Tante Mimi dalam Satir Keramat
: untuk Wayan Jengki Sunarta
setiap kali notifikasi muncul
ada sesak di dada Tante Mimi
tidak ada lagi cerita tentangnya
bagaikan sajak kehilangan makna
sering kali ia berharap, ada sapaan sekadar basa-basi
tapi itu hanya ilusi yang tak pernah berujung
lentik mata Tante Mimi seakan mengudap rindu
dari metafora malam, yang selalu saja terbaca samar
dibiarkannya air matanya mengurai pada musim panas
jika perlu menerka arah angin
dan mengembara ke padang tandus
mungkin di sana ia bisa belajar tentang ikhlas
hari berganti hari,
tetabuhan cinta tidak lagi nyaring terdengar
gema musik seakan menghapus kisah-kisah romantis
sebagian mungkin tersimpan pada museum ingatan
kelak terdengar dalam lirik lagu
yang dimainkan dalam irama zaman
kadang selembut jazzy, atau mungkin dalam tabuhan gamelan
tang membuat penonton melupakan apa itu cinta
El-puerto, kota ini terlalu kecil untuk menyimpan riwayatmu, Mimi
terkadang serupa kotak-kotak kecil beralas tanah
hingga pesan lalu-lalang, bersandar di dinding dermaga
menanti senja, sewarna pukat rindu
untuk merayakan candu asmara
yang tersisip di antara ribuan notifikasi di layar ponselmu
dengan dering senada lagu Vaya Condios
Mimi, engkau mungkin tinggalkan sebongkah cemas menggunung
dalam pengembaraan di grup cinta
yang berkali-kali engkau tawarkan dengan aroma sedap malam
dan kepada sajak, orang-orang menyambutmu
dalam pelukan seolah-olah tampak berperan protagonis
tetapi puisi selalu jujur
tidak pernah berpura-pura menjadi satir
di antara kata-kata yang telah kehilangan nalar keberanian
Ruang Imaji, 2025
Alter Ego
: untuk Arsy
aku tak ingin lagi melangkah dalam keraguan
oleh ucap yang sering kali tidak jujur
aku harus berjalan – bukan untuk menjauh
tapi untuk memerdekakan pilihan hatiku
tanpa mengikat pada hal-hal yang nantinya mengecewakan
dari perasaan yang selalu saja ego
bagaikan genggaman terikat erat
aku harus memulai, dengan sesuatu yang berkali-kali membuatku gagal
tetapi justru ada aroma wangi yang membuatku mengerti, apa itu kebebasan
bukan sekadar kembali tersenyum
sebab sering kali cermin waktu mengingatkan
bahwa cinta tidak harus hadir sempurna
Ruang Imaji, 2025
Gadis Kecil di Bukit Kintamani
aku mulai ragu
dengan mimpi-mimpi yang datang tiba-tiba
seakan malam sengaja diciptakan untuknya
terkadang ia hadir dengan bibir sensual
menawarkan cinta bagai paket komplit
menebar aroma di setiap ruang maya
dan kita eja sebagai teknologi masa kini
aku mencoba menerka
seakan memburu arah angin
dengan sisa keberanian yang ada
mungkin selebar jarak musim
tidak lagi berbatas
sebab terkadang keraguan menusuk tajam ke pangkal ingatanku
yang senantiasa larut dalam pertengkaran batin
seharusnya hanya menyisakan bayangan wajah seseorang
berwajah pekat
sewarna mendung yang tengah berkelana di rimba Afrika
ingin ‘kusampaikan mimpi ini
kepada kawanku yang mungkin tengah berjemur di Pantai Kuta
setelah sekian lama dibiarkannya rindu terpasung
di antara gelora ombak yang mencumbu bibir langit
pikirannya kosong dan mengembara
antara puisi dan gadis kecil berambut panjang di Bukit Kintamani
sama-sama tinggalkan titimangsa sunyi
tidak ada lagi getar notifikasi
di layar ponsel dengan nada desah
yang mengingatkan kisah-kisah romantis
di antara not-not lagu berirama bosas
aku membiarkan malam tanpa kata
menyisipkan rindu dalam sunyi
hingga tercipta nyanyian cinta
entah kepada siapa dinyanyikan
Ruang Imaji, 2025
Di Kamar Gelap
bila kita bertemu di kamar gelap
tidak lagi puisi yang engkau baca
karena kita, satu sama lain bukan lagi kata-kata
engkau dan aku, adalah dendam
dari keterasingan kita menuju cahaya
tidak juga cinta memiliki makna
ketika sepasang musim menjelma dendam
yang membasahi perasaan dalam kemarau panjang
sampai kapan kita bisa bertahan dengan situasi semacam ini
jika acapkali yang terucap hanya metafora tanpa tujuan
ada baiknya, kita mendefinisikan kembali makna cinta
seperti menghitung jarak timur dan barat
tak pernah ingin bersatu, meski musim senantiasa menyapanya
dan sajak berlari ke lorong-lorong pengap
mencari makna dalam keterbatasannya membaca kamar gelap
Malang, 2025
1912
: Kapal Titanic
