6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Son Lomri by Son Lomri
July 29, 2024
in Ulas Film
Selama Masih Ada Rasisme, Maka Film seperti “Maria Ado’e” akan Terus Diproduksi dan Diputar

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

TOKOH utama film Maria Ado’e (2020), Maria, membuka cerita dengan wajah letih sepulang dari sekolah. Sementara seorang perempuan, tetangga kamar Maria, baru saja keluar dari kamar mandi yang bersebalahan dengan kamar tidur Maria itu, menatapnya sangat sinis sambil berjalan pergi dengan menutup hidungnya.

Maria berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) sedangkan tetangga kamarnya dari daerah lain. Tetapi mereka tinggal satu kontrakkan, dan kamarnya saling berhadapan, pula sangat dekat. Tatapan dan wajah sinis tak berhenti saat mereka berpapasan di depan pintu tadi.

Tetangga kamar Maria menyemprotkan pewangi ruangan ke jejak Maria terakhir berdiri. Suara semprotan yang nyaring terdengar sampai ke dalam kamar Maria. Srooot..srooot..srooot….

Maria bau. Begitulah kira-kira adegan itu ingin menyampaikan sesuatu secara vulgar. Tingkah laku yang frontal tersebut tentunya tak mengenakan perasaan Maria. Karena itu Maria membeli segala macam pewangi badan dan ruangan, pengusir kecoa, juga body lotion agar dirinya tak bau saat diendus si tetangga.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ya, tetangganya sering mengendus, memastikan bau Maria tidak ada di segala sudut rumah itu: tetangganya seperti anjing—atau memang anjing? Sedang benda-benda yang mengeluarkan bau wangi itu terkumpul lebih banyak di meja belajar Maria daripada buku bacaan. Maria memiliki ketakutan tersendiri sebagai minoritas.

Bahkan, walaupun Maria sudah memakainya berulang kali itu parfum, sepertinya stereotip buruk terhadap “ras” kepada orang timur, lebih menyengat daripada bau yang menguar dari kulit Maria yang alamiah. Dari sanalah wacana rasisme itu dapat dilihat dari film Maria Ado’e yang disutradarai oleh Gleinda Stefany tahun 2020.

Setidaknya, pesan yang saya tangkap dari film tersebut—hendak menyampaikan pesan “genting”—bahwa fenomena rasisme masih belum selesai di tubuh bangsa ini, terutama rasisme terhadap masyarakat Indonesia bagian Timur, dalam hal ini NTT—yang kerap menjadi sasaran empuk bagi mereka yang merasa dirinya superior, merasa diri lebih modern hanya karena toiletnya duduk.

Film Maria Ado’e diputar bersama empat film pendek lainnya—“Mana Handphoneku”, “Tergila-gila”, “Coblosan”, dan “Pengen Hape”—oleh Komunitas Singaraja Menonton di Rumah Belajar Komunitas Mahima dalam rangka Minikino Monthly Screening & Discussion Jully, Sabtu (26/6/2024) lalu. Film tersebut membuka diskusi terkait bagaimana isu rasisme yang sampai hari ini belum juga selesai.

Setahun sebelum film itu digarap, tepatnya di tahun 2019, fenomena rasisme telah terjadi di Surabaya, menimpa anak Papua, dan itu cukup membuat geger satu negara, terutama di daerah Papua sendiri kasus tersebut sangat menyala.

Suasana menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Film yang digarap oleh Gleida masih ada menariknya walaupun isu rasisme masih terkesan klise sebenarnya, tapi apa boleh buat, selagi rasisme ada di dunia ini, khusunya Indonesia Raya ini, film seperti Maria Ado’e harus tetap dibuat, diputar—dan disebar luaskan ke anak cucu.

Di samping isu rasial yang diwacanakan oleh Gleida melalui filmnya, ada sisi lain yang terangkat, yaitu perjuangan dan pemberontakan bagaimana Maria—sebagai seorang anak NTT— yang melancong ke Jawa untuk merubah nasib melalui pendidikan, berusaha keras untuk dirinya bisa diterima dilingkungan tempatnya tinggal.

Perjuangan itu termanifestasikan ketika adegan Maria menggosok tangannya dengan beklin—pemutih untuk pakaian—di sela-sela mencuci bajunya kemudian mengguyur badannya dengan air beklin bekas cuciannya itu agar kulit hitamnya menjadi putih. Agar tetangga kamarnya tidak mengatai dia si hitam lagi.

Adegan yang lebih ironis, Maria selalu berjuang untuk tidak meninggalkan jejak (sampah), bahkan bau dirinya sekalipun yang selalu diendus tetangga kamarnya itu di segala sudut. Ia semprotkan juga alat-alat pewangi ruangan, salah satunya di dapur bekasnya masak. Maria, menjadi sesosok yang sangat sial di republik ini barangkali, terutama hidup di Pulau Jawa?

