Lelaki di Gunung Batur
ia duduk di samping gerobak kopi robusta
kopinya ditanam ayahnya sendiri
di lereng yang sekarang menjadi tempat selfie
dulu tanah itu disiram darah babi dan abu mayat
sekarang dipoles drone dan judul healing
di belakangnya gunung batur berdiri
seperti orang tua menyerah dan dilupakan anaknya
yang lebih suka menyapa google maps
ia memasak air dengan ketenangan mencurigakan
memakai ketel kecil tanpa gagang
mengukur suhu dengan punggung tangan
kalau air terlalu panas rasa hidup jadi getir
seperti mantan istri yang tidak benar-benar pergi
turis mendekat berharap mendengar kisah spiritual
tapi yang didengar tentang harga gas yang naik
dan anaknya yang tak pulang dua tahun
mereka pergi, kecewa tak ada kisah transendental
padahal sudah meditasi dua jam kemarin malam
lelaki itu tersenyum lalu berkata padaku
di sini yang paling jujur adalah tanah
ia bisa meledak kapan saja tapi lebih memilih diam
2025
Monyet dan Lelaki di Ubud
seorang lelaki menggambar wajah sendiri di dinding pasar
matanya cekung hidungnya hilang
mungkin dicuri arwah penjaga pura
atau disembunyikan oleh kenangan buruk
ia menggambar setiap hari, tak menjual apa pun
ia hanya ingin memastikan
bahwa wajahnya masih ada di dunia ini
meski tak lagi ada di kaca
monyet melintasi bahunya meninggalkan sehelai bulu
yang menempel di cat basah, tak ada yang marah
di ubud monyet adalah saudara jauh
yang kadang mengambil dompet, juga perhatian
turis-turis lewat, mengira lelaki itu seniman jalanan
mereka selfie dengan wajah setengah jadi
dengan narasi pengantar tentang kesadaran diri
lelaki itu tak bicara tapi terus menggambar
bahkan saat hujan turun, bahkan saat pasar ditutup
ia tetap di sana karena katanya jika ia berhenti
ia takut wajahnya benar-benar menghilang
dan diganti wajah-wajah yang lebih mudah dibagikan
2025
Pantai Lovina dan Kesunyian
di dermaga kecil, kapal-kapal bersandar seperti gigi tua
dicat ulang setiap musim agar tetap terlihat muda di mata
nelayan berseragam beraroma tabir surya dan minyak solar
menawarkan paket melihat lumba-lumba pukul lima pagi
tak boleh lebih karena lumba-lumba juga punya jadwal
seorang anak kecil berlari membawa seikat gelang plastik
bertuliskan kata-kata asing yang bahkan ia tak bisa baca
ia menawarkan ke setiap turis lalu tertidur di pelampung
bibirnya bergerak dalam tidur seolah masih menawar harga
lautnya tenang, hampir seperti lupa bagaimana caranya marah
atau mungkin hanya sedang malas
seekor lumba-lumba muncul dalam keheningan
semua kamera menjerit, semua wajah menganga
ia muncul sebentar lalu tenggelam
di kapal, seorang perempuan muda berkata
apakah itu tadi benar-benar lumba-lumba atau hanya bayangan
dari sesuatu yang pernah ingin ia percaya
tidak ada yang menjawab, kapal berputar pulang
kesunyian pun ikut dibawa dalam ransel
bersama magnet kulkas dan cerita separuh benar
2025
Tirta Empul dan Perempuan yang Membawa Bekas Luka
pagi itu seorang perempuan datang membawa sesajen dan luka
ia menunduk di gerbang pura tidak memohon apa pun
hanya meletakkan sesuatu yang tampak seperti nama
ia masuk ke dalam kolam
pelan tanpa melihat ke sekeliling
sementara orang-orang membasuh diri seperti mencuci masa lalu
dengan harapan air tahu mana dosa dan mana kebetulan
lelaki muda di sebelahnya memotret dirinya sendiri
tiga kali lalu mencelupkan ponsel ke air
seolah ingin membaptis memori
ia tersenyum, pura-pura suci dalam sepuluh detik
lalu keluar lagi mencari colokan
perempuan itu tak bergerak, air menyentuh bahunya
lalu lehernya, lalu wajahnya
ia tenggelam dan waktu ikut menunduk
seorang pemangku memanggil tapi hanya angin yang menjawab
konon katanya beberapa orang memang tidak ingin kembali
2025
Tanah Lot dan Lelaki yang Menunggu
ia datang setiap minggu pukul delapan pagi
membawa nasi bungkus dan surat cinta
yang ditulis di balik kertas parkir
ia duduk di batu menghadap laut
menunggu air surut agar bisa jalan kaki ke pura
katanya ia pernah janji akan melamar sang kekasih
saat air benar-benar diam dan langit tak menawarkan badai
tapi air selalu naik
dan waktu tak pernah bisa diajak bicara baik-baik
orang-orang lalu-lalang mengambil foto
mengira ia bagian dari pertunjukan seperti penjual jagung rebus
atau bocah yang menyewakan kacamata hitam
seorang anak kecil bertanya kenapa kakek itu diam saja
ibunya menjawab, mungkin sedang bicara dengan laut
ia membuka bungkus nasinya, memakan setengah
menaruh sisanya di atas batu, untuk ikan atau dewa
ia tak tahu
di sore hari ombak datang lebih keras menghapus jejaknya
menyisakan tanya siapa sebenarnya yang ditunggu lelaki itu
laut atau seseorang yang tak pernah benar-benar pergi
2025
Penulis: Yuditeha
Editor: Adnyana Ole
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain



