ini mungkin percintaan kelas tinggi, hanya angin yang mendengarnya
tidak ada suara desah, seperti pikiranmu yang jauh melayang
menusuk ubun-ubun kepala
hingga nyaris retak seperti kaca
engkau bayangkan wajah seorang perempuan
bagai menyatukan kepingan garis yang terukir menjadi huruf
lalu engkau baca dengan lantang
hanya puisi tempat melengkapi imajinasi liar itu
biarkan semesta bernyanyi
di antara hiruk-pikuk zaman
sebab rindu tak lagi bicara tentang cara menyatakan cinta
terkadang hanya sebuah prosais untuk menyimpan musim
seperti badai ombak menerjang
dalam nyanyian pilu: my heart will go on
menusuk sampai ke pangkal ingatan
dan laut itu serupa sekat masa yang tersisa pada tatapanmu
masihkah engkau berteduh pada sajak-sajak
yang kini tidak lagi berbusana, nyaris telanjang
terbaring abadi di dasar lautan, sambil menanti cerita itu dibacakan kembali
dengan desah air laut membilur panjang, sejauh jarak waktu
yang tertulis 1912
Malang, 2025
Sesembahan Api
: kaum majusi
sudahlah, malam tidak lagi bergetar
kecuali Abolqasem Ferdowsi tidak lagi merindukan surga dan menikam rembulan
lihatlah, bulan telah beranjak
dan langkah kita mulai sempoyongan
bukan karena tanah-tanah ini sewarna pekat
adalah sebab puisi kehilangan cinta
hanya berkubang dalam percakapan doa
yang tidak lebih dari sepenggal ketakutan para zoroaster
waktu pun melipat sesembahan api
bukankah matahari lebih garang
menusuk-nusuk lubang rindu
sedalam lautan di Teluk Persia
seringkas jarak ingatan yang tidak pernah tercatat dalam nukil sejarah
dengan cara apa, pikiranmu harus berkelana
engkau lupa, mungkin Ashu Zarathustra sedang lelap bermimpi
di antara kokang senjata yang menjaga tidurnya
dan sajak mulai kehilangan nalar
mengutuk tanah-tanah legam yang melahirkan oroknya
nyatanya hidup selalu terbaca samar
seperti perjalanan untuk menunda kekalahan
dengan segenap peristiwa, kita tidak pernah mampu menuntaskannya
acapkali menghunjam mata kita
selain mengeja hidup dan menyelesaikannya dengan baik
lalu-lalang drama serupa pedati tua, meringkuk zaman
memaksa kita untuk meneteskan getah air mata
mungkin lebih baik diam, duduk merenung diri
pada larut malam yang jengah menanti ayam berkokok
dan perapian di tangan Majusi bertakzim pada suluk kitab
Malang, 2025
Gerbang Panas
: jalan menuju Hades
engkau mengembara dengan kata-kata
pada masa yang meninggalkanmu
dan pada waktu yang mengacuhkanmu
engkau mencoba berkeluh-kesah
pada puisi yang senantiasa diam
tetapi selalu mendengarkanmu
meski angin senantiasa mendera ingatanmu
dan matahari menyengat kulit tubuhmu
sebab hanya dengan puisi, cinta terasa hidup
kepada siang dan malam,
engkau menerka musim
di mana hari-hari terasa panjang untuk dilalui
dengan segenap peristiwa yang mengoyak ketabahan kita
seakan itu adalah gelombang ombak, yang pecahkan keberanian kita
barangkali, sesekali kita harus belajar pada lentera
ia menjadi hidup di antara kegelapan
meski matahari lebih garang darinya
sebagaimana kata-kata menjadi frasa terindah di antara kalimat tertulis
biarkan rindu menjadi titimangsa pada masa-masa yang mengukir arca kata-kata
mungkin, jejak musim hanya tinggalkan daun-daun kertas
pada waktu yang telah menuntaskan usia kita
dan mitologi Yunani mungkin serupa kayu menjadi arang
terbakar dalam peradaban modern
bisa jadi, itu neraka kuno
dari jalan pikiran untuk menguak gerbang panas
dan hanya kepada sajak, ia berteduh
Malang, 2025
Langit di Atas Karet Bivak
kata-kata tumpah ruah di langit kosong
aku menikamnya dengan celoteh sumbang
tetap saja cahaya mematahkannya
di masamu Chairil, langit berisi
kerap kali meneduhkan pusaramu
itu mungkin simfoni dalam kabung, yang
tiada henti penyair bertakziah kata-kata
kelak mereka ingin bertemu denganmu
dengan kata-kata yang ada dalam sajakmu
berputih tulang, sepasang jagal menanti
di batas semesta; wujud dan tidak wujud
awan putih berjalan rendah di Karet Bivak
seakan itu simbol keabadian
pada sunyi yang tidak terbaca
selain angka 28 April menancap di ingatan kita
entah itu perayaan kemenangan
atau mungkin kita hanya menunda kekalahan
dari angan-angan Chairil Anwar yang tidak terwujud
Malang, 2025
Penulis: Vito Prasetyo
Editor: Adnyana Ole



























