Trowulan, sebuah daerah di Mojokerto, Jawa Timur, telah lama dikenal sebagai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit. Namun, benarkah anggapan ini sepenuhnya berdasar pada fakta sejarah? Ataukah sebenarnya hanya warisan tafsir masa kolonial yang diterima begitu saja tanpa kajian kritis?
SELAMA lebih dari satu abad, Trowulan telah dikenal sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit, kerajaan besar yang disebut-sebut menguasai Nusantara. Dalam buku pelajaran hingga narasi wisata sejarah, Trowulan menjadi simbol kejayaan masa silam. Pandangan ini diperkuat oleh survei kolonial sejak zaman Raffles dan rekonstruksi visual oleh Maclaine Pont yang menafsirkan teks Nagarakretagama ke dalam bentuk kota. Sejak saat itu, narasi Trowulan sebagai Wilwatikta menjadi kepercayaan umum.
Namun, dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah sejarawan dan arkeolog mulai mempertanyakan akurasi klaim tersebut. Ketika teks kuno, temuan arkeologi, dan cerita masyarakat dibandingkan, muncul keraguan: apakah benar Trowulan adalah pusat Majapahit, ataukah kita hanya mewarisi narasi yang dibentuk dari luar?
Apa yang Dikatakan Kitab-Kitab Kuno?
Dua naskah kuno sering dijadikan rujukan dalam menelusuri letak ibu kota Majapahit adalah Pararaton dan Kakawin Nagarakretagama. Menariknya, keduanya menyimpan isyarat yang justru tidak sejalan dengan identifikasi Trowulan.
Dalam Pararaton, dikisahkan bahwa Raden Wijaya membuka hutan bernama Tarik, dibantu orang-orang Madura untuk mendirikan pusat kekuasaan yang kelak disebut Majapahit. Lokasi Hutan Tarik ini diyakini berada di dekat muara Sungai Brantas, sedangkan Trowulan terletak jauh dari muara dan lebih masuk ke pedalaman. Hal ini menimbulkan keraguan geografis bahwa jika pendirian Majapahit bermula di Tarik, mungkinkah Trowulan yang justru lebih jauh dari sungai besar menjadi pusat pertamanya?
Sementara itu, Nagarakretagama karya Mpu Prapanca memuat uraian rinci mengenai tata letak ibu kota Majapahit, seperti letak keraton (pura), kompleks para bangsawan (kuwu), hingga pusat kekuasaan Bhre Daha dan Hayam Wuruk. Namun, deskripsi tersebut sulit dipadankan dengan kondisi fisik Trowulan saat ini. Misalnya, tidak disebutkan keberadaan Kolam Segaran atau kanal-kanal besar yang kini ditemukan di Trowulan. Padahal Mpu Prapanca dikenal teliti dalam mendeskripsikan tempat-tempat penting.
Ketidaksesuaian antara teks kuno dan temuan arkeologis ini membuat banyak peneliti mulai mempertanyakan: apakah Wilwatikta yang dimaksud dalam Nagarakretagama benar-benar merujuk pada Trowulan, atau justru pada lokasi lain yang hingga kini belum pasti?
Jejak Arkeologi di Tanah Trowulan
Secara arkeologis, Trowulan memang menyimpan banyak temuan penting. Ekskavasi Maclaine Pont pada 1920-an dan penelitian lanjutan menunjukkan adanya permukiman besar. Kanal-kanal, fondasi bata, dan struktur pemukiman kuno ditemukan berserakan di kawasan ini.
Meskipun demikian, hingga kini belum ada bukti pasti mengenai letak keraton Majapahit. Tidak ada struktur istana, gerbang utama, atau titik pusat kekuasaan yang dapat diidentifikasi secara meyakinkan. Lapisan tanah di Trowulan bahkan menunjukkan tumpang tindih dari masa berbeda, seolah kota ini dibangun ulang di atas bekas pemukiman lama. Bahkan yang lebih mencolok, tidak ada satu pun prasasti dari era Majapahit yang menyebut nama “Trowulan” sebagai ibu kota.
Nama Trowulan sendiri baru populer setelah survei Wardenaar pada 1815 dan publikasi Raffles dalam The History of Java. Artinya, klaim ini mungkin merupakan hasil penafsiran kolonial daripada keterangan dari masa Majapahit itu sendiri.
