— Catatan Sugi Lanus, 19 Oktober 2025
Saya sangat menyesal tidak pernah berjumpa denganmu, Timothy. Kenapa? Karena saya adalah kamu ketika seusiamu.
Saya membaca Karl Marx. Pun Timothy. Saya jengkel pada kapitalisme. Pun Timothy. Memuncak kejengkelan dan keprihatinan atas ketidakadilan yang saya yakini terkondisikan oleh keserakahan manusia yang menjelma menjadi sistem kapitalisme. Pun demikian Timothy.
Melihat 2 potongan video Timothy, saya yakin Timothy membaca buku-buku yang berisi bagaimana seharuskan anak muda memperjuangkan keadilan bagi kaum kurang beruntung. Timothy adalah pemuda yang berpikir revolusioner.
Saya adalah Timothy yang membaca bacaan-bacaan progresif di tengah ketidakadilan sosial yang demikian membusukkan mental para pemuda. Berada di tengah para mahasiswa sekitar yang apatis dan oportunis, pasti Timothy sangat kecewa. Seusia Timothy saya merasakan hal yang sama.
Untunglah Soeharto jatuh ketika saya seusia Timothy. Saya sempat melihat setitik harapan muncul pasca tumbang Orde Baru. Saya sempat mengenyam optimisme jika kelak setelah jatuh Soeharto akan ada perbaikan. Sekalipun itu semua hanya fatamorgana.
Apa yang dihadapi remaja dan pemuda sebaya Timothy? Pemerintahan yang konon memperjuangkan “revolusi mental” malah merusak mental. Dengan pongah menghianati meritokrasi.
Pemuda-pemuda cerdas yang berontak dan kritis pada kebusukan pemerintah malah ditangkapi. Dihilangpaksa dengan didorong ke tepian jurang lewat intimidasi dan kekerasan yang dipertunjukkan secara terbuka. Kebrutalan aparat disaksikan oleh pemuda-pemuda seusia Timothy.
Timothy melihat bagaimana situasi politik sekarang sama sekali tidak mencerminkan meritokrasi, malah menghina intelektual anak-anak muda cerdas dan berhati tulus seperti Timothy.
Timothy, saya menyesal tidak pernah berjumpa denganmu. Saya adalah kamu seusiamu.
Saya juga pernah ingin “menghilang” di usiamu. Ingin meninggalkan bangku kuliah di Bali dan berencana menghilang pergi ke Ledalero — namun tertahan karena saya tidak ingin ibu saya bersedih.
Seandainya saya berjumpa kamu, saya akan sarankan kamu “menghilang” pergi ke pelosok yang jauh. Dimana tidak seorang mengenalmu. Menjadi buruh tani di perkebunan jauh di pedalaman yang tidak seorang pun peduli pada kemelut dan omon-omon kosong negeri ini.
Saya akan menganjurkanmu berganti nama dan menjadi buruh pemetik kopi di pedalaman jauh yang tidak satupun orang mengenal siapa dirimu.
Itu yang saya pikirkan dulu ketika seusiamu, ketika hati perih ingin berontak pada ketidakadilan sosial dan muak dengan kepongahan penguasa yang dicocok hidungnya oleh kaum kapitalis.
Saya juga muak melihat jongos-jongos berbaju mewah bergentayangan, berada di pemerintahan, partai, pengusaha, dan pergaulan gemerlap yang penuh kemunafikan.
Saya menyesal tidak pernah mengenalmu. Doa terbaik saya untukmu.
Timothy, kamu adalah saya. Seorang yang merasakan duka mendalam dan tak kuasa melihat pongah ketidakadilan dan ketidakberesan dunia.
Jika ada pemuda yang kecewa pada situasi bangsa dan depresi melihat situasi sekitar yang tidak beres, saran saya: Menghilanglah.
Pergilah ke tempat jauh. Jangan hentikan hidupmu. Tapi bebaskan pikiranmu dari duka-lara dengan pergi menjauh dan menyepi.
Menyingkirlah ke pedalaman sepi. Jadi petani atau jadi buruh kecil di pedesaan yang lebih jauh dari hiruk pikuk kemunafikan omon-omon politik dan ketidakberesan sosial.
Pada suatu titik termuak kalian sebaiknya menyingkir dan jadilah tidak peduli sama sekali. Menyepi dan bertapa. Mengheningkan diri. Jauh dari sosmed omon-omon. Menjauh dari basa-basi kemunafikan dunia.
Kelak jika kalian telah kuat, telah jernih dan tenang, di sana kalian turun gunung. Lawan kemunafikan dengan kekuatan yang kalian serap dari petani pegunungan, dari nelayan pantai, dari hening alam pedesaan.
Sebelum terlalu kuat melihat kemunafikan yang berkuasa, tetaplah bertapa. Menyepilah dan tidak usah kalian pedulikan kemunafikan yang sedang menggerakkan negeri ini.
Jaga diri kalian sampai cukup kuat untuk turun gunung. [T]


























