6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

I Wayan Sukarta Yasa by I Wayan Sukarta Yasa
February 25, 2023
in Ulas Buku
Novel Sutasoma Karya Cok Sawitri dan Bingkai Kebhinekaan

Novel Sutasoma karya Cok Sawitri

SETIAP KALI aku mendengar nama Sutasoma, hal pertama yang mencuat dalam pikiranku tertuju kepada semboyan bangsa kita (bangsa indonesia) yang diusulkan oleh Muhammad Yamin. Sloka “Bhinneka Tunggal Ika” yang dipegang oleh kedua kaki garuda sebagai lambang persatuan. Usul itu ia lontarkan kepada Soekarno dan bapak-bapak bangsa yang hadir pada saat itu. Muhammad Yamin mengambil sloka itu dari Kakawin Sutasoma pupuh 139, bait 5.

Secara lengkap bait 5 berbunyi:

Rwaneka dhatu winuwus Buddha Wiswa,
Bhinnêki rakwa ring apan kena parwanosen,
Mangka ng Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal,
Bhinnêka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

(Konon Buddha dan Siwa merupakan dua zat yang berbeda. Mereka memang berbeda, tetapi bagaimanakah bisa dikenali? Sebab kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Berbeda-bedalah itu, tetapi satu jualah. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.)

Kutipan sloka tersebut merupakan bagian dari susastra dalam bahasa Jawa Kuno yang sekian lama telah kukenal, versi “Kapustakan Jawi” karya Poerbatjaraka tahun 1952. Kisah kisah yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad ke-14 dari kisah yang sama di India.

Kakawin ini berisi sebuah cerita epik dengan Sutasoma sebagai protagonisnya. Amanat yang tertuang didalam kitab ini mengajarkan kita akan toleransi antar agama, terutama antar agama Hindu-Siwa dan Buddha.

Oleh sebab itu dalam usulannya Muhammad Yamin mengusulkan agar kutipan sloka tersebut digunakan sebagai semboyan bangsa kita, dengan konteks ia ingin menyatakan toleransi antar agama dan antar kepercayaan yang ada di jagat nusantara ini (Indonesia).

Kedua, barulah pikiranku mengingatkanku pada sebuah novel masterpiece dari Cok Sawitri, perempuan pengarang dari Bali. Sutasoma, itulah nama dari karya Cok Sawitri tersebut, yang diilhami dari kitab Sutasoma (Purosadha) karya Mpu Tantular. Hal tersebut diperkuat dengan kutipan dari Wartono dan Still (1990:1) yang menyatakan bahwa pengarang adalah pembaca teks, dan hal tersebut sudah dapat dipastikan karena di Bali sendiri kakawin Sutasoma sangat dikenal dalam masyarakat.

Selain itu, pemikiran-pemikiran atau ide brilian dari Cok Sawitri, yang tertuang dalam buku ini memberikan warna yang beragam dalam penceritaan novel ini. Sehingga karya ini kaya akan berbagai sudut pandang yang mampu melahirkan sebuah penafsiran-penafsiran baru terhadap apa yang telah didengarkan oleh Cok Sawitri pada masa kecilnya.

Novel yang mengisahkan tentang Jayakanta, Raja Kerajaan Ratnakanda yang harus menyaksikan konflik dan carut-marut keluarga kerajaannya. Persaingan terselubung, politik istana yang saling tarik-menarik, hingga perebutan kekuasaan mewarnai perjalanan hidup Sang Raja dan menyebabkan Ratnakanda perlahan berada di ambang kehilangan Sang Raja mengembalikan kedaulatan Ratnakanda.

Dalam karya Cok Sawitri ini  sosok Jayantaka hadir hingga 14 bab pertama dan segera membius para pembaca untuk jatuh cinta pada karakternya yang gagah, sakti, dan cerdas. Jayantaka merupakan seorang raja yang dinobatkan pada masa perkabungan ayahnya dan meneruskan niatan Raja Sudasa untuk menegakkan dharma agama dan dharma negara.

Dengan ambisi yang begitu besar dan semangat perjuangannya yang bagaikan si jago merah yang sedang membara, Jayantaka justru meluaskan niatnnya tersebut bukan saja di negerinya sendiri, tetapi juga meluas ke negeri-negeri lain. Oleh karena itu Jayantaka berkaul kepada sang Kala yaitu 100 kepala raja dan oleh karena kaulnya tersebut ia dikenal sebagai Porusadha, raksasa pelahap kepala raja.

