JAGARAGA ialah sebuah kata kiasan yang berarti “menjaga diri sendiri.” Menjaga diri sendiri berarti menanam benih-benih pengetahuan terhadap diri sendiri. Seperti yang diungkapkan oleh sastrawan besar Bali, Ida Pedanda Made Sidemen, “tusing ngelah karang sawah, karang awake tandurin.” Tidak memiliki tanah sawah, tubuh sendirilah yang ditanami dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Kecuali itu, istilah Jagaraga berarti juga nama lain dari Desa Singapadu sekarang. Dahulu kala bertahta seorang raja di Puri Sangsi yang terletak di Banjar Apuan sekarang. Setelah lama menikah, permaisuri tidak jua melahirkan seorang keterunan yang kelak mewarisi tahta kerajaan. Raja Puri Sangsi yang bernama I Dewa Kaleran Sakti menghadap Raja Sukawati untuk meminta nasehat dan doa agar diperkenankan untuk memiliki seorang putra sebagai penerus tahta kerajaannya. Raja Sukawati yang bergelar I Dewa Agung Anom Sirikan (1710-1745) memberikan salah seorang istrinya yang sedang hamil untuk diperistri oleh I Dewa Kaleran Sakti.
Istri raja itu tak berapa lama melahirkan seorang putra yang diberi nama Tjokorda Api. Berselang beberapa bulan kemudian, permaisuri I Dewa Kaleran Sakti juga akhirnya melahirkan seorang putra yang telah lama diidamkan. Akhirnya di Puri Sangsi terdapat dua orang pangeran yaitu Pengeran Tjokoda Api dan Pangeran I Dewa Kaleran Putra. Raja Puri Sangsi mengambil kebijaksanaan untuk tidak terjadinya “matahari kembar” di Puri Sangsi, maka beliau memindahkan Tjokorda Api ke Alas Jagaraga, sebuah hutan di sebelah barat Puri Sangsi. Di sanalah dibangun sebuah Puri baru yang dinamakan Puri Jagaraga atau Singapadu. Dewasa ini baik Puri Sangsi maupun Puri Jagaraga menjadi satu wilayah yang dikenal dengan nama Desa Singapadu.
Desa Singapadu kini terdiri dari beberapa banjar dinas dan tempekan (pengembangannya) yaitu Banjar Sengguan dan Bungsu, Banjar Kebon dan Kebon Kangin, Banjar Mukti dan Seraya, Banjar Seseh dan Seseh Kaja, Banjar Apuan dan Selat. Desa Singapadu berbatasan dengan Desa Batubulan di sebelah Selatan, Desa Celuk di sebelah Timur, Desa Singapadu Tengah di sebelah Utara, dan Desa Sedang di sebelah Barat. Desa Singapadu memiliki luas sekitar 6500 hektar dan penduduk sekitar 7000 orang. Di Desa Singapadu kini bersemai sejumlah seniman besar, baik seniman seni rupa, seni pertunjukan, seni sastra, dan media.
Di bidang seni rupa Ida Tjokorda Api telah menurunkan pewarisnya seperti Tjokorda Oka Tublen dan Tjokorda Raka Tisnu, maestro seni Barong dan Rangda yang menjadi protipe seni patopengan yang ada sekarang. Di bidang seni pertunjukan maestro I Wayan Geria, I Made Kredek dan Tjokorda Oka Tublen juga berkolaborasi menciptakan dramatari Barong Kuntiseraya yang menjadi ikon seni pertunjukan wisata kontemporer. Generasi muda banyak yang meniti kariernya mulai dari pendidikan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Konservatori Karawitan Indonesia (KOKAR) Bali, dan Institut Seni Indonesia (ISI) Bali menjadikan mereka seniman mahir dan memiliki karisma yang tak lekang oleh perubahan zaman. Mereka memiliki taksu, atau karisma, dalam setiap karya yang diciptakan.
Taksu adalah kekuatan gaib yang memberi kecerdasan, keindahan dan mukjizat. Sebuah karya seni yang memiliki taksu adalah karya seni yang hidup dan berjiwa. “Igel ne mataksu pesan” artinya tariannya hidup dan amat berjiwa. “Togogne mataksu gati,” patungnya amat memiliki karisma. Sebelum menari dia bersembahyang di sanggah taksu. Seseorang yang dianggap katakson bilamana ia dimasuki jiwa yang memberi kekuatan gaib (Warna, 1990:687).
