6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gerak-gerik Budaya Bali

Arief Rahzen by Arief Rahzen
October 1, 2025
in Esai
Gerak-gerik Budaya Bali

Dinamika budaya Bali by Imagen

BUDAYA Bali terus bergerak. Selalu dinamis. Bali berada di simpul cair dalam jaringan dunia, tempat arus manusia, modal, citra, dan gagasan bertemu, berbenturan, dan mencipta. Pagi di Pejeng adalah hening canang sari. Di Canggu, pagi adalah pijar layar laptop yang menyala bagi para pengembara digital, denyutnya terhubung ke zona waktu yang lain. Di sinilah Bali menjadi panggung bagi sebuah drama global: pertarungan antara penyeragaman dan perbanyakan budaya.

Banyak yang khawatir globalisasi akan melahirkan dunia yang seragam, sebuah kebosanan global. Namun, Bali menolak ramalan itu. Di sini, yang terjadi bukanlah homogenisasi, melainkan heterogenisasi. Kelahiran bentuk-bentuk budaya hibrida, lahir dari percakapan sengit antara yang global dan yang lokal.

Mari kita tengok pergerakan budaya Bali lewat kacamata Arjun Appadurai. Baginya, arus global terbagi menjadi ethnoscape (manusia), technoscapes (teknologi), financescapes (modal), mediascapes (citra), dan ideoscapes (gagasan). Kuncinya pada diskoneksi, disjuncture. Kelima arus ini tidak bergerak serempak. Arus itu mengalir dengan kecepatan dan arah yang berbeda, sering kali saling bertabrakan. Gesekan inilah mesinnya. Dari benturan lahir denyut budaya Bali: dinamis, berpacu, dan selalu baru.

Peta Manusia yang Berubah

Manusia adalah arus pertama. Ethnoscape. Lanskap manusia yang terus bergerak ini terdiri dari turis, imigran, pekerja, dan para pelintas batas. Di Bali, arus ini pecah menjadi beberapa aliran. Di jantung Gianyar, turis spiritual datang mencari keheningan. Mereka mengejar citra Bali yang dijual oleh media global: surga untuk penyembuhan jiwa. Di pesisir Canggu, nomaden digital berlabuh. Mereka hidup dari koneksi internet, mencari keseimbangan gaya hidup dalam budaya kerja global. Lalu ada ekspatriat dan investor, pemain jangka panjang yang menancapkan akar di lanskap sosial Bali.

Tiga arus manusia ini menempati ruang yang sama namun dengan mimpi yang berbeda. Gesekan pun tak terhindarkan. Di Canggu, modal asing para nomaden menaikkan harga tanah. Sawah menghilang, tergusur vila. Penduduk lokal terasing di tanah kelahiran mereka sendiri. Inilah wujud nyata dari diskoneksi: daya beli global berbenturan dengan tatanan ekonomi lokal.

Benturan juga terjadi dalam adat. Gaya hidup kaum pendatang (pesta, kebisingan, kebebasan individu) menantang norma komunal Bali yang hening dan sakral. Petisi 8.000 warga Canggu yang muak dengan polusi suara adalah bukti perlawanan. Di sini, ideoscapes kebebasan personal dari Barat bertabrakan dengan ideoscapes harmoni komunal Bali.

Kode, Modal, dan Beton

Teknologi dan modal adalah urat nadi kembar globalisasi. Technoscapes dan financescapes mengalir cepat, tak terlihat, sering kali lepas dari kendali manusia. Di Bali, keduanya mengubah wajah pulau secara radikal.

Lihatlah jalanan. Aplikasi seperti Gojek dan Grab datang membawa kode algoritma. Keduanya menawarkan efisiensi dan harga pasti. Namun, teknologi ini menghantam sistem transportasi lokal yang berbasis komunitas dan teritori. “Zona larangan” muncul sebagai benteng pertahanan. Ketegangan muncul. Inilah perang antara teknologi tanpa batas dan ekonomi lokal yang terikat pada ruang. Pada akhirnya, kode menang, mengubah cara orang bergerak dan mencari nafkah.

Lihatlah tanah. Modal global membanjiri pasar properti Bali. Uang bisa melintasi dunia dalam sedetik, buta terhadap hukum dan adat setempat. Undang-undang Indonesia melarang asing memiliki tanah, namun derasnya modal menciptakan pasar gelap “nominee”. Investor asing menumpang nama lokal, sebuah pertaruhan berisiko tinggi.

Teknologi mempercepat proses ini. Platform seperti Airbnb mengubah rumah menjadi mesin uang, mendorong konversi sawah menjadi vila beton. Sawah ikonik Bali pun tergusur. Diskoneksi di sini begitu telanjang: modal dan teknologi yang cair dan tak terbatas melawan tanah yang terikat oleh hukum, adat, dan spiritualitas. Dari gesekan ini lahir ekonomi, tetapi juga konflik dan lanskap yang terluka.

