Malioboro dan Sederet Kursi yang Tak Jelas Siapa Penghuni
Kembali di sebuah kursi
aku membesuk Malioboro
yang mulai letih lenguhannya.
Daun-daun gugur, membingkai
lapuk dari sebuah umur.
Dan sore mulai susut sedang
lautan pengunjung tiada surut.
Aku duduk mengamati—
sebisu lampu taman, sesenyap
bangunan-bangunan meredam
bising pekik kenangan.
Rindu melatari pulang dan
Kepergian.
Menghitung sudah berapa pasang
orang bersimpuh di kursi Panjang,
menebak judul cerita apa yang
di pajang pada raut-raut tiap tampang.
Ada remaja mengumbar mesra,
lansia membelai kisut cinta,
bocah terbaring lelah berbantal
sekarung sampah dan
seorang lelaki yang sedari tadi
senyam-senyum hampa.
Tapi Malioboro tiada pernah
tahu siapa yang di undang
tiada pernah berjanji
tiada pernah mengenal yang
mampir di kursi atau
sesempat bertanya, sedang apa di sini?
tiada pernah menyurati yang pergi.
Mandi Pagi
Berapa jumlah mandi
pagimu dalam ruap cuaca
yang tampak sendu,
Jika di tengah jalan
hujan tiba-tiba memasungmu?
Padahal sebelumnya
air sabun sudah membilas diri
tapi langit masih sekali lagi
mengurapi.
Angin pun mengendap suara
dan renyah gemuruh gerimis
datang dari berbagai arah.
Lalu apa sebab mesti hujan
membasuhmu untuk kedua kali
jika inisiasi sudah berlangsung di kamar mandi?
Demikianlah upaya langit
berbahasa dan kau pun basah.
Menguar pasrah pada
pelupuk setengah sembap.
Mandi pagimu menjadi dua kali
dan hingga gigil meriap
tak kau temukan apa sebab.
Suatu Jeda di Parkiran
Hujan pun bersemi tanpa
tahu wajah musim.
Kami terpojok—ini kali senyap
tak hanya seonggok.
Di parkiran, serbuk-serbuknya dijejalkan
dalam siul angin meraun-raun, dalam
gugur ikhlas daun-daun.
Kami menjeda¬—ini kali hujan
memarkirkan kami tiba-tiba¬—di sebuah beranda.
Matahari, sekuntum bunga yang kuncup.
Waktu melambat pada tikungan terakhir
jarum jam yang ikut menggenang dan basah kuyup.
Hiburan di Atas Loteng
Setelah sekian tragedi
mengatasnamakan loteng,
lantas dengan apa kesepianmu
dilatarkan?
Namun, gitar tetap memekik
walau sumbang suara ratapmu
masih terdengar.
Ada tangan-tangan
gelisah mencekik.
Di telinga malam, tersampaikan
gumam rancuh demam.
Dan dengan upayamu
mengubur aib lonteng:
tentang bayang-bayang tragis
tempat menjumpa maut.
Alhasil, pekikan gitar, gumam demam
dan sumbang ratapmu pun bertaut.
Bocah Penjaja Tisu
Barangkali umur benar-
benar betopengkan angka.
Waktu bermain silap mata
dan takdirlah yang terpampang
ketika tirai terbuka.
Lalu bocah mungil bertelanjang kaki
muncul dari balik kabut malam.
Di perempatan, meraun-meraun dan
menadah-nadah selembar airmata
sedang bulan adalah lampu merah lalulintas
yang setia jadi alarm jam kerja.
Dan aku samahalnya para
patung berkuda lainnya.
Ibah membatu.
Hati berkawat acuh.
Ketika pandang tak sengaja
bersisih temu, aku membaca matanya:
mendung murung itu butuh lebih dari sekedar tisu.
.
Penulis: Agusta Mario. B. Nanga
Editor: Adnyana Ole



