Suara dari Situs: Tradisi Lisan di Candi Gentong
Pada Sabtu, 10 Mei 2025, telah diwawancarai seorang juru kunci di Candi Gentong, salah satu situs penting di Trowulan. Dia menyampaikan bahwa selama ini, masyarakat kerap mengaitkan Candi Gentong dan Candi Brahu sebagai bagian dari rangkaian ritual kematian dengan Gentong sebagai tempat pemandian jenazah, Brahu sebagai tempat pembakaran. Hal inid dikarenakan pernah ditemukan sisa abu di dalamnya.
Namun, ketika ditanya apakah itu fakta yang pasti, juru kunci Candi Gentong hanya tersenyum dan menjawab, “Sejarah itu bisa diubah oleh siapa saja. Tidak ada yang tahu pasti. Bisa jadi kenyataannya tidak seperti itu.”
Menurutnya, hubungan antara Candi Gentong dan Brahu hanyalah kemungkinan, bukan kesimpulan mutlak. Dia juga menyebut bahwa wilayah sekitar Candi Gentong sudah menjadi permukiman sebelum masa Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa Trowulan memang penting, tapi belum tentu sebagai pusat pemerintahan. Bisa jadi hanya kawasan ritual atau elite yang berdiri berdampingan dengan pusat kerajaan di tempat lain.


Candi Gentong dan Candi Brahu, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur | Dokumentasi 10 Mei 2025
Lantas, Perlukah Kita Meninjau Ulang Sejarah Majapahit?
Trowulan jelas merupakan situs penting dalam sejarah Jawa Timur, dengan berbagai peninggalan arkeologis yang menunjukkan adanya kehidupan budaya yang maju pada masa lampau. Meski begitu, klaim bahwa Trowulan adalah ibu kota Majapahit sejauh ini masih bersifat interpretatif. Tidak ada prasasti yang menyebut nama Trowulan, dan narasi dari Pararaton maupun Nagarakretagama tidak sepenuhnya cocok dengan kondisi geografis dan tata ruang yang ditemukan di sana. Bahkan, konstruksi narasi ini banyak dipengaruhi oleh sudut pandang kolonial yang dimulai sejak masa Raffles dan Maclaine Pont.
Karena itu, penting bagi kita untuk meninjau ulang sejarah Majapahit secara lebih kritis dan terbuka. Tradisi lisan dari masyarakat lokal, seperti yang disampaikan juru kunci Candi Gentong, mengingatkan bahwa sejarah tidak hanya milik dokumen resmi, tetapi juga tersimpan dalam ingatan kolektif yang sering terabaikan. Pendekatan sejarah inklusif yang menggabungkan data arkeologis, teks kuno, dan narasi lokal, akan membuka jalan menuju pemahaman yang lebih utuh dan adil terhadap masa lalu.
Sumber Pustaka:
- Agus Munandar. (2010). Ibukota Majapahit: Masa Jaya dan Pencapaian. Jakarta: Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
- Indonesia.go.id. (2021). Trowulan adalah Ibu Kota Majapahit? Diakses dari: https://indonesia.go.id/kategori/komoditas/1350/trowulan-adalah-ibu-kota-majapahit
- iNews Mojokerto. (2022). Trowulan Bisa Jadi Bukan Ibukota Majapahit, 4 Data Ini Jadi Alasan. Diakses dari: https://mojokerto.inews.id/read/135224/trowulan-bisa-jadi-bukan-ibukota-majapahit-4-data-ini-jadi-alasan
- Kompasiana. (2022). Prasasti Pembakaran Mayat di Candi Brahu Kabupaten Mojokerto. Diakses dari: https://www.kompasiana.com/titinyulianingsih8954/62b2a925a0cdf86342656d35/
- Radarmajapahit.jawapos.com. (2023). Mengeksplorasi Sejarah Candi Gentong, Peninggalan Kerajaan Majapahit di Masa Kepemimpinan Raja Hayam Wuruk. Diakses dari: https://radarmajapahit.jawapos.com/darmo-corner/2295913799/
- Wibowo, A.S. (n.d.). Nagarakretagama dan Trowulan. Diakses dari Repositori Kemdikbud: https://repositori.kemdikbud.go.id/9924/
- Wawancara Juru Kunci Candi Gentong, Trowulan, Mojokerto pada 10 Mei 2025.
Penulis: Vivit Arista Dewi
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA:

