Pertarungan Citra di Pulau Surga

Citra dan gagasan adalah arus yang tak kalah kuat. Mediascapes dan ideoscapes membangun “dunia yang dibayangkan” yang mendorong manusia bergerak. Selama puluhan tahun, media global melukis Bali sebagai surga nan indah. Sebuah fantasi spiritual yang dikukuhkan oleh buku dan film Eat, Pray, Love.

Citra ini melahirkan sebuah ideologi: Bali adalah tempat menemukan diri, menyembuhkan luka. Ideologi ini menarik para turis spiritual ke Ubud. Sementara itu, ideologi lain tentang kebebasan digital dan hidup seimbang mengalir deras di media sosial. Undangan indah bagi para nomaden digital ke Canggu. Bali menjadi layar proyeksi bagi mimpi-mimpi dunia.

Namun, orang Bali tidak diam. Mereka melawan dengan gagasan sendiri: Tri Hita Karana. Filosofi ini jadi perisai. Tiga penyebab kesejahteraan: harmoni dengan Tuhan, dengan sesama manusia, dan dengan alam. Dalam dunia modern, Tri Hita Karana bukan lagi sekadar ajaran spiritual. Ia dibingkai ulang sebagai model pariwisata berkelanjutan, sebuah jawaban atas pembangunan yang hanya mengejar laba.

Maka, terjadilah perang imajinasi. Citra Bali yang dibayangkan dunia bertemu dengan dunia yang dibayangkan oleh orang Bali sendiri. Tesis global melahirkan masalah, yang dijawab dengan antitesis lokal.

Mengelola Arus Global, Simfoni yang Tak Usai

Arus global tidak pernah diterima secara pasif. Arus itu selalu “dijinakkan” atau di-indigenisasi: diserap, ditafsir ulang, dan dipadukan dengan logika lokal. Di sinilah heterogenisasi terjadi. Bali ahlinya.

Industri pariwisata wellness di Ubud adalah contoh sempurna. Praktik sakral Hindu-Bali seperti ritual penyucian Melukat atau membuat sesajen canang sari, dikemas ulang menjadi produk yang bisa dibeli turis. Melukat menjadi sesi detoks spiritual. Canang sari menjadi lokakarya budaya. Ini bukan penghapusan, melainkan transformasi. Budaya diadaptasi agar selamat secara ekonomi, melahirkan lanskap spiritual-komersial yang baru.

Di garis depan negosiasi ini berdiri para seniman kontemporer Bali. Mereka tidak menolak dunia. Mereka meminjam bahasa seni global untuk mengkritik perubahan di tanah mereka. Seniman seperti I Wayan Bendi menggunakan kuas dan kanvas untuk membedah disjungsi yang terjadi. Ini bukanlah penyerahan diri pada budaya luar, melainkan artikulasi perlawanan yang cerdas dan dinamis.

Gesekan di antara arus-arus yang tak selaras itu kemudian jadi sumber kehidupan budaya Bali. Konflik antara pendatang dan penduduk lokal, antara aplikasi dan adat, antara beton dan sawah. Semua itu bukanlah tanda kematian. Justru dari sanalah lahir bentuk-bentuk perdebatan dan kesadaran diri yang baru.

Bali tak jadi seragam. Bali telah menjadi ruang di mana begitu banyak “dunia yang dibayangkan” hidup berdampingan, sering kali dalam ketegangan. Ada dunia mimpi para pencari spiritual, para nomaden digital, dan para investor. Dan yang terpenting, ada dunia yang dibayangkan oleh orang Bali sendiri, yang terus-menerus merundingkan masa depannya.

Budaya Bali hari ini membuktikan globalisasi bukanlah jalan satu arah menuju kesamaan. Diskoneksi dan perbedaan justru mampu melahirkan lanskap kreativitas budaya yang dalam, menantang, dan tak pernah usai. [T]

Daftar Pustaka

Ardhana, I Ketut, dkk. 2012. Komodifikasi Identitas Bali Kontemporer. Pustaka Larasan: Denpasar.

Appadurai, Arjun. 1986. The Social Life of Things: Commodities in Cultural Perspective. Cambridge: Cambridge University Press.

Appadurai, Arjun. 1990. “Disjuncture and Difference in the Global Cultural Economy” dalam Theory, Culture, and Society. London, Newbury Park and New Delhi: SAGE Publication.

Tags: BudayaBudaya Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bahasa Masyarakat Vernakular yang Kian Terpinggirkan

Next Post

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

“Tenget” Itu di Kota, Bukan di Desa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co