KKN Tematik Infrastruktur PUPR Universitas Udayana—yang mendapatkan tugas di Desa Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar—melaksanakan sosialisasi pemilahan sampah di aula Kantor Desa Keramas, Sabtu, 9 Agustus, 2025.
Sosialisasi dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama membahas “Sosialisasi Pemilahan Sampah: Perspektif Kebijakan dan Peran Masyarakat”. Pada sesi pertama diisi oleh I Wayan Subawa dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar. Serta dipandu oleh moderator Anak Agung Ngurah Winata Wirasuputra, mahasiswa KKN UNUD Desa Keramas.
I Wayan Subawa mengatakan, Desa Keramas memiliki semangat dalam penanganan sampah. Terbukti, berdasarkan data dari DLH Gianyar sekitar 80 persen sudah memilah sampah. Sehingga sampah yang masuk ke TPA cukup minim, sekitar 20 persen.
Lebih lanjut ia mengatakan, sampah adalah sumber konflik jika tidak ditangani. Seperti trending topik akhir-akhir ini. Untuk permasalahan sampah sendiri diperlukan sinergitas antara masyarakat, dinas, dan adat.

Kegiatan Sosialisasi Pemilahan Sampah I Wayan Subawa dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Gianyar | Foto: Dok. Panitia
Kemudian ia mengajak kepada para peserta yang hadir. Agar, ketika membuang sampah usahakan langsung memilah. Paradigma pengelolaan sampah yang ditawarkan, yakni pilah, kumpul, dan jual. Paradigma ini dapat dilakukan pada sampah anorganik. Terlebih yang berjenis botol-botol minuman. Jika sudah dirasa cukup untuk dijual, dapat dibawa ke bank sampah.
Untuk pengolahan sampah organik, saat ini di wilayah Gianyar tengah menggalakkan Teba Modern. Kata teba adalah kebun yang biasanya terletak di belakang rumah masyarakat Bali. Biasanya memang difungsikan untuk kegiatan berternak, berkebun, hingga membuang sampah.
Konsep Teba Modern diinisiasi oleh Desa Cemenggaon, Gianyar. Konsep ini lebih merujuk pada sistem pengolahan sampah organik menggunakan buis beton. Buis tersebut diletakkan di halaman belakang rumah (jika memungkinkan). Atau kalau lahan yang dimiliki sempit dapat menggunakan sistem biopori serta diletakan pada tempat yang sesuai.
Pada akhir sesi Subawa menyinggung Sad Kerti dan Tri Hita Karana. Ia mengatakan, konsep adi luhung ini sebenarnya sangat baik. Namun kesadaran masyarakat Bali masih perlu dibangun. Sebab pelestarian hanya pada budaya tidaklah cukup. Sangat percuma jika kebudayaan yang melingkupi kesenian dan tradisi berada di wilayah pulau sampah.
Sesi kedua dipandu oleh mahasiswa KKN UNUD Desa Keramas, Anak Agung Anggun Saptasta Arya Ningrum. Serta menghadirkan narasumber Ketua TPS3R Magelung Desa Keramas, Gianyar, yakni I Wayan Sunarta.
TPS3R adalah Tempat Pengolahan Sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle. Panel kedua ini membahas topik “Pemilahan Sampah: Perspektif Teknis dan Operasional”. Pemaparan materi dimulai dengan menjelaskan secara lebih detail jenis sampah yang ada, yakni anorganik, organik, residu, dan sisa makanan.

Kegiatan Sosialisasi Pemilahan Sampah oleh I Wayan Sunarta Ketua TPS3R Magelung Desa Keramas, Gianyar | Foto: Dok. Panitia
Memegang jabatan sebagai ketua Sunarta melakukan pengabdian sepenuh hati. Ia mengatakan, dari tahun 2022 ia mulai fokus melakukan penyuluhan mengenai pengolahan sampah ke banjar-banjar di Desa Keramas. Sehingga grafik pemilahan sampah di Desa Keramas senantiasa meningkat setiap tahunnya.
Pengabdiannya semakin dikuatkan dengan melakukan studi banding ke Jepang, lebih tepatnya ke Osaka. Selama di sana ia menemukan pemilihan sampah yang baik. Bahkan sampah dibedakan menjadi 28 jenis. Pemisahan sampah tersebut berdasarkan jenis material dan peluang untuk didaur ulang.
Di akhir, Sunarta berharap ada tambahan armada dari pihak Pemerintah Desa Keramas. Saat ini armada berupa truk pengangkut sampah hanya terdapat dua unit. Sehingga untuk mengangkut sampah dari 2000 KK di Desa Keramas cukup kewalahan.
Pada akhir sosialisasi ditutup dengan penyerahan tempat sampah dan plang edukasi sampah dari KKN UNUD TI PUPR 2025 kepada pihak TPS3R Megelung Desa Keramas.
Kami berharap, kegiatan edukasi semacam ini dapat menjadi jembatan bagi pihak dinas, adat, dan masyarakat. Agar, Bali yang dulunya memiliki ungkapan The Last Paradise tidak menjadi The Lost Paradise—karena sampah yang melimpah.[T]
Dipta Kancana, 9 Agustus 2025
Penulis: IGP Weda Adi Wangsa
Editor: Jaswanto











![Cerita Perjalanan Bersepeda ke Labuan Bajo [2]—Celaka! Baru 100 Kilometer Tapi Sekujur Tubuh Sudah Ngilu](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/08/MADE-WIRYA-75x75.jpg)















