Bleki, Sang Penjaga Alam
Kami sebut dia kucing hitam,
Mata yang membelah malam sunyi,
Jendela menuju alam yang tak terjangkau,
Cenayang, perantara dunia tersembunyi.
Bukan sekadar kucing,
Namun permata dalam lipatan waktu,
Memancarkan cahaya bagi jiwa yang terjaga.
Bereinkarnasi,
Serpihan roh terbang di angin,
Membawa bisu yang berbicara dalam hening.
Pelipur lara,
Langkahnya menari di antara dimensi,
Menebar kehangatan di ruang tanpa suara.
Bleki, penjaga bayang,
Mengikatkan rahasia yang hanya kau pahami,
Cahaya dalam gelap yang tak terungkap,
Penenang dalam riuh yang tak tampak.
Pekanbaru, 2025
Kafir
Teriak menggema di antara menara dan bayang,
menuding langit,
padahal jendela dalam dirinya tertutup rapat oleh debu warisan.
Ia lupa,
bahwa kafir bukan sekadar bunyi dari lidah,
melainkan kabut pekat
yang dipelihara di dalam dada,
tempat cahaya dipantulkan,
bukan diserap.
Ia menggenggam malam
seolah fajar adalah musuh.
Menolak mentari,
namun menyalahkan dunia karena gelap.
Kafir—
bukan hanya mereka yang tak menyebut,
tapi mereka yang menutup,
yang membungkus telinga batinnya
dengan daun dogma kering
yang tak lagi bernapas.
Pekanbaru, 2025
Perjamuan Malam, Ruang Kosong
Di ruang yang tak bernama, malam menghidang sunyi,
setiap hela napas menjelma kidung tak bersyair.
Tiada suara—hanya gema
yang mengalir dari sumur terdalam keberadaan.
Perjamuan ini tanpa piring,
tanpa kursi,
hanya kehadiran yang saling mengenali
tanpa menyebut, tanpa menjabat.
Dalam hening yang meluruh,
aku menjelma wadah yang tak meminta.
Keberadaan menjadi sajian,
dan cukup—
menjadi suapan paling sunyi
yang pernah kucerna.
Pekanbaru, 2025
Penulis: Cindy Neo
Editor: Adnyana Ole
[][] Klik untuk BACA puisi-puisi lain



