Taksu berasal dari kata “caksu” dalam bahasa Sanskerta yang berarti mata atau penglihatan. Di dalam Kakawin Ramayana disebutkan (stri) caksunyadres na panahnyatitiksna; Di dalam Kakawin Sutasoma diungkap mengenai candra dinakara mahom tulya ning caksu makweh (Zoetmulder, 1982: 291-292).
Sebagai sebuah nilai dalam kebudayaan Bali, taksu terdapat hampir pada semua bidang kehidupan. Khususnya bidang-bidang kehidupan yang membutuhkan keterampilan dan keahlian secara vokasional. Pendeta, penari, koreografer, pelukis, pengarang, pencipta, komposer, kriawan, dan balian, bilamana hasil karya mereka mempunyai karisma dan diterima masyarakat, biasanya mereka dinyatakan memiliki taksu. Bahkan seorang ahli penghubung roh halus dengan manusia, yang bisa memberi petunjuk tentang pengobatan, dan masalah-masalah kehidupan disebut balian taksu.
Pada umumnya taksu lebih sering dikaitkan dengan karya-karya yang memiliki unsur sundaram (keindahan) dan tentu pilar itu tak dapat dipisahkan dari dua pilar lain dalam falsafah kehidupan orang Bali, yaitu siwam (kesucian), dan satyam (kebenaran). Trilogi itu menjadi siwam, satyam, dan sundaram.
Dalam konteks ketiga pilar di atas, agar tercapai kehidupan yang lebih sempurna, dan terwujudnya tujuan utama kehidupan spiritual, maka orang Bali senantiasa mengarahkan bahtra kehidupannya sesuai dengan trilogi di atas, tidak hanya suci dan benar, tetapi juga indah.
Dalam kaitannya dengan Hindu Dharma dan kebudayaan Bali, kesenian memiliki tiga fungsi utama yaitu sebagai persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan segenap manifestasiNya, sebagai pendakian spiritual, dan memelihara keseimbangan hidup.
Ketiga fungsi di atas menyebabkan adanya keuntungan timbal balik antara seni dan sistem kepercayaan masyarakat Bali. Seni memperkuat sistem kepercayaan dengan estetika dan ekspresi spiritualitas yang kuat, sementara sistem kepercayaan memberi seni kesucian (keagungan) dan kedudukan yang penting dalam masyarakat.
Dalam gelar seni yang dilaksanakan oleh seniman Singapadu di Anak Agung Rai Art Museum (ARMA) Ubud terdapat sebanyak 78 orang seniman dari berbagai bidang seni dan aliran pemikiran seperti patung, kria, lukisan, dan media, mereka menampilkan sebanyak 90 karya inovasi masing-masing, merupakan representasi dari gagasan, bentuk dan penampilan yang sangat unik.
Di antara para seniman yang karya-karyanya ikut dipamerkan antara lain I Wayan Pugeg, Tjokorda Raka Tisnu, I Ketut Kodi, I Made Supartha, I Wayan Jana, I Made Ardika, I Ketut Sugantika Lekung, I Wayan Sukarya, I Made Salin, I Kadek Erik Saputra, dan Tjokorda Alit Artawan.
Selain menggelar pameran seni rupa, seniman Desa Singapadu juga akan menggelar sebuah Seminar Seni yang akan membahas tidak saja mengenai perkembangan seni rupa di desa tersebut juga mengenai seni pertunjukan yang nyata memliki tradisi sangat panjang di Desa Singapadu. Para panelist terdiri diri dari Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA., Prof. Dr. Komang Sudirga, S.Sn., M.Hum., Dr. N.L.N. Suasthi Widjaja Bandem, SST., M.Hum., Dr. I Ketut Kodi, SSP., M.Si., Dr. Ni Made Wiratini, SST., MA., I Wayan Sutirtha, S.Sn., M.Sn., I Wayan Darya, S.Sn., I Made Budiartha, S.Sn., M.Si., dan seniman lainnya yang telah memiliki pengalaman di tingkat nasional dan internasional.
Pameran ini dipimpin oleh Tjokorda Alit Artawan, seniman junior serba bisa yang kini menempuh program S-3 dalam bidang seni rupa di ISI Bali. Selamat menebar “Taksu Jagaraga”. [T]
Singapadu, 10 September 2025
Prof. Dr. I Made Bandem, MA.
BACA JUGA:


























