DI Bali, kata “libur” punya makna yang berbeda. Bukan hanya soal cuti atau tidak masuk kerja, tapi juga tentang kewajiban adat, kegiatan sosial, dan urusan keluarga besar yang seolah tak ada habisnya. Orang Bali tidak hanya libur untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk keluarga, desa, banjar, dan leluhur.
Saking seringnya ada upacara, warung-warung milik orang Bali bisa tutup tiba-tiba tanpa pemberitahuan. Bukan karena bangkrut atau malas, tapi karena ada upacara. Bisa jadi upacara di pura, kematian saudara jauh, atau sekadar mebraya (gotong royong adat Bali) ke rumah kerabat. Tak heran kalau banyak orang dari luar Bali sering bilang, “bersaing secara usaha dengan orang Bali itu gampang, karena mereka sering libur”.
Coba bandingkan dengan warung Madura, mereka buka 24 jam. Minimarket berjaringan juga tak pernah tutup. Paling-paling hanya saat hari suci Nyepi, itupun karena seluruh Bali berhenti sejenak. Tapi kalau warung Bali, bisa tutup mendadak selama tiga hari hanya karena ada odalan kecil di kampung.
Nengah Simpen tahu betul soal itu. Ia punya warung kelontong kecil di pinggir kota. Warung itu sudah puluhan tahun berdiri. Pelanggannya tahu, kalau warung itu tutup, berarti sedang ada urusan adat. Tak ada pengumuman, tak ada pemberitahuan, hanya gembok tergantung di pintu besi.
“Kalau ada upacara, ya tutup. Kalau tidak ikut, nanti dibilang tidak hormat. Kadang memang capek, tapi begitulah hidup jadi orang Bali,” ucap Simpen sambil menyapu halaman warungnya.
Lain halnya dengan Made Kariada, ia bekerja sebagai pramusaji di salah satu hotel di Ubud. Kesibukan upacara maupun hari raya bukan jaminan bisa libur, ia harus mengajukan cuti jauh-jauh hari kalau ada mebraya. Jika tak sempat, maka pilihan terakhir adalah bayar ayah-ayahan. Artinya, ia mengganti kehadiran dengan sejumlah uang agar tidak dianggap absen secara adat.
“Dulu orang malu kalau harus bayar ayah-ayahan, tapi sekarang sudah biasa. Bukan karena malas, tapi keadaan tidak memungkinkan. Kalau saya nggak kerja, siapa yang bayar listrik di rumah?” ujar Made ketika pulang kampung saat hari raya Galungan, ia duduk di pelataran pura bersama keluarga, menanti giliran sembahyang.
Libur bagi orang Bali memang bukan sekadar rehat, tapi juga bentuk tanggung jawab. Tapi, tanggung jawab itu kini mulai berbenturan dengan kebutuhan ekonomi. Di satu sisi, ada tuntutan menjaga tradisi. Di sisi lain, ada kenyataan bahwa hidup semakin mahal: SPP anak, cicilan di LPD, kredit motor, hingga kebutuhan sehari-hari. Tidak semua bisa ditutup hanya dengan semangat mebraya.
Beberapa orang mulai memilih jalan tengah. Ikut saat bisa, absen jika memang harus, atau menggantinya dengan uang pengganti. Tapi, “pengganti” itu pun tak selalu diterima dengan lapang oleh lingkungan. Kadang ada gunjingan, bahkan tatapan miring.
Zaman memang sudah berubah, tapi perubahan itu tak membuat semuanya lebih mudah, justru makin rumit. Tradisi tidak bisa dihentikan begitu saja, dan hidup tidak bisa berhenti hanya karena kesibukan sosial.
Made Kariada tahu, mungkin suatu saat ia akan benar-benar kembali ke kampung. Berhenti kerja di hotel dan membuka usaha sendiri, agar leluasa ikut mebraya. Sementara Nengah Simpen, tetap konsisten menjaga warung, meski hari operasional tak menentu. Tutup kalau ada upacara, buka kalau sudah selesai.
Mereka adalah dua orang Bali dengan dua cara menyikapi libur. Tapi keduanya masih menyimpan satu hal yang sama: mereka tidak pernah benar-benar meninggalkan, hanya mencari cara agar tetap bisa bertahan.
Bagi orang Bali, libur bukan soal waktu luang. Tapi soal pilihan, dan pilihan itu tidak pernah mudah. [T]
Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:


























