6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

I Bagus Wijna Bratanatyam by I Bagus Wijna Bratanatyam
April 26, 2022
in Ulasan
Para “Maling” dari Kalangan Muda Menari Pada Arena Lomba Topeng Se-Bali di Mas Ubud

Tokoh Maling dimainkan oleh peserta Lomba Topeng Melampahan Se-Bali

Fenomena unik terjadi siang sampai menjelang malam Sabtu dan Minggu, 23- 24 April 2022, di Wantilan Pura Taman Pule, Desa Mas, Ubud. Para “maling” unjuk kebolehan di atas panggung seni pentas, dikerumuni orang, bahkan didatangkan tim juri untuk menilai kelihaian para “maling” tersebut.

Ya benar, “maling” yang dimaksud ini merupakan bagian dari materi tokoh yang wajib ditampilkan oleh setiap peserta Lomba Topeng Melampahan Se-Bali Tahun 2022. Lomba ini diselenggarakan oleh Komunitas Seni Manduka Asrama. Lomba ini menarik karena mengadu kemampuan menari sekaligus berkisah.

Seni pertunjukan tari menggunakan alur kisah disebut dengan melampahan, sepertiBaris Melampahan, Janger Melampahan, begitu juga pertunjukan Topeng Melampahan. Sebanyak 24 penari topeng muda berasal dari segala penjuru Bali ini mempertontonkan sepak terjangnya dalam olah gerak, vokal, serta pendramaan alur lakon dengan format pertunjukan dramatari Topeng Pajegan.

Topeng Pajegan merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan dramatari bertopeng di Bali, yang dalam pementasannya diperankan hanya oleh seorang penari saja. Penari ini memborong sendiri semua karakterisasi topengnya yang disesuaikan dengan lakon yang dibawakan.

Sebagaimana kata topeng pajegan terdiri dari dua kata yakni “topeng” dan “pajegan”. I Made  Bandem M.A dan I Nyoman Rembang dalam bukunya Perkembangan Topeng-Bali sebagai Seni Pertunjukan , kata “pajegan” adalah suatu istilah didalam bahasa Bali yang berasal dari kata “pajeg” dan ditambah dengan sufik “an”menjadi “pajegan” yang berarti borongan (1976:12-13).

Topeng Tugek Carangsari – Memainkan Topeng Mengolah Karakter

Pada ajang lomba topeng ini, penari menampilkan berturut-turut empat tokoh/topeng yang dibalut dengan bingkai lakon yang diberi tajuk “Maling Sukawati”. Secara umum dramatari topeng lebih cenderung memakai babad/cerita semi sejarah sebagai sumber lakonya.

Maling Sukawati merupakan episode dari kisah penyelesaian masalah prihal pencurian yang terjadi pada masa Kerajaan Sukawati di Bali. Dipilihnya lakon ini, panitia lomba menyusun materi karakterisasi topeng-topeng yang wajib ditampilkan setiap peserta.

Penampilan peserta lomba topeng diawali dengan Topeng Gombrang salah satu jenis tari pengelembar/pembukaan dalam dramatari topeng dengan tapel demung yaitu topeng berkarakter keras.

Urutan kedua peserta membawakan tokoh penasar mata bolong yaitu abdi kesayangan raja dengan topeng jenis sibakan/setengah menutupi muka, mata dan mulut sipenari kelihatan sehingga ekspresi mata serta olah vokal dalam bentuk tembang maupun narasi dapat leluasa dilakukan.

Salah satu peserta Lomba Topeng Melampahan Se-Bali [Foto: FB/Kodo Guang]

Selanjutnya diperagakan Topeng Dalem Arsawijaya dalam lakon ini mengejawantahkan raja kerajaan Sukawati yaitu Dalem Sri Wijaya Tanu pada masa penyamarannya, disini setiap peserta menggambarkan sosok raja yang biasanya mengenakan mahkota gelungan lelungsiran yang agung, sedangkan pada lakon ini tokoh raja dibuat bersahaja hanya memakai udeng-udengan/kain yang diikat dikepala. Begitu juga gerakannya biasanya agung berwibawa ditafsirkan sekarang menjadi gerak kerakyatan yang mengendap-ngendap, ini dimaksud untuk menyembunyikan identitas seorang raja sedang berpura-pura menjadi seorang pencuri.

Sedangkan tokoh keempat yaitu karakter seorang maling sakti yang sulit ditangkap, peserta memvisualkannya dengan berbagai macam tapel bondres/rakyat jelata, untuk karakter ini peserta ada yang menampilkan satu atau dua karakter bondres menurut dengan selera dari penarinya.

Untuk membagi bagian-perbagian dari empat pengkarakteran topeng tersebut maka diberikan waktu setiap peserta lomba sepanjang 25 menit maksimal dalam pementasannya. Ikatan waktu membuat setiap penari topeng harus dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya, demi keutuhan penampilan unsur estetiknya maupun isian pesan moral yang terkandung pada alur kisah yang diwedarnya.

Ini terkait fungsi seni pertunjukan dramatari topeng terlebih-lebih  Topeng Pajegan atau sering juga disebut Topeng Sidhakarya erat kaitanya dengan ritual upacara keagamaan Hindu yang terus hidup ditengah-tengah masyarakat Bali. Hingga kesenian ini diakui UNESCO pada 2 Desember 2015 seperti yang dilansir dari laman website resmi Kemendikbud, bahwa Topeng Pajegan/Topeng Sidhakarya merupakan salah satu dari sembilan tari Bali telah sebagai sebagai warisan budaya tak benda (kwriu.kemdikbud.go.id/berita/tiga-genre-tari-bali-diakui