Seperti apa yang diceritakan dalam kakawin, dalam novel itu juga diceritakan bahwa Buddha bereinkarnasi dan menitis kepada putra Raja Hastina Prabu Mahaketu. Putranya bernama Sutasoma. Setelah dewasa Sutasoma rajin beribadah, cinta akan agama Buddha (Mahayana). Ia tidak senang akan dinikahkan dan dinobatkan menjadi raja.

Maka pada suatu malam, Sutasoma melarikan diri dari negara Hastina dan menuju ke hutan. Setibanya di hutan, Sutasoma bersembahyang dalam sebuah kuil. Lalu datanglah Dewi Widyukarali yang bersabda bahwa sembahyang Sutasoma telah diterima dan dikabulkan. Kemudian Sutasoma mendaki pegunungan Himalaya diantarkan oleh beberapa orang pendeta.

Sesampainya di sebuah pertapaan, maka Sutasoma mendengarkan riwayat cerita seorang raja, reinkarnasi seorang raksasa yang senang makan manusia, Porusadha. Porusadha memiliki kaul akan mempersembahkan 100 raja kepada Sang Kala.

Pada saat yang sama, sedang terjadi perang antara Porusadha dan Raja Dasabahu, sepupu Sutasoma. Secara tidak sengaja ia menjumpai Sutasoma dan diajaknya pulang. Porusadha yang sudah mengumpulkan 100 raja untuk dipersembahkan kepada Batara Kala mendapati kenyataan bahwa Batara Kala tidak puas. Batara Kala baru mau menerima persembahan Porusadha bila ada Sutasoma.

Maka Porusadha menangkap Sutasoma yang tidak melawan. Sutasoma bersedia dimakan Batara Kala, asal ke 100 raja itu semua dilepaskan. Pengorbanan diri Sutasoma ini menyentuh hati Batara Siwa yang menitis pada Porusadha. Batara Siwa tahu bahwa Sutasoma adalah Sang Budha sendiri. Maka ditinggalkannya tubuh raksasa Porusadha dan ia kembali ke kahyangan. Porusadha akhirnya bertobat. Semua raja dilepaskan.

Karya sastra dari Cok Sawitri ini merupakan salah satu bentuk narasi fiksi sastra dan memanglah suatu yang niscaya mampu untuk menarik para pembaca, baik yang telah kenal dengan teks terdahulu atau belum. Ditambahkannya tokoh-tokoh baru seperti Belawa, Nini, ketiga istri Sudasa, anak-anak tiri Sudasa dan sekaligus saudara Jayantaka sekaligus penokohan baru atas tokoh-tokoh yang ada dalam teks terdahulu membuat novel ini “kaya amunisi”.

Bahkan boleh dibilang bukan hanya kaya amunisi, tetapi juga “gemuk” oleh pandangan-pandangan personal Cok Sawitri yang dititipkan ke dalam tiap tokoh yang ada sehingga membuat Sutasoma karya Cok Sawitri ini boleh dikatakan cukup berbeda.

Persoalan kebhinnekaan dalam teks terdahulu juga hadir di sini, namun tentu saja keempat dimensi toleransi antaragama yang ada di teks terdahulu kini tergantikan. Gantinya, adalah toleransi antara agama minoritas dan agama mayoritas. Jayantaka dalam teks Cok Sawitri mewakili agama minoritas, yang dalam pernyataan Cok Sawitri mewakili apa yang tengah diperjuangkannya adalah mewakili agama Tantrayana, sedang Sutasoma mewakili agama mayoritas, baik itu Hindu dalam konteks Bali atau agama mayoritas di Indonesia yakni Islam. Petuah dalam gubahan Cok Sawitri cukup jelas melansir keinginannya agar agama-agama mayoritas/besar tidak menghancurkan agama kecil, melainkan belajar untuk mentoleransi dalam semangat kebhinekaan yang dihembuskan oleh Sutasoma.

