UANG kepeng datang dari jauh. Di geladak kapal-kapal perdagangan lampau, kepeng jadi sebuah angka. Alat tukar milik saudagar di nusantara. Fungsinya tunggal: transaksi. Kepeng berpindah dari kantong ke kantong, melintasi lautan, hanya mengenal konsep untung dan rugi.
Kemudian kepeng tiba di Bali.
Pulau Bali menyambutnya dengan cara yang berbeda. Warga pulau Dewata tidak hanya melihatnya sebagai angka, namun sebagai kemungkinan. Tanah ini memberinya napas baru. Logam yang tadinya hanya menghitung nilai barang, kini mulai diajak menghitung detak kosmos. Lubang perseginya bukan lagi sekadar pengait tali. Ia menjadi hao, sebuah pusat, jendela menuju yang tak terlihat. Aksara di permukaannya bukan lagi nama asing, malah menjadi mantra.
Inilah awal dari sebuah biografi yang luar biasa. Sebuah kisah tentang alkimia budaya. Kisah tentang bagaimana sebuah objek profan bisa bertransformasi menjadi salah satu pilar sakral dalam sebuah peradaban.
Ni Komang Ayu Astiti dalam Uang Kepeng Sepanjang Masa: Perspektif Arkeologi dan Ekonomi Kretif di Provinsi Bali (2014) dan Nyoman Arisanti melalui Uang Kepeng dalam Perspektif Masyarakat Hindu Bali di Era Globalisasi (2017) mengurai perjalanan ini. Kepeng bukan sekadar sejarah koin. Kepeng jadi cermin bagi karakter kebudayaan Bali itu sendiri: sebuah kemampuan luar biasa untuk menyerap, mengubah, dan memberi makna.
Kisah uang kepeng kerap dibungkus dalam romansa. Ada mitos populer tentang Putri dari Tiongkok, Tang Ci Keng, yang menikah dengan Raja Bali, Sri Jaya Pangus, pada abad ke-11. Mitos indah ini memberi kerangka naratif yang manis. Namun, data arkeologi bercerita lain.
Fakta menunjukkan Bali sebagai pemain global jauh sebelum mitos itu lahir. Catatan Dinasti Tang menyebut uang kepeng sudah beredar di Bali pada abad ke-7. Hampir 400 tahun sebelum era Sri Jaya Pangus. Penemuan belasan ribu keping di Pura Bukit Legundi Cemeng, Kintamani, memvalidasi ini. Koin-koin itu datang dari berbagai dinasti, dari Tiongkok, Vietnam, hingga Jepang.
Rakyat Bali bukanlah penerima pasif. Bali ialah simpul aktif dalam denyut perdagangan maritim Asia, pelabuhan kosmopolitan. Bali terhubung dengan dunia. Dan yang terpenting, selama berabad-abad, uang kepeng, atau pis bolong, adalah murni alat tukar. Kepeng ialah uang yang sah. Koin ini digunakan di pasar. Dipakai juga untuk membayar pajak.
Transformasi jadi inti dari kisah ini. Dari pasar yang riuh, kepeng dibawa ke pura. Dari alat bayar, kepeng jadi persembahan. Prasasti Sukawana AI tahun 882 Masehi telah mencatat fungsi ganda ini. Sejak saat itu, yang profan dan yang sakral hidup berdampingan dalam satu keping logam yang sama.
Inilah cerminan dari filosofi Bali. Tak ada pemisahan kaku antara dunia material (sekala) dan dunia spiritual (niskala). Keduanya menyatu. Uang kepeng menjadi perwujudan fisik dari filosofi ini, jadi jembatan penghubung.
Dalam ritual, kepeng tak lagi bernilai nominal. Kepeng menjadi sesari, sari pati, esensi material dari sebuah niat tulus. Kepeng menjadi pengurip-urip, napas yang menghidupkan sesaji, membuatnya “aktif” dan layak dipersembahkan. Kepeng dirangkai menjadi lamak, tamiang, dan rambut sedana. Uang kepeng tidak lagi membeli barang, malah penyempurna doa.
