7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rare Angon, Memutar Aksara

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
October 22, 2023
in Esai
Rare Angon, Memutar Aksara

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

INI tentang makna sebenarnya dari Rare Angon dan berbeda dengan apa yang dipahami banyak orang selama ini. 

Kita tahu, setidaknya ada tiga versi Rare Angon.  Pertama, berupa cerita rakyat tentang bocah gembala.  Kedua adalah lontar Tutur Rare Angon yang menceritakan kehidupan manusia sejak dalam kandungan sampai meninggal dan berbagai upacara yadnya yang mengiringinya.  Ketiga, Rare Angon sebagai uparengga dalam upacara yadnya besar, biasa disebut ngadegang Betara Rare Angon.

Rare Angon memang berarti bocah gembala tapi itu bukanlah sekadar cerita anak gembala seperti yang dikenal secara literal dari cerita rakyat. Rare Angon itu sesungguhnya tatwa atau tutur pemutaran aksara suci, dasa aksara, dalam ajaran kerohanian Bali.

Rare angon dibentuk dari permainan akronim ra-re dan ang-ah. Suku kata ah dimodif jadi ong atau dilafalkan on agar dapat membentuk kata angon. Ra dari raditya yang bermakna putih, atas, dan re dari kata rekta yang berarti merah, bawah. Ra dan re dibayangkan membentuk garis vertikal. Sedangkan antara ang dan on membentuk garis horizontal. Penggabungan garis vertikal dengan garis horizontal ini akan membentuk tanda tapak dara (+). Jadi, kata ra-re  ang-on itu permainan majas  untuk menggambarkan simbol tapak dara dalam imajinasi kita. Tapak dara ini dalam ajaran lain disebut Kandapat.

Setiap orang memiliki tapak dara  dalam dirinya. Di mayapada ini manusia hidup memikul tapak dara.  Yang dimaksudkan dengan tapak dara ini adalah empat kutub suksma sarira kita, yakni citta (pikiran rohani), manah (pikiran logika), ahamkara (ego) dan budi (rasa). Dalam kandapat, ini disebut anggapati, prajapati, banaspati, banaspati raja, atau dijuluki Ratu Ngurah Tangkeb Langit, Ratu Wayan Tabeng, Ratu Made Jelawung, Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Tapak dara adalah dualitas yang saling berhadapan tapi berjarak antara yang satu dengan lainnya, antara pikiran halus dengan pikiran logika, rasa halus dengan ego.

Suksma sarira merupakan satu lapisan dalam diri manusia, selain stula sarira atau badan jasmani, dan antakarana sarira yaitu atman, ruh atau jiwatman. Dalam Hindu, jiwatman atau ruh ini dianggap percikan kecil Brahman, Siwa atau Tuhan.  Ini yang membuat kita hidup.

Ajaran di Bali mengidealkan kita dapat mengantarkan jiwatman atau ruh itu moksa atau kembali ke sumbernya, menyatu dengan Tuhan, serta terbebas dari reinkarnasi. Sayangnya, jalan moksa itu rumit, mensyaratkan kita membebaskan sang ruh dari kegelapan duniawi kita.

Pada dasarnya, suksma sarira berada dalam pusaran kegelapan karena terikat hukum duniawi. Alam pikiran atau suksma sarira terkoneksi dengan energi gelap jasmaniah, kerap disebut sifat-sifat negatif atau hewani dalam diri kita.  Ini yang membuat hidup senantiasa berputar-putar dalam tarikan gelap energi panca mahabuta, panca indera, asubha karma, dsb. yang merupakan hukum kelahiran. Ini pula yang membuat sang ruh terus berkubang dalam kegelapan dan harus memikul beban tapak dara yang gelap sehingga ia sulit naik menuju moksa.

Untuk mencapai moksa, jalan satu-satunya adalah membebaskan diri dari belenggu duniawi, dengan membersihkan, menyucikan, mencerahkan stula sarira dan suksma sarira, atau lahir dan batin kita.  Kita harus menjadikan diri sebagai  “Anak Siwa” di dunia ini agar kelak dapat naik  ke Alam Siwa.

Dari perspektif kerohanian Bali, tubuh kita ini terdiri dari aksara. Organ-organ vital kita, seperti jantung, hati, empedu, paru-paru, ginjal dan sebagainya adalah linggih aksara, disebut Dasa Aksara, yakni Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya.  Aksara-aksara inilah yang harus dihidupkan agar naik kelas jadi aksara Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang.  Secara spiritual, ini artinya kita mengaktifkan energi dewata dalam kesemestaan raga kita. Dan itu kemudian mempengaruhi kualitas tapak dara atau suksma sarira dan seluruh prilaku kita. Kita jadi manusia tercerahkan.

Dalam Rare Angon, pembersihan atau memutar dasa aksara ini disimbolkan dengan pindekan. Putaran pindekan ke kanan, lambang swastika, sebagai energi Siwa, putarannya naik. Maknanya sebagai pencerahan rohani. Sedangkan pindekan berputar ke kiri, lambangnya swastika terbalik, membalik dasa aksara, samkya, energi Budha, turun. Maknanya sebagai pencerahan budi atau kehidupan lahiriah. Inilah ideologi Siwa-Budha.