Namun yang disayangkan, sekadar mengutip pendapat Made Adnyana Ole saat sesi diskusi, secara teknis jalan cerita film tersebut terdapat adegan tidak selaras dengan wacana rasisme yang sedang dimainkan atau masih bocor secara pengemasannya.

Suasana diskusi setelah menonton film di Rumah Belajar Komunitas Mahima | Foto: Kardian

Ialah adegan di akhir cerita, ketika Maria memasak babi yang ia ambil dari kulkas bersama ketika kontrakan sedang sepi—adegan atau simbolik itu justru lebih tendesi pada ranah atau isu agama (mayoritas) di sana.

Sehingga adegan itu tidak ngena secara wacana, yang ingin menyenggol isu warna kulit atau bentuk tubuh yang berbeda. Ketika Maria ditanya “Bau apa di kulkas situ?” oleh tetangga kamarnya berkulitnya putih—khas perawatan—dia menjawab, “Babi!”

“Hal demikian masih terasa rancu—walaupun secara teknis pengambilan gambar nyaris sempurna,” kata Ole, panggilan akrab sastrawan dan wartawan senior itu. “Untuk film dengan muatan rasisme terkait warna kulit, tapi ditutup dengan adegan yang lebih mengarah isu agama seperti “babi” tadi, sepertinya kurang masuk atau masih cacat secara logika,” sambungnya.

Namun, walaupun begitu, adegan tersebut, menurut hemat saya, masih sangat mengejutkan penonton, walaupun endingnya memang kurang masuk akal. Dan, secara tontonan, film ini asyik untuk dinikmati, dipandang sebagai pemberontakan sederhana sosok Maria setelah tak dihargai setiap usahanya untuk menjadi wangi dan memutihkan warna kulitnya.

Menjelang akhir cerita, sekali lagi, dan ini adegan yang paling saya suka, Maria menyebut tetangganya yang intoleran tersebut dengan sebuatan “BABI”—sambil angkat jari tengah, fuck you! Bagi saya, ini sebuah pemberontakan.[T]

Percayalah, Semua Doa Itu Baik: Catatan Kecil Film “Berdoa, Mulai”
Mrs. Chatterjee vs Norway: Melodrama Seorang Ibu India dan Penipu-Penipu Norwegia
Society of the Snow (2023): Kisah Mengerikan dari Pegunungan Andes
Tags: Film Maria Ado'efilm pendekKomunitas MahimaSingaraja Menonton
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Redientz dan Romantisasi Kesedihan Dalam Debut EP Moving 

Next Post

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails

Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

by Dian Suryantini
January 13, 2026
0
Film Pendek ‘Anuja’: Ketika Mimpi Sekolah Harus Berhadapan dengan Realitas Pekerja Anak

FILM pendek Anuja terasa seperti tamparan pelan tapi tepat sasaran. Film ini tidak berisik. Tapi berhasil membuat penontonnya terngiang. Saya...

Read moreDetails

Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

by Jaswanto
December 18, 2025
0
Drama “Taxi Driver” dan Fantasi Keadilan Netizen Indonesia

ADA sebuah komentar dari netizen―yang saya lupa entah di mana―tentang drama Korea (drakor) berjudul “Taxi Driver”. Komentar itu begini, “Seandainya...

Read moreDetails

Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

by Vivit Arista Dewi
December 2, 2025
0
Dari Rumah Hantu ke Panti Jompo: Langkah Baru Film ‘Agak Laen’ yang Menggaet Jutaan Pasang Mata

Film Agak Laen kembali hadir dengan langkah yang jauh lebih berani dari sebelumnya. Setelah sukses mengacak-acak rumah hantu, kini mereka...

Read moreDetails

Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

by Bayu Wira Handyan
November 13, 2025
0
Pangku (2025): Safari Kemiskinan di Pantai Utara Jawa

SEDIKIT film di Indonesia yang berani menampilkan kemiskinan sebagaimana adanya—banal, kasar, tanpa romantisasi. Sebagian besar memilih jalan aman, menjadikan kemiskinan...

Read moreDetails

The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

by Bayu Wira Handyan
November 7, 2025
0
The Long Walk (2025): Ritus Kekejaman di Jalan Panjang Tak Berujung

ADA sesuatu yang menakutkan tentang jalanan yang lurus. Ia tidak menjanjikan sebuah tujuan, tetapi yang ia berikan adalah cakrawala yang...

Read moreDetails
Next Post
Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Hotel Tua di Bedugul Berhenti Beroperasi, Kini Jadi Tempat Piknik Warga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co