Mata Uang Abadi
Setiap kisah besar memiliki titik krisisnya. Dinasti Cina di seberang lautan tumbang. Kapal-kapal berhenti datang membawa kepingan baru. Stok kepeng kuno menipis. Penggunaan ritual yang konstan menguras apa yang tersisa.
Di sinilah karakter Bali bersinar. Kekosongan tidak melahirkan keputusasaan, malah melahirkan kreativitas. Didorong Bali Heritage Trust, para pande dan perajin meniupkan api pada tungku mereka. Mereka tidak sekadar meniru bentuk. Mereka melahirkan kembali esensinya.
Mereka menempa koin baru. Namun, mereka tidak membuatnya dari sembarang logam. Mereka membuatnya dari panca datu. Campuran lima logam suci: besi (Wisnu, utara), perak (Iswara, timur), tembaga (Brahma, selatan), emas (Mahadewa, barat), dan perunggu/kuningan (Siwa, tengah).
Ini langkah genius. Sebuah manuver teologis yang mendalam. Warga Bali mendefinisikan ulang konsep “keaslian”. Apa yang membuat kepeng itu sakral? Jawabannya bukan usia arkeologisnya. Bukan pula asal-usulnya dari Dinasti Tang. Yang membuatnya sakral adalah komposisi kosmologisnya.
Sebuah keping logam yang ditempa hari ini, dengan campuran panca datu yang benar dan niat yang suci, dianggap lebih “asli” dan lebih kuat secara spiritual untuk ritual daripada kepingan kuno yang kehilangan muatan spiritualnya. Keaslian bergeser dari urusan sejarah menjadi urusan spiritual. Bali tidak hanya mengadopsi. Bali mengambil alih “makna” dari objek itu.
Tindakan inovatif ini melahirkan sebuah ekosistem baru. Para perajin yang lahir untuk memenuhi kebutuhan ritual kini berdiri di persimpangan baru. Mereka menciptakan lingkaran resiliensi budaya.
Kebutuhan spiritual yang mendesak memicu inovasi lokal. Inovasi ini secara organik melahirkan peluang ekonomi baru. Bengkel-bengkel kerajinan tumbuh. Mereka tak hanya mencetak jinah upakara (koin untuk upacara). Mereka mulai merangkainya menjadi patung penari, anting-anting, hiasan interior, dan cinderamata.
Uang kepeng kini hidup dalam dua dunia. Di pura, kepeng tetap sakral. Di luar pura, koin ini menjadi mesin ekonomi kreatif. Kepeng pun melayani dua pasar: pasar ritual yang stabil dan konstan, dan pasar komersial yang estetis dan menguntungkan.
Inilah paradoks yang indah. Mesin ekonomi yang lahir dari kebutuhan spiritual, kini berbalik menopang praktik spiritual itu sendiri. Setiap upacara dipastikan takkan kekurangan kepingan logamnya. Kebutuhan spiritual mendorong mesin ekonomi. Mesin ekonomi menyediakan bahan bakar agar api spiritual tetap menyala.
Perjalanan uang kepeng merupakan metafora sempurna untuk kebudayaan Bali. Ini mengajarkan kita bahwa budaya bukanlah fosil yang rapuh, yang harus disimpan dalam kotak kaca. Budaya ialah sungai yang terus mengalir. Lentur, adaptif, dan luar biasa kreatif. Budaya menyerap unsur asing, mengunyahnya, dan melahirkannya kembali sebagai sesuatu yang sepenuhnya baru, sesuatu yang sepenuhnya miliknya.
Tentu, ada tantangan risiko komersialisasi yang mendangkalkan makna. Risiko eksploitasi perajin. Namun, sejarah kepeng ini memberi kita optimisme.
Nilai sejati uang kepeng tidak lagi terletak pada logamnya. Nilainya terletak pada makna yang dihembuskan budaya Bali ke dalamnya. Inilah bukti bahwa nilai sebuah benda tidak terletak pada materi, tapi pada cerita, pada niat, dan pada sirkulasinya dalam sebuah sistem kepercayaan. Mata uang iman. Dan itu, adalah nilai yang abadi. [T]
Gianyar, 2025
Penulis: Arief Rahzen
Editor: Jaswanto


























