Penyusup di Taman Kita
Jari jemariku masih mengeja semak belukar pipimu
Subuh itu yang kutandai sebagai fenomena langka.
Pria dengan kulit ungu dan rambut pirang
Membabad habis bunga kita yang tersisa.
tubuhku meledak karena tak mampu menampung
Rahasia paling rumit: tangan tanpa tubuh, tangkai tanpa bunga.
Kematian bergerak lebih cepat dari keinginanku
Seperti sandingan nama kita di janur mimpi yang lenyap.
Maka aku bersaksi: “demi Tuhan”
Sebagai alibi paling masuk akal
Agar allah menjejalkanku sebagai kumbang
Yang tak pernah beranjak dari bunga itu.
Neraka selalu mengulang sebab kematian,
Fenomena kini menjadi aktivitas paling
Menyesalkan sebab detik-detik selalu menari
Mempersembahkan perih paling indah.
Bandung, 28 September 2025
Dua Air Terjun
Bagaimana gemuruh hatimu sampai
Terdengar begitu jauh,
Aku di kota Banjul Gambia Afrika Barat
Bergetar hebat setelah kudengar bangunan
Hatimu luluh lantah oleh bom suara kyai mahfud al kadli.
Jelas Ia bukan teroris, tapi kata-katanya
Seperti rudal balistik yang merobohkan
Apa yang kau bangun di hatimu,
Ratusan arsitektur ego yang indah
Serta musium-musium mesum paling bejat.
Bagaimana sejuk hatimu sampai
Terasa begitu jauh,
Aku di kota Riga Latvia Eropa utara
Menggigil kedinginan melihat dari yang berserak itu
Yang rekah tawa hatimu, yang rindang keikhlasanmu
Tunas-tunas keteduhan tumbuh, Berbuah manis
seperti bacaan surah al-anfal
gurumu di hening subuh.
Kita adalah dua air terjun
Yang kepada tangan kyai itulah
Samudera kita bermuara.
Jauh aku berdiri di ratusan negara
Maka setiap patahan apapun tentangmu
Selalu berkedip di sudut ruang hatiku.
Bandung, September 2025
Harga turun Lima Ribuan
Aku melihat hasrat matamu adalah lembaran uang
Lima ribuan. Receh. Lecek. Dan murah.
Realita mengajarkanmu untuk jujur
Dan berkata “ada APA-nya?”
Sembari tersenyum seolah nurani
Di kubur rapat dalam amplop kosong.
sudut pandang manapun menyepakati
Wajah Choi Ji Woo mu adalah manis
Durian es teler Sultan. Tapi mengapa
Dari yang segala itu berkecai melebur
Seolah yang tersisa hanyalah setetes air
Yang dijerang pada wajan ketamakan yang besar.
Maka izinkan aku tuk menjadi api
Yang akan membakar segenap dirimu
Harga. Bibir. Dan Paha.
Serta apa apa yang telah kau lucuti.
Menjadi api tidaklah buruk,
aku tak perlu bayar tuk menyentuhmu
Karena sebelum semuanya hangus
Aku telah mati terbakar sendiri.
Bandung, September 2025
Ketika aku diterbangkan
Wajahku mendongak melihat
plafon polivinil klorida seolah ku tersedot
Jauh pada tabung transparan
Menuju angkasa yang entah dimana.
Entah mengambang atau tenggelam
Ku tak bisa mendefinisikan.
Seluruhnya Gelap yang luas
dan dingin yang hangat.
Kuperhatikan dengan seksama
Bulatan cahaya mengelilingi tubuhku
Hijau tengah bolong, garis kuning aurora,
Ungu berbunga, guratan rona jingga
Berpesta dan berjingkrak di hampa tubuh jiwaku.
Lalu berkumpulah mereka
Membentuk bagian tubuh yang samar
Menjelma cahaya yang masih kuterka-terka.
Mataku membelalak seolah-olah menemukan
Inti penglihatan di tengah kebutaan.
Kudengar dengan pelan. Sosok itu lantang:
“Akulah yang selalu kau shalawat kan tiap malam”
Hancur. Aku hancur. Melebur dengannya.
Bandung, September 2025
.
Penulis: Redi Aryanto
Editor: Adnyana Ole



