Memutar aksara atau menyucikan diri, di Bali dilakukan dengan berbagai tradisi serta upacara yadnya berkesinambungan sepanjang hayat sesuai lontar Tutur Rare Angon, juga dengan jalan tapa brata yoga samadhi.

Proses spiritual tersebut membuat tapak dara dalam diri aktif dengan energinya yang cemerlang, bersih dari kegelapan dan kehilangan dualitasnya. Seluruh energi menyatu ke porosnya, membentuk kulminasi kesadaran yang digambarkan sebagai linggih aksara Ongkara, simbol jiwa-budi yang tercerahkan. Pribadi yang mencapai pencerahan level ini diibaratkan sebagai Siwa sekala, Siwa kecil, Anak Siwa. Inilah yang diabstraksikan melalui sosok Rare Angon. Si Anak Gembala. Orang yang mengembalakan sifat-sifat hewani dalam diri.

Rare Angon adalah Ongkara. Seluruh atribut Rare Angon, seperti layang-layang, sabit, tanduk kerbau, dan cemeti adalah simbol karakter Ongkara, menggambarkan kualitas tapak dara atau suksma sarira yang tercerahkan.

Atribut sabit atau topi segi tiga Rare Angon itu merupakan simbol Ongkara Gni. Melambangkan manah atau pikiran logika tercerahkan, pikiran bergairah, sensitif, tekun dan kreatif dalam menerima, menghayati, dan mengolah ilmu pengetahuan. Inilah disebut jalan Tapa. Dalam Catur Marga, namanya Jnana Marga Yoga.

Atribut berupa tanduk kerbau adalah simbol Ongkara Mrta. Melambangkan ahamkara yang tercerahkan sehingga sensitif dan cerdas mengelola energi ego dalam  usaha mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia. Mampu menunaikan swadarma dengan teguh dan ikhlas tanpa terikat dengan hasil. Ini yang disebut jalan Brata. Dalam Catur Marga, namanya Karma Marga Yoga.

Pecut atau cemeti adalah simbol Ongkara Pasah. Melambangkan rasa yang tercerahkan sehingga emosi dan rasa selalu memancarkan kasih. Segala aktivitasnya di dunia dibimbing oleh spirit bakti, pelayanan dan kasih. Ini namanya jalan Yoga. Dalam Catur Marga, ini namanya Bhakti Marga Yoga.

Layang-layang dengan guwangannya itu lambang Ongkara Sabdha. Menggambarkan sifat religius.  Citta atau pikiran rohani yang tercerahkan membuatnya selalu terkoneksi serta sensitif menangkap getaran pengetahuan atau spirit Siwa semesta. Ini namanya jalan Samadhi. Dalam Catur Marga disebut Raja Marga Yoga.

Itulah Rare Angon. Pencapaian karakter ideal sesuai ajaran kerohanian Bali, sebagai manusia religius sekaligus berbudi. Hidup dalam naungan ideologi Siwa-Budha, seimbang lahir-batin. Tak lagi memikul beban tapak dara tapi hidup di atas tapak dara atau hidup napak dara. Karakter ini digambarkan dengan aksara Ongkara Adumuka. Atributnya berupa sunari dan seruling.

Sunari itu lambang rohani tercerahkan. Interaksi antara spirit diri dengan semesta akan menciptakan energi batiniah yang indah. Kita mampu menangkap getaran semesta, sebaliknya semesta akan menggetarkan jiwa kita dalam harmoninya.  Kondisi ini digambarkan sebagai interaksi antara ruang kosong bambu dengan angin semesta yang menciptakan penyatuan religius bak dengungan suara sunari yang singid samun-samun itu.

Sedangkan kehidupan lahiriah yang tercerahkan akan menciptakan interaksi yang selaras dengan gerak semesta.  Prilaku kita akan mengalirkan energi kehidupan yang indah. Trikaya parisuda atau bhakti kita ibarat meniup seruling, mengelola sepuluh lubang aksara dalam diri, sehingga mampu memproduksi gerak dan irama prilaku kehidupan yang merdu dan damai di lingkungan dunia ini. Dalam Kandapat, pencapaian ini disimbolkan dengan nama Ratu Ketut Petung. Inilah  prasyarat ideal bagi Sang Jiwatman untuk bisa tinggal landas dan pergi ke negeri impian, ke Alam Siwa alias moksa.

Begitulah kira-kira makna Rare Angon. Ini hanya renungan singkat, ditulis dengan cepat, tidak terlalu detail. Makna aksara-aksara itu bisa sangat luas, berlapis-lapis, bersudut-sudut, sehingga tak terlalu mudah juga merumuskannya menjadi cerita sederhana yang nemu gelang. [T]

Tags: ceritafilosofifilsafatrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terbaik pada Lomba Musikalisasi Puisi di Unud, Komunitas Budang Bading Badung Makin Kompak

Next Post

Dari Nepotisme Hingga Dinasti: Catatan dari Asta Dasa Parwa dan Bayang-Bayangnya dalam Realita

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Dari Nepotisme Hingga Dinasti: Catatan dari Asta Dasa Parwa dan Bayang-Bayangnya dalam Realita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co