6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Kelima Gede Sura | Cerpen I Komang Mudita

I Komang Mudita by I Komang Mudita
June 5, 2022
in Cerpen
Anak Kelima Gede Sura | Cerpen I Komang Mudita

Penulis I Komang Mudita

Sudah hampir dua jam Gede Sura mondar-mandir di ruang tunggu rumah sakit. Sesekali dia duduk, kakinya tak henti-hentinya digerakkan, kemudian bangun lagi. Belum beranjak jauh dari kursi tunggu, dia duduk kembali sesekali sambil melihat ponselnya yang sebenarnya ia tahu tidak ada pesan masuk pada ponsel itu.

Sunyi ruang tunggu rumah sakit, sesunyi hatinya. Di tengah kesunyian itu ditatapnya dalam-dalam gerak jarum jam dinding yang terpasang di sudut tembok rumah sakit.

Kemudian dia terhanyut ke dalam kenangan yang dialaminya lima belas tahun silam. Di ruang tamu berukuran tiga kali empat meter Gede Sura menunggu Luh Manik yang sedang berdandan di kamarnya. Waktu terkadang begitu lama berlalu, bagi orang yang sedang menunggu. Sunyi ruangan membuat detak jarum jam terdengar jelas, bersautan dengan degup jantung Gede Sura. Tangannya tak henti-hentinya memainkan kunci mobil.

Hari itu adalah kencan pertamnya dengan Luh Manik. Sudah hampir lima tahun Gede Sura mencoba mengambil hati Luh Manik, wanita yang sudah dia kenal sejak duduk di bangku SMP. Luh Manik selain cantik, juga tergolong siswi cerdas. Wajar saja banyak lelaki yang berlomba-lomba mencarinya.

Luh Manik sendiri memang dari dulu juga menaruh rasa terhadap Gede Sura. Bukan karena Gede Sura yang merupakan laki-laki anak saudagar cengkeh, yang akan mewariskan berpuluh-puluh hektar kebun cengkeh, melainkan karena Gede Sura tahu cara memperakukan wanita, di samping  juga Gede Sura memang memiliki paras yang tampan.

Berkat segala perjuangannya, pada akhirnya, Gede Sura mampu memperistri Luh Manik. Wanita yang kini telah memberinya tiga orang putri yang cantik-cantik. Dan kini, Luh Manik sedang berjuang melahirkan anak keempat.

“Dengan keluaga Ibu Luh Manik?” Tiba-tiba tepukan kecil seorang dokter yang menangani Luh Manik, membangunkan ingatan Gede Sura dari masa lalunya.

“Ya, saya Gede Sura, suami Luh Manik,” ucap Gede Sura bergegas berdiri.

Bagaimana istri saya Pak Dokter? Anak saya sudah lahir?”

“Bukaan proses kelahiran istri bapak sampai saat ini belum ada perkembangan. Sepertinya istri bapak sudah kehabisan tenaga. Ada prosedur lain yang bisa ditempuh Pak. Jika Bapak setuju, kami bisa ambil tindakan caesar,” terang dokter yang menangani.

“Saya setuju, Pak. Silakan ambil tindakan terbaik agar istri dan anak saya bisa selamat,” pinta Gede Sura.

Luh Manik segera dipindahkan ke ruang operasi caesar. Dalam perjalanan menuju ruangan, Gede Sura sempat memegang erat tangan istrinya. Tidak ada satu kata pun terucap dari mulut Gede Sura. Tapi pegangan erat tangan itu memberikan motivasi luar biasa bagi Luh Manik. Meski sudah lima belas tahun menjadi suami istri kasih sayang Gede Sura kepada Luh Manik tidak pernah berubah.

Tidak menunggu lama, akhirnya tangis bayi pecah dari ruang operasi caesar itu. Senyum Gede Sura mengembang. Langkahnya tak seberat tiga jam lalu. Dia menunggu untuk menyambut kabar baik dari ruang operasi itu.

“Bapak suami Luh Manik?” seorang perwat menyapa.

“Ya, saya suami Luh Manik,” jawab Gede Sura dengan penuh gairah.

“Selamat, istri bapak melahirkan dengan selamat. Anak bapak cantik seperti ibunya. Bapak bisa menemuinya di ruang perawatan bayi,” jelas perawat yang masih mengenakan APD itu.

Senyum Gede Sura beruba tiba-tiba menjadi tatapan yang penuh beban. Ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya. Anaknya perempuan lagi, tentu itu akan menjadi masalah. Bukan dengan siapa-siapa, melainkan dengan ibunya.

Dari dulu, sejak kelahiran anak perempuan yang kedua, ibunya selalu berandai-andai punya cucu laki-laki. Anak laki-laki yang akan mewariskan usaha keluarga. Yang akan mengurus keluarga ketika mereka sudah tua. Ketika kelahiran anak perempuan yang ketiga, sikap ibunya kepada Luh Manik semakin berubah. Luh Manik sering dibanding-bandingkan dengan menantu tetangganya yang memiliki dua anak laki-laki.

Gede Sura sendiri takut, kelahiran anak perempuan yang keempat ini akan membuat perlakuan ibunya terhadap Luh Manik akan semakin buruk. Kemudian, segera dihapus kekhawatiranya itu. Dia menuju ruang perawatan bayi. Benar kata perawat, anak empat ini benar-benar mirip istrinya. Entah mengapa, gejolak cintanya kepada Luh Manik seakan tumbuh lagi seperti masa-masa pacaran.

*****

Hari berlalu, Gede Sura dan Luh Manik masih melewati rumah tangga dengan keharmonisannya. Luh Manik masih menjadi istri yang merawat anak-anaknya dengan telaten. Sesibuk apa pun, Luh Manik selalu menyiapkan sarapan Gede Sura sebelum berangkat kerja.  Di akhir pekan meraka selalu menyempatkan diri beribur. Keluarga yang banyak dimimpikan oleh orang lain.

Tiba-tiba kebahagiaan itu mulai terusik. Ibunya meminta Gede Sura pulang lebih awal dari mengurus cengkeh yang baru saja dipanen oleh buruh alap-nya.. Di ruang keluarga yang dihiasi ornamen barang antik itu, Gede Sura seperti sedang diadili.

“Kamu harus punya anak laki-laki, De!” Ibunya meminta.

“Sebagai penerus keluarga yang akan mengurus merajan. Yang juga akan mengelola kebun cengkeh dan usaha penggilingan padi keluarga kita!” Ayahnya menambahkan.

Sura tidak berkomentar. Dia tahu arah pembicaraan kedua orang tuanya. Ujung-ujungnya dia diminta untuk menikah lagi agar memiliki anak laki-laki. Pembahasan yang pernah ia dengar setelah istrinya melahirkan anak perempuan yang keempat. Selama ini, Sura selalu memenuhi permintaan orang tuanya, terlebih ibunya. Dia tidak pernah berani melanggar permintah ibunya. Karena dia meyakini semua yang dia raih selama ini adalah berkat doa ibunya. Tapi kali ini, dia akan dengan tegas menolak permintaan kedua orang tuanya jika memaksanya untuk menikah lagi.

“Ibu juga sangat menyayangi Manik. Dia menantu yang baik. Ibu sudah menggapnya sebagai anak kandung ibu. Tapi…”

“Ibu meminta Gede menikah lagi? Itu tidak mungkin, Bu!” Gede Sura buru-buru memotong pembicaraan ibunya.

“Kenapa tidak De? Orang-orang akan memaklumimu menikah lagi. Kamu harus punya anak laki-laki,” bujuk ibunya lagi

“Untuk urusan menikah lagi, Gede tidak perlu pandangan orang. Tapi ini lebih tentang perasaan Manik.” Gede Sura mencoba menolak.

“Dan kamu tak peduli perasaan kami. Tiap hari mendengar krimik-krimik orang. Mengolok-olok keluarga kita karena kamu tidak punya anak laki-laki,” tambah bapaknya.

“Memang kenapa kalau tidak punya anak laki-laki, Bu?” Coba ibu lihat Pak Tut Darna. Dia punya lima anak dan empat anaknya laki-laki. Sejak dia menderita struk, siapa yang merawatnya? Anak tertua sibuk dengan kariernya. Anak kedua dan ketiga sibuk mengurus istri, tidak punya waktu untuk bapaknya. Dan anak laki-laki yang paling bontot mabuk setiap hari. Apa yang bisa dibanggakan dari empat anak laki-laki itu?” Baru kali ini Sura berani berargumen dengan nada tinggi.

“Jika tidak mau menikah lagi, itu artinya kamu mengirim kami lebih cepat  ke neraka!” Ibunya menutup pembicaraan.

Sejak perdebatan itu, hubungan anak dan orang tua itu menjadi renggang. Ibu Gede Sura lebih suka mengurung diri di rumah. Dia jarang keluar. Menyendiri menjadi pilihannya untuk menghidari krimik orang-orang di luar sana. Pikirannya juga begitu capek menampung guyonan dan sindiran yang merendahkan dirinya karena tidak punya cucu laki-laki.

Sudah hampir tiga bulan Gede Sura tidak mengunjungi tempat tinggal ibunya yang sebenarnya masih satu pekarangan dengannnya. Tiba-tiba orang terdekat ibunya memberi kabar bahwa ibunya jatuh sakit. Sudah hampir seminggu ibunya tidak makan. Gede Sura tanpa banyak pikir segera mengunjungi ibunya. Dia melupakan perdebatan tiga bulan lalu itu.

Didapati  ibunya sedang berbaring di tempat tidur. Badannya sangat kurus. Wajahnya pucat, terlihat jauh lebih tua dari seharusnya. Melihat keadaan ibunya, Gede Sura merasa sangat berdosa. “Ibu jatuh sakit seperti ini pasti kerena aku menolak menikah lagi,” pikirnya.

“Ibu harus ke rumah sakit sekarang agar mendapatkan perawatan dan infus,” ajak Gede Sura.

“Biarkan ibu meninggalkan dunia fana ini, De,” tolak ibunya dengan suara yang sangat berat.

Tanpa basa-basi, Gede Sura mengabaikan penolakan ibunya, kemudian membawa ibunya ke rumah sakit. Dibantu ayahnya Gede Sura menggotong ibunya masuk ke dalam mobil untuk segera menuju ke rumah sakit. Selama perjalanan di rumah sakit, Gede Sura mengenang masa-masa indah dan perjuangan ibunya membesarkannya. Ibu yang rela bangun pukul satu dini hari, yang ketika orang-orang sedang tidur dengan nyenyak, namun ibunya sudah sibuk menyiapkan danganan untuk dibawa ke pasar. Dalam hatinya dia berjanji, jika Tuhan masih memberikan kesempatan ibunya umur panjang, Gede Sura akan mengikuti segala permintaan ibunya.

“De, kita langsung menuju ruang IGD!” pinta bapaknya yang mengagetkan Gede Sura. Sesampai di IGD, perawat dan dokter segera memberikan tindakan. Menurut keterangan dokter, Ibu Gede Sura menderita penyakit hepatitis. Penyebabnya karena banyak beban pikiran, kemudian kurang tidur, dan makan tidak teratur. Dokter mengatakan bahwa Ibu Gede Sura masih bisa sembuh.

Setelah menjalani perwatan sebulan penuh, Ibu Gede Sura akhirnya sembuh. Selama perwatan ibunya, Gede Sura selalu ada di sisi ibunya. Selanjutnya, Gede Sura akan memberanikan diri mengatakan kepada istrinya bahwa dia akan menikah lagi agar bisa memiliki anak laki-laki.

“Bli mau menikah lagi, Luh,” uajar Gede Sura tanpa berani menatap istrinya.

“Tiang sudah mendengar rencana Bli mau menikah lagi. Kasak-Kusuk dari orang-orang terdekat Bli, katanya Ibu sakit karena Bli menolak untuk menikah lagi. Baiklah Bli. Tiang akan mengizinkan Bli untuk menikah lagi dengan syarat biarkan tiang dan anak-anak kita untuk sementara waktu tinggal di Denpasar bersama orang tua,” jelas Luh Manik.

“Sampai kapan, Luh?” tanya Gede Sura.

“Sampai Bli punya anak laki-laki.”

Dengan memenuhi persyaratan Luh Manik, Gede Sura menikah dengan Komang Sudasih, anak dari Made Jagel, teman dekat Ayah Gede Sura. Acara pernikahan Gede Sura dan Komang Sudasih digelar dengan sederhana. Tidak ada acara resepsi, hanya dihadiri kerabat dekatnya.

Tiga bulan setelah pernikahan itu, Komang Sudasih hamil. ibunya meminta  Gede Sura untuk lebih banyak tinggl di rumah, merawat Komang Sudasih yang sedang hamil. Ada harapan besar Komang Sudasih akan melahirkan anak laki-laki. Dilihat dari sisilah keluarganya, Luh Sudasih adalah anak satu-satunya perempuan, lima kakaknya adalah laki-laki. Keluarga Made Jegel, ayah Komang Sudasih, memiliki garis keturunan yang sangat mudah mendapatkan anak laki-laki.

Bulan demi bulan Gede Sura merawat Komang Sudasih dengan talaten. Namun, sudah hampir setahun pernikahannya perasaan Gede Sura belum bisa menerima Komang Sudasih sebagai istrinya. Pikirannya jauh memikirkan istrinya yang kini tinggal di Denpasar.

“Ini akan belalu. Aku akan segera bisa menemui Luh Manik,” pikir Gede Sura di hari-hari penantiannya menjelang persalinan Komang Sudasih.

Akhirnya Komang Sudasih merasakan tanda-tanda akan melahirkan. Dia segera dibawa ke rumah sakit. Komang Sudasih dibawa ke ruang pesalinan. Menunggu persalinan istri keduanya ini, Gede Sura merasakan penantian yang sama dengan menjelang kelairan anak perempuannya yang keempat. Namun persalinan Komang Sudasih kali ini berjalan dengan lancar.

Dari pintu ruang persalinan, seorang bidan memanggil. “Keluarga Gede Sura?”

“Ya ya, Bu,” Gede Sura bergegas mendekati bidan itu.

“Selamat, Pak. Istri Bapak melahirkan anak yang sehat dan lengkap,” jelas sang bidan

“Apakah dia tampan, Bu?” tanya Gede Sura.

“Dia sangat cantik!” [T]

  • Cerpen ini adalah hasil “Workshop Penulisan Cerpen Sehari Langsung Jadi” dalam acara Tatkala May May May 2022 yang digelar tatkala.co, Sabtu 21 Mei 2022

_____

KLIK UNTUK MEMBACA CERPEN-CERPEN LAIN

Menjadi Sarjana | Cerpen Teddy Chrisprimanata Putra
Tags: CerpenTatkala May May May 2022
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Gimien Artekjursi | Balada Surat Cinta

Next Post

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

I Komang Mudita

I Komang Mudita

Guru SMAN 1 Singaraja

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Kawasan Wisata Mandalika, Kawasan “Beyond” Bali

Perang Ukraina, Tantangan Buat Indonesia

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co