan.
Namun ketika kita, umat Hindu Bali sebagai pribadi maupun kelompok bermaksud mengirim pesan (terima kasih, permohonan maaf, rasa kasih dan bakti) dalam bentuk surat maupun paket pada alam, sesama, leluhur, dan Tuhan, kenapa harus bergantung dan ditentukan oleh perantara sebagai penjual jasa?
Dalam hubungan dengan Tuhan, leluhur yang bersifat niskala, mungkin banyak diantara kita yang merasa kurang percaya diri/ tidak yakin apakah pesan kita diterima dengan baik atau tidak?
Kita meyakini dalam diri setiap mahluk ada percikan Tuhan yang disebut Atma. Kita juga meyakini, dalam diri kita mengalir darah dan gen leluhur.
Mengirim pesan terima kasih, permohonan maaf, kasih sayang, bakti dan mohon perlindungan sebenarnya bisa dilakukan dilakukan di dalam hati dengan kusyuk, sepi dan sendiri.
Mengirim pesan, surat dan paket pada alam, dan sesama sebenarnya mudah dilakukan karena bersifat langsung dan tanpa perlu perantara. Yang diperlukan hanya kesadaran sebagai manusia yang berjiwaraga, berpikir dan berperasaan, untuk menyediakan waktu, menyesuaikan kondisi, situas dan kemudian melakukannya bersungguh-sungguh dan konsisten.
Sayangnya pikiran justru dimanfaatkan untuk berdalih, berkelit, berargumentasi menjadi pembenaran, bukan melakukan yang benar dan baik.
Misalnya menyampaikan pesan perasaan, permohonan maaf, rasa terima kasih dan kasih sayang pada alam, bisa dimulai pada yang terlihat nyata (air dan tanah). Pada air dengan berusaha tidak mengotori, mencemari dan menyumbatnya. Pada tanah dengan mengelolanya tidak mencemari, dengan menanami pohon dan mengairinya. Tindakan nyata akan nyata diterima bisa dilihat, didengar, dicium, dicecap dan dirasakan indria-indria.
Begitu juga pada sesama (manusia, binatang dan pohon). Misalnya pada anak, orang tua, keluarga, teman, kenalan, masyarkat dan lain-lain, pesan terima kasih, permintaan maaf, kasih sayang bisa dilakukan langsung, dengan kata-kata, perbuatan (menyapa, tersenyum, memeluk, menyalami, mencium, mengelus, melayani, memberikan makanan dan sesuatu yang diperlukan), akan menyentuh hati, jiwa dan raganya.
Lantas pesan, surat dan paket seperti apakah yang sudah kita, masyarakat Hindu Bali, kirim kepada alam, sesama, leluhur dan Tuhan, bisakah menyentuh perasaan jiwa dan raga penerima? Jangan-jangan yang lebih banyak tersentuh adalah pikiran perasaan dan jiwaraga perantara, si penyampai pesan, sehingga dengan tanpa ragu dan penuh keyakinan, mengharuskan bentuk jenis, ragam dan macan surat dan paket yang harus disampaikan dan menetapkan nilai prangko/ jasa/sesari tanpa jaminan/garansi yang menyentuh perasaan jiwa dan raga penerima yang bisa dilihat, didengar, dicium, dicecap, dirasa dengan jiwaraga pengirim.
Yang diberikan hanya pikiran yang abstrak, yang didalilkan sebagai kebenaran dan kebaikan yang bersifat mutlak sehingga perbuatan-perbuatan sebagai bentuk material/nyata dipaksakan mengikuti dalil- dalil pikiran si perantata, yang akhirnya menganggap dan dianggap sebagai yang maha benar dan baik.
Kini ketika alam mengirim pesan pada kita, masyarakat, pemimpin Bali, lewat banjir, longsor, puting beliung, bisakah tersentuh perasaan jiwaraga kita sebagai penerima? Atau jangan-jangan kita sudah kehilangan perasaaan sehingga tak lagi layak disebut manusia. [T]
Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole


























