Penyair Muda
kolong puisi telah berganti obituari. dan penyair muda membaca namanya
yang tecetak huruf tebal. berkali-kali
“mari bergembira: penyair muda telah mati muda”
ia mati sebab mengunyah kata-katanya yang batu sendiri
sejak dengungan mesin pencacah kata-kata
melayang bagai hantu yang lebih pekat
dari lendir di kepalanya sendiri
Hari-hari Bapak
pagi-pagi bapak berubah batu
dimasak ibu buat sarapan
bapak pamit ngantor
di dalam tas ditenteng bosan
bapak nyalakan komputer
mengetik-hitung kepuyengan
bahu bapak celengan
dipecahkan bajang buat
bayar hutang pacar
bapak kesal habis baca koran onlen
beritanya wakil rakyat tak suka baca koran
sore-sore bapak pulang kerja
mampir ngopi, seruput ketenangan
bapak udud, hebuskan pegal-pegal
malam bapak ronda ditemani papan catur
diskakmat maling tivi
bapak tertidur
bapak mimpi bapaknya
Lagu Kanak-Kanak: Menanam Jagung
ayo kawan kita bersama
menanam jagung di kebun kita
ambil cangkulmu
ambil cangkulmu
kita bekerja tak jemu jemu
ayo kawan kita bersama
menanam modal di tanah mereka
ambil proyekmu
ambil proyekmu
rakyat mati apa peduli
cangkul cangkul cangkul
kita saling cangkul
menanam susah di pundak mereka
beri soggokan supaya mulus
ambil bonusmu
ambil bonusmu
menanam susah di pundak mereka
(mari nyanyikan dengan penuh khidmat dan berulang-ulang)
Bebek-Bebek
bebek-bebek
abu-abu bulu
lupa cara membau
berguling-guling
memutar-mutar
di situ
hari-hari bebek
siasat loncat kandang
lirik sana-sini
berkoek-koek
lepas kegirangan
berbanjaran
belakang
patuh depan
bebek-bebek tarung
bebek-bebek tetangga
bahu-membahu
tipu-menipu
bagi bebek-bebek
kelompok nomor satu
bebek-bebek
lapar berebut makan
tak kunjung
kenyang-kenyang
bebek entok ayam
Aku Ikan dan Dia Rumput Laut
tuan dan nyonya. kisah ini tak tercatat dalam kitab dongeng kanak-kanak
aku ikan dan dia rumput laut. dulu hari-hari kami tarian sirkus lautan
sebelum petaka menerjang. seorang nabi dangan tongkatnya membelah lautan
selamatkan diri dan umatnya dari buruan firaun dan balatentara
(jadi maka terjadilah)
laut terbelah: air habis. linglung. aku ikan dan rumput laut tersengah-sengah
hirup udara siang dan asing. dari jauh nampak sang nabi berjalan yakin
aku ikan geram pun berteriak:
“tuan mengetuk hati tuhan. tetapi tuan luput mengetuk hati ikan dan rumput laut”
“surga tempatmu”
“tuan hancurkan surga kami”
“ia kekasih tuhan. tak layak dikomentar” sela rumput laut dalam pesakitan
“rumput laut. aku bersaksi tak sekelebat pun kau tanpa zikir. begitu aku ikan. dan semestinya. ah.” kutelan cacianku dan sang nabi berlalu
kulihat sekian pasang kaki alim dan kafir. ratusan atau ribuan. entah
menginjak-injak aku ikan dan rumput laut
(jadi maka terjadilah)
setelah air laut habis menyatu
menghepas. bangkai kambang bersama kafir
jiwa-jiwa hanyut dibawa ombak menuju pesisir
menghantam karang. jadi buih dan dipungut
anak-anak pinggir yang keroncong
dan entah
tuan dan nyonya. abadi dalam kitab suci
kisah gagah nabi dan nasib malang firaun
sedang aku ikan dan dia rumput laut tak peroleh sekabung
tak tercatat di dalam kitab dongeng kanak-kanak
tak jadi tokoh komik
tak jadi gambar papan reklame pinggir jalan
tak jadi inspirasi film komedi
tak jadi iklan majalah dewasa. siaran radio. tayangan tivi
tak digarap si intelek gedung teater kota
atau jadi ceramah kiyai-kiyai kampungan
kecuali jadi santapan malam surut
si pembual ajo sidi
.
Penulis: S. Kamar
Editor: Adnyana Ole



























