“Menulis jadi cara saya mengungkap perasaan yang tak sempat diucap,” kata Kadek Windari (22), penulis muda yang memilih menyelesaikan kuliah bukan dengan skripsi, melainkan dengan sepuluh cerita pendek tentang perempuan-perempuan di tanah rantau.
Buku itu ia beri judul “Bapak Berdiri di Ambang Pintu”. Ia tulis dalam waktu kurang dari enam bulan. Cerita-cerita dalam buku tersebut tidak sepenuhnya rekaan. Beberapa berasal dari pengalaman pribadi, cerita teman, hingga pengamatan terhadap lingkungan sekitar.
Windari bukan sedang mencari jalan pintas menyelesaikan studi di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), gagasan menulis buku sebagai pengganti skripsi datang dari dosennya, I Made Sujaya, setelah Windari menjuarai lomba menulis cerpen di Pekan Seni Mahasiswa Daerah (Peksimida) Bali 2024 dan lolos enam besar di tingkat nasional di tahun yang sama. Dari prestasi itu, lahirlah ide membuat proyek inovatif berupa kumpulan cerpen.

Sesi foto bersama dengan para penguji ǀ Foto: Agus Sukmadana
Tantangan itu tidak hanya teknis, tetapi juga emosional. “Buat sepuluh cerpen dengan tema yang sama itu benar-benar bikin otak dipaksa berpikir kreatif,” katanya. Dalam prosesnya, ia kerap menghadapi kebuntuan, bukan karena tidak punya ide, melainkan karena terlalu banyak hal yang ingin ia ceritakan. Baginya, menyatukan berbagai cerita dalam satu benang merah membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
“Tantangan terbesar justru melawan kemalasan diri sendiri, terkadang ada rasa jenuh menulis cerita-cerita dengan tema yang sama,” ucap Windari.
Kadek Windari lahir di Denpasar, 15 Maret 2003. Sedari kecil hingga remaja, ia hidup berpindah-pindah, termasuk beberapa tahun tinggal di Buleleng. Hidup yang tak menetap melatihnya menjadi pengamat yang tajam. Ia tumbuh di antara cerita-cerita yang tak selesai, dalam ruang-ruang sementara, di tengah orang-orang yang terus berganti. Pengembaraan itu membuatnya melihat hal-hal yang tak dapat diungkapkan secara gamblang, ia memilih mengungkapkan perasaannya melalui tulisan-tulisan kecil di buku catatan harian.
Menulis baginya bukan hanya soal keterampilan, tetapi kebutuhan. Windari sudah menulis dan tampil sejak lama, tahun 2017, ia meraih Juara Harapan II Lomba Story Telling tingkat Kabupaten Buleleng. Belakangan, ia aktif mengirim karya ke media. Windari juga merupakan salah satu penulis dalam buku antologi kisah “Romantika di Kampus Mahadewa” diterbitkan Mahima Institute (2022), serta menjadi salah satu penulis book chapter “Dari Kejahatan Berbahasa Hingga Bentrok Tafsir: Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya dalam Aneka Perspektif” diterbitkan Pustaka Larasan (2024). Selain itu, ia juga pernah menulis esai dan resensi buku yang dimuat di Tatkala.co. Semua itu ia jalani sambil terus mengasah kepekaan dan kepercayaan diri.

Kadek Windari saat melakukan presentasi (30/6/25) ǀ Foto: Agus Sukmadana
Dalam proses menulis buku tugas akhirnya, Windari didampingi dua dosen pembimbing, I Made Sujaya dan Gede Sidi Artajaya, serta dimentori oleh sastrawan senior, Gde Aryantha Soethama. Mereka memastikan cerita-cerita itu tidak sekadar curahan perasaan, melainkan benar-benar hidup sebagai karya sastra.
“Menulis fiksi bukan berarti asal membayangkan. Saya harus tahu betul perasaan tokohnya, latarnya, kenapa mereka bertindak begitu. Kadang justru lebih rumit dari menulis laporan,” ujar Windari, tersenyum kecil.
Meski kini dikenal sebagai penulis muda yang aktif, Windari punya satu cita-cita lain, yaitu menjadi guru. Ibunya adalah seorang guru, dari rumah ia belajar bahwa mendampingi proses belajar adalah cara lain untuk mencintai kehidupan. Ia kini bekerja di sebuah lembaga bimbingan belajar di Denpasar, sambil menyelesaikan kuliah dan terus menulis kala waktu senggang.
Windari mengatakan, buku kumpulan cerpen Bapak Berdiri di Ambang Pintu akan diluncurkan akhir Juli atau awal Agustus mendatang. Saat itu, buku tersebut sudah bisa diakses dan dinikmati berbagai kalangan.
Setelah bukunya diujikan dan dinyatakan lulus pada 30 Juni 2025 lalu, Windari merasa lega. Tapi lebih dari itu, ia merasa yakin bahwa dunia yang dibangunnya dengan kata-kata bisa menjadi rumah. Bagi dirinya sendiri, juga bagi perempuan lain yang ingin bersuara, meski pelan. [T]
Reporter/Penulis: Dede Putra Wiguna
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:



