Kritik pada masyarakat kelas atas yang berada pada lingkaran istana juga mencuat dalam karya Cok Sawitri ini, yang dengan mudah bisa ditarik garis paralel antara negeri di bawah pimpinan Sudasa dan Jayantaka dengan negeri Indonesia ini. Sebuah paralelisme yang kurang lebih sama dilakukan Mpu Tantular sewaktu menggubah Sutasoma kali pertama dari teks aslinya. [T]

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami
Cinta dan Kematian dalam Novel Jerum Karya Oka Rusmini
Lika-liku Ambisi Perempuan Dalam Novel “Aroma Karsa” Karya Dee Lestari
Tags: Bhineka Tunggal IkaCok SawitrinovelSastra IndonesiaSutasoma
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Modernisme Pascareformasi Dalam Novel Bilangan Fu Karya Ayu Utami

Next Post

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

I Wayan Sukarta Yasa

I Wayan Sukarta Yasa

Lahir di Sandan, 2002. Sedang menempuh pendidikan program S1 pada Program Studi Pendidikan Sastra Agama dan Bahasa Bali, STAH Negeri Mpu Kuturan Singaraja. Hobi matembang dan menjadi juara dalam berbagai lomba geguritan dan lomba lain yang berkaitan dengan sastra Bali.

Related Posts

Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

by Putu Lina Kamelia
February 28, 2026
0
Catatan Kecil Tentang ‘Dokter Gila’ Karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 RUMAH itu mungil...

Read moreDetails

Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

by Wayan Esa Bhaskara
February 20, 2026
0
Membaca ‘Lampah Sang Pragina’, Membicarakan Kasta yang Itu-itu Saja  

Judul Buku: Lampah Sang Pragina Penulis: Ketut Sugiartha Penerbit: Pustaka Ekspresi Cetakan: Pertama, November 2025 Tebal: 116 halaman ISBN: 978-634-7225-31-3...

Read moreDetails

Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

by Luqi Aditya Wahyu Ramadan
February 11, 2026
0
Catatan Seorang Pembaca atas ‘Epigram 60’ Karya Joko Pinurbo

SUDAH setahun lebih maestro puisi Indonesia, Joko Pinurbo, berpulang ke rumah yang sesungguhnya, meninggalkan jejak yang sunyi namun abadi dalam...

Read moreDetails

“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

by Dede Putra Wiguna
January 31, 2026
0
“Jangan Mati Dulu, Mie Ayam Masih Enak” – Membaca Keputusasaan dan Harapan dalam ‘Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati’ Karya Brian Khrisna

“Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima.” Demikian salah satu penggalan...

Read moreDetails

Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

by Radha Dwi Pradnyani
January 29, 2026
0
Belajar Menerima Konsekuensi –Catatan Setelah Membaca Buku 23;59

Judul Buku: 23:59 Penulis Buku: Brian Khrisna Penerbit: Media Kita Tahun Terbit: 2023 Halaman: 232 hlm “Tidak ada yang lebih...

Read moreDetails

Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

by Yahya Umar
January 26, 2026
0
Terapi Bagi Dokter yang Normal –Catatan Buku Cerpen ‘Dokter Gila’ karya Putu Arya Nugraha

Judul Buku : Dokter Gila Penulis : dr. Putu Arya Nugraha Penerbit : Tatkala Tahun : 2025 DOKTER seperti apa...

Read moreDetails

Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

by I Nengah Juliawan
January 20, 2026
0
Risalah Rindu dan Ranting — Membaca Buku Puisi ‘Memilih Pohon Sebelum Pinangan’ karya Made Adnyana Ole

Aksamayang atas kedangkalan yang saya miliki. Saya mencoba menantang diri dengan membaca dan memberikan pandangan pada buku kumpulan puisi "Memilih...

Read moreDetails

Mengepak di Tengah Badai 

by Ahmad Fatoni
January 19, 2026
0
Mengepak di Tengah Badai 

Judul : Kepak Sayap Bunda: “Anak Merah Putih Tak Takut Masalah!” Penulis : A. Kusairi, dkk. Editor : Dyah Nkusuma...

Read moreDetails

Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

by Luh Putu Anggreny
January 13, 2026
0
Dentang yang Tak Pernah Sepenuhnya Hilang: Membaca ‘Broken Strings’ dalam Cermin Feminisme Perempuan Bali

ADA jenis luka yang tidak berdarah, tetapi bergaung lebih lama dari suara jeritan. Ia hidup dalam ingatan, dalam rasa bersalah...

Read moreDetails

Jeda di Secangkir Kopi

by Angga Wijaya
January 2, 2026
0
Jeda di Secangkir Kopi

SIANG di Dalung, Badung, Bali, di penghujung 2025, bergerak pelan. Jalanan tidak benar-benar lengang, tapi cukup memberi ruang bagi pikiran...

Read moreDetails
Next Post
Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Diki Wahyudi | Sarjana Hukum Undiksha Sukses dengan “Tiktok Sarjana Hukum” untuk Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co