6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sagu, Papeda, Sopi, dan Tentang Makanan Pokok Kita

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 5, 2025
in Esai
Sagu, Papeda, Sopi, dan Tentang Makanan Pokok Kita

Pohon sagu

MESKI belum dapat dipastikan dari mana asal-usulnya, pohon sagu pernah menjadi bahan makanan utama di kawasan timur Indonesia, terutama di Papua dan kepulauan Maluku. Boleh jadi dulunya sagu juga menjadi bahan makanan orang-orang Nusantara sebelum datangnya padi, jagung, singkong dan palawija lainnya.

Kata “sego” atau “sega” dalam bahasa Jawa maupun “sangu” dalam bahasa Sunda tampaknya setarikan lidah dari kata “sagu” yang kemudian dipakai untuk menamai “nasi” yang berasal dari tanaman padi. Perlu dicatat bahwa selain sagu, dulunya umbi-umbian adalah makanan pokok orang-orang Melanesia.

Di antara orang Barat yang mula-mula mengenal sagu adalah Marco Polo dan Alfred R. Wallace. Ketika melawat ke Nusantara pada akhir abad ke-13, Pak Marco Polo ini sempat mencatat beberapa makanan dan kue berbahan sagu sedangkan Pak Wallace membawa olahan sagu sebagai bekal menjelajahi kepulauan Maluku dan Papua, termasuk ketika melakukan perjalanan laut dari kepulauan Raja Ampat menuju Kalimuri, Seram, tahun 1860.

Wah, wah, wah. Pak Wallace ini ternyata sudah gentayangan di Raja Ampat bahkan lebih 160 tahun silam, jauh sebelum turis domestik maupun mancanegara di era Republik. Pak Wallace mencatat bahwa selain burung cendrawasih dan kulit penyu, sagu juga dijadikan upeti warga setempat kepada kesultanan Tidore. Sagu pernah dijadikan investasi sosial sekaligus wahana ikatan politik pula.

Selain itu sangat masuk akal jika dikatakan bahwa era bahari Nusantara di abad-abad silam hanya mungkin terjadi karena persediaan makanan yang sesuai dengan budaya tersebut. Para pelaut Bugis dan Mandar misalnya, hanya bisa menjelajahi samudra hingga ke Madagaskar sana karena punya bekal makanan yang tahan lama dan cocok dengan kebutuhan selama perjalanan. Sementara orang-orang Papua dan Maluku, hanya dapat wira-wiri lalu lalang dari pulau ke pulau karena sagu dan umbi-umbian.

(Bagus juga jika makan pagi atau makan siang gratis untuk anak-anak setempat menggunakan bahan sagu dan umbi-umbian yang rendah gula itu, tentu untuk mengikis “beras oriented, diabetik”).

Tentu, salah satu masakan yang sangat populer di Papua, Maluku dan beberapa daerah di Sulawesi adalah “papeda”, yakni bubur sagu yang disantap dengan ikan laut beserta kuah kuningnya yang nyus nyus itu. Dalam bahasa Inanwatan atau bahasa Papua, “papeda” juga disebut “dao”. Selain itu ada pula “sagu bagea”, “sagu baruwa”, “sagu sinale” dan “leraping”.

Di kawasan danau Sentani, Balai Arkeologi Papua pernah menemukan tembikar dan perkakas batu untuk mengolah sagu yang merujuk pada zaman prasejarah. Papeda dulunya dimasak dengan alat gerabah sementara tradisi pembuatan gerabah di Papua sudah dikenal sejak 3.000 tahun silam.

Sementara dalam buku ”The Cyclopædia of India and of Eastern and Southern Asia” karya Edward Balfour (1885) terdapat uraian proses pengolahan aneka makanan berbahan sagu maupun makanan tahan lama lainnya termasuk kue yang mirip biskuit, salah satunya roti sagu kelapa yang disukai orang-orang Eropa pada masa itu.

Tentu, selain papeda, juga ada “sopi”, yakni minuman tradisional yang masyhur di kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Timur (Flores, pulau Timor dan sekitarnya). Boleh jadi nama “sopi” berasal dari kata Belanda kuno “zoopje” yang berarti “minuman ringan”.

Selain dari bahasa Belanda, terkait urusan makanan, di Maluku tampaknya banyak serapan kosa kata dari bahasa Portugis seperti patatas (kentang) dari kata “patatas”, batata (ubi) dari kata “batatas”, salero (garam) dari kata “salero” dan bubengka (kue bingka, lalu menjadi kue bika) dari kata “bibenka”.

Kembali ke sagu, pernah ada cerita menarik. Syahdan pada tanggal 19 Juli 1962 pasukan Republik mendarat di kampung Umerah di pulau Gebe dalam misi merebut Irian Barat (Papua) atas perintah Bung Karno. Pasukan itu kemudian bergerak ke pulau Waigeo melalui pulau Yu.

Setelah sampai di Waigeo terjadi baku tembak dengan pasukan Belanda. Pasukan Republik terperangkap di pulau itu sebulan lebih karena pihak Belanda melakukan patroli ketat dengan kapal perang mereka.

Ketatnya patroli Belanda tersebut menyebabkan menipisnya pasokan logistik sehingga tak ada cara lain bagi tentara Republik kecuali mengganyang sagu, termasuk menyantap ulatnya yang bergizi tinggi itu sebagai makanan sementara pada saat yang sama persediaan makanan pasukan Belanda justru kian menipis.

Ya, sagu turut menjadi faktor penting hingga tentara Republik dapat bertahan terhadap kepungan Belanda. Dan sebagaimana diketahui pada akhirnya Irian Jaya atau Papua barat kemudian menjadi bagian NKRI.

Tapi, saat ini sudah jarang pohon sagu di kampung halaman saya. Yang masih banyak adalah di Kepulauan Aru, tempat istri dan anak saya mencari ikan. [T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Sredek, Makanan Pokok, dan Bagaimana Ia Nyaris Dilupakan
Saat Malam Jatuh di Surabaya Barat
Ubud Food Festival 2025 Merayakan Potensi Lokal: Made Masak dan Bili Wirawan Siapkan Kejutan
Tags: makanan pokokpapedasagusopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kohabitasi dalam Lanskap Komunikasi Politik

Next Post

Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Tri Hita Karana, Kemalasan Tubuh, dan Kebebasan Pikiran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co