6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Konspirasi di Tengah Gejolak: Psikologi Mencari Musuh Tak Terlihat

Isran Kamal by Isran Kamal
September 19, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

TAHUN 2025 terasa seperti sebuah babak yang penuh gejolak. Di berbagai belahan dunia, ketegangan politik dan sosial memuncak. Nepal menjadi contoh paling mencolok ketika ketidakpuasan rakyat memuncak hingga menumbangkan pemerintahan dalam hitungan minggu. Suatu peristiwa yang memicu perdebatan panjang mengenai kegagalan demokrasi di negara itu.

Jepang pun berguncang, partai yang berkuasa kehilangan mayoritasnya dalam pemilihan legislatif Juli 2025, disertai demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup dan kebijakan pajak yang dianggap membebani rakyat. Di Prancis, tekanan publik membuat perdana menteri mundur dari jabatannya, membuka babak ketidakpastian politik baru. Bahkan Indonesia tak luput dari gejolak, dengan protes sosial, penjarahan dirumah pejabat dan krisis politik yang memicu tudingan adanya aktor asing di balik layar.

Di tengah situasi yang kacau ini, satu fenomena yang menarik perhatian adalah bagaimana narasi konspirasi berkembang nyaris seiring dengan krisis itu sendiri. Setiap pergantian pemerintahan, setiap kebijakan tak populer, hingga setiap gejolak harga bahan pokok, segera diikuti oleh spekulasi tentang adanya “dalang” yang mengatur segalanya.

Sosok seperti George Soros kembali menjadi kambing hitam klasik, dituduh mendanai gerakan protes di berbagai negara. Di media sosial, wacana tentang “campur tangan asing”, “elit global”, bahkan “agenda rahasia” menjadi viral, mengisi kekosongan penjelasan yang sering kali tidak dituntaskan oleh pemerintah maupun media arus utama.

Fenomena ini bukan hanya menarik dari sisi politik, tetapi juga dari sisi psikologi. Mengapa di tengah ketidakpastian, narasi konspirasi justru terasa begitu memikat? Apa yang mendorong masyarakat, baik individu maupun kelompok. untuk menerima penjelasan yang sering kali minim bukti?

Mengapa Konspirasi Menarik

Secara psikologis, teori konspirasi memberi sesuatu yang sangat berharga bagi manusia, yakni munculnya rasa kepastian. Ketika dunia tampak kacau, otak kita bekerja keras mencari pola. Konspirasi menawarkan narasi sederhana bahwa ada penyebab tunggal, ada aktor jahat yang bisa disalahkan, ada penjelasan yang membuat kekacauan tampak “masuk akal”. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal sebagai pattern-seeking behavior, suatu dorongan bawaan untuk menemukan keteraturan.

Selain itu, konspirasi juga memenuhi kebutuhan akan kontrol. Rasa kehilangan kendali atas keadaan hidup, misalnya karena kenaikan harga atau keputusan politik yang tak terduga menyebabkan ketidaknyamanan psikologis. Dengan meyakini adanya aktor tertentu yang mengatur semuanya, paradoksnya, kita merasa situasi itu “dapat dipahami” meski tetap tidak adil. Lebih jauh, teori konspirasi juga bisa memperkuat identitas kelompok. Masyarakat yang merasa terpinggirkan bisa menemukan rasa kebersamaan dengan percaya bahwa mereka “sama-sama korban” dari rencana besar pihak luar.

Di Indonesia, krisis politik baru-baru ini sempat dikaitkan dengan nama George Soros. Narasi ini menyebar cepat di platform media sosial, disertai potongan gambar dan kutipan yang seringkali diambil di luar konteks. Di Nepal, jatuhnya pemerintahan memunculkan tuduhan bahwa negara tetangga, India, ikut campur demi kepentingan geopolitik, meski bukti konkret sulit ditemukan. Di Prancis, rumor berkembang bahwa pengunduran diri perdana menteri hanyalah bagian dari “skema besar” elit Uni Eropa untuk menggiring kebijakan tertentu.

Semua contoh ini memperlihatkan pola yang sama, di mana krisis besar menciptakan ruang kosong yang segera diisi dengan narasi alternatif. Dan di era digital, narasi ini menemukan saluran penyebaran yang cepat dan masif. Algoritma media sosial yang memprioritaskan keterlibatan emosional membuat berita sensasional termasuk teori konspirasi lebih mudah viral dibanding klarifikasi resmi yang kering dan faktual.

