Tirai Kawat
ada seorang ibu membawa termos es cendol
menyelinap di sela pagar pembatas
ia bilang ini jalan menuju doa
padahal anaknya cuma ingin melihat marching band dari dekat
tapi tangan-tangan berbaju loreng
menariknya seperti kucing basah dari jalan
tugu itu berkilau dilap tiap pagi agustus
dari marmer hingga rumput palsu
semua harus mengilap agar pantulan kamera presiden tidak buram
seorang pemuda menyeka keringat sambil jongkok
ia membawa poster: harga cabai lebih merah dari bendera
tak sempat diangkat
sepatu bot sudah mendarat lebih dulu
di dalam pagar
semua berdiri sempurna
tanpa satu pun kesalahan gramatikal dalam lagu kebangsaan
kamera menyorot dari sudut yang paling steril
wajah-wajah bulat penuh gizi
semua tertawa dalam format HD
tapi dari balik tirai kawat
seorang bocah mencolek pundak ibunya
menanyakan kenapa tugu itu tidak punya suara
padahal katanya dulu ia bicara tentang kemerdekaan
2025
Upacara Dalam Amplop
di ruang tamu rumah dinas
seorang pejabat tua mengelap keringat dengan map proposal
di dalamnya ada pembangunan gapura
dan lomba makan kerupuk
dan spanduk bertuliskan merah di atas putih
ia duduk di samping tas kecil berisi amplop
amplop itu gemuk seperti janin kenyang anggaran
setiap kali ia berkata ‘untuk rakyat’
seseorang dari balik meja mencatat dengan spidol stabilo
di luar kantor
anak-anak menyusun kursi plastik
panitia kecamatan berteriak pakai toa
menata barisan lomba balap karung
sementara sapi kurus di belakang panggung
mencium bau sate yang belum disepakati
semuanya berlangsung sesuai rencana
kecuali satu anak kecil yang tidak bisa lari
karena kakinya masuk selokan yang tak pernah direnovasi
ia tetap lanjut balapan
sampai jatuh di garis akhir
di malam harinya
berita diunggah ke media sosial dinas
dengan caption:
“semangat kemerdekaan tidak pernah padam”
Merah Putih dari Plastik
seorang nenek menjahit bendera dari tas kresek bekas
warna merahnya dari kantong sambal
warna putihnya dari plastik sabun cuci
tiap jahitan ia ulang tiga kali
katanya angin agustus lebih kasar dari bulan lain
bendera yang jatuh bisa bikin sial
atau bikin diam
di depan rumah kontrakan dua petak
bendera itu dikibarkan di ujung sapu patah
diikat ke pagar yang juga patah
lalu difoto oleh relawan dari kelurahan
foto itu masuk berita dan viral
lalu ditinggalkan seperti iklan motor kredit
tetangganya yang PNS mengeluh
kenapa tak beli bendera yang resmi
yang labelnya berlogo negara
yang dijual di toko oleh-oleh kemerdekaan
nenek itu cuma tertawa kecil
menyebut cucunya yang hilang di hutan tambang
menyebut anaknya yang dikirim ke laut
dan tak pernah balik
lalu ia kembali duduk
menambal sobekan di bawah warna putih
2025
Lomba Makan Kerupuk
di lapangan desa yang dipakai parkir truk logistik
anak-anak berdiri dengan tangan di belakang
kerupuk digantung di tali rafia seperti harapan
seorang bapak berbaju panitia teriak mundur
sambil sesekali melirik ke meja hadiah
yang isinya sabun mandi, sarden, dan nasi bungkus
seorang anak paling kecil
berdiri paling depan
ia bukan peserta resmi
tapi ikut mencoba menggigit kerupuk
yang bergerak karena angin
kerupuk itu tak pernah benar-benar turun
dan mulutnya hanya kena udara asin
sesungguhnya sudah ada yang menang sejak awal
karena tali kerupuknya lebih pendek
dan lawannya batuk-batuk setiap tengadah
setelah selesai semua tertawa
karena lomba ini bukan soal menang
melainkan latihan untuk tetap lapar sambil tertawa
seorang ibu menyeka mulut anaknya
lalu berkata: “kalau besar jangan rebutan kerupuk”
rebutlah tender
2025
Kembang Api di Langit Kota
pukul sembilan malam
kembang api meledak di langit kota
seorang penjaga parkir mematung di bawahnya
di samping lubang got
yang menelan ban motornya bulan lalu
di layar televisi
merah dan emas menari seperti pesta dewa
seorang artis berdandan seperti pejuang
menyanyikan lagu tentang tanah air
sambil berdiri di panggung sponsor
di jalan belakang pasar
anak-anak menyalakan petasan
meledakkan suara kecil
yang hanya didengar oleh anjing-anjing lapar
ada suara tangis
tapi bukan karena kemerdekaan
melainkan karena ada bocah kena serpihan
kembang api buatan pabrik ilegal
di gedung tinggi
para bos perusahaan memotret langit
sambil bersulang dengan jus
sementara langit tetap gelap
setelah ledakan terakhir
2025
.
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole



