Dampak Psikologis dan  Sosial

Narasi konspirasi memang bisa memberikan rasa nyaman sesaat, tetapi efek jangka panjangnya cukup serius. Secara psikologis, terlalu lama hidup dalam kerangka berpikir konspiratif dapat meningkatkan trait anxiety karena dunia terasa penuh ancaman tersembunyi. Individu menjadi waspada berlebihan, mudah curiga, dan sulit mempercayai orang lain, bahkan di lingkaran terdekat. Dalam psikologi klinis, pola ini dapat memperburuk kondisi seperti gangguan kecemasan umum (generalized anxiety disorder) atau paranoia ringan.

Selain itu, teori konspirasi sering memperkuat polarisasi sosial. Orang yang percaya suatu narasi cenderung mencari informasi yang mengonfirmasi keyakinannya (confirmation bias), sementara menolak data yang bertentangan. Akibatnya, terciptalah echo chamber yang memperdalam jurang antara “kami” dan “mereka”. Di media sosial, fenomena ini diperkuat oleh algoritma yang mendorong konten serupa sehingga seseorang semakin terkurung dalam gelembung pandangan tertentu. Bagi masyarakat luas, ini berarti semakin sulit terbangun ruang dialog yang sehat.

Dampaknya meluas hingga ranah sosial-politik. Ketika narasi konspirasi mendominasi, kepercayaan terhadap institusi publik melemah. Pemilu, media, bahkan sains bisa dianggap “sudah diatur” atau “dipalsukan”. Warga menjadi skeptis terhadap kebijakan publik, termasuk yang berbasis bukti. Misalnya, upaya vaksinasi atau kebijakan penghematan energi bisa ditolak karena dianggap bagian dari agenda tersembunyi. Dalam situasi krisis, hal ini sangat berbahaya dan menyebabkan solidaritas sosial terganggu, serta menyebabkan masyarakat tidak mampu merespons secara rasional.

Lebih jauh, teori konspirasi dapat memicu perilaku ekstrem. Individu atau kelompok bisa merasa terdorong untuk “mengambil tindakan” demi melawan musuh yang mereka bayangkan, yang kadang berujung pada kekerasan atau aksi vandalisme. Beberapa kasus penyerangan terhadap fasilitas publik atau pejabat negara di berbagai belahan dunia terjadi karena pelaku meyakini bahwa mereka sedang “menyelamatkan bangsa”. Dalam jangka panjang, negara bisa terjebak dalam siklus ketidakpercayaan, di mana setiap kebijakan selalu disambut kecurigaan, sehingga legitimasi pemerintah terus terkikis.

Dari perspektif kesehatan mental, masyarakat yang terus-menerus diselimuti ketidakpercayaan cenderung mengalami collective stress yang menggerogoti rasa aman dan kohesi sosial. Ketika rasa aman hilang, orang lebih rentan terhadap populisme, ujaran kebencian, dan simplifikasi masalah. Ini menciptakan lingkaran setan dimana semakin banyak ketidakpercayaan, semakin subur teori konspirasi berikutnya.

Kesadaran akan dampak psikologis ini penting agar kita tidak terperangkap dalam lingkaran kecurigaan yang tak berkesudahan. Alih-alih menelan mentah-mentah setiap klaim, kita bisa melatih epistemic humility. Kerendahan hati dalam mengakui bahwa kita mungkin tidak memiliki seluruh informasi. Ini bukan berarti kita harus menutup mata terhadap kemungkinan adanya konspirasi nyata, melainkan belajar menyeimbangkan rasa ingin tahu dengan standar bukti yang wajar.

Di tingkat pribadi, menjaga kesehatan mental di era banjir informasi berarti mengatur pola konsumsi media, memverifikasi sumber, tidak terjebak doomscrolling, dan membatasi paparan informasi yang berlebihan. Di tingkat sosial, pendidikan literasi digital dan berpikir kritis menjadi kunci agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi.

Kita perlu ingat bahwa tidak semua yang terjadi di dunia adalah hasil rekayasa segelintir orang. Sebagian besar krisis adalah hasil kombinasi faktor kompleks seperti kebijakan yang buruk, dinamika ekonomi, bencana alam, atau kesalahan manusia biasa. Menyederhanakan semua itu menjadi “agenda tersembunyi” mungkin memuaskan secara emosional, tetapi tidak membantu menemukan solusi nyata.

Akhirnya, konspirasi adalah cermin dari ketakutan kolektif kita. Dengan memahami mekanisme psikologis di baliknya, kita bisa merespons dengan lebih tenang, kritis, dan konstruktif bukan hanya menjadi penonton atau korban dari narasi yang tidak jelas. [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Jaswanto

Tags: Psikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Empat “Avant Garde”

Next Post

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

Menata Waktu, Menata Masa Depan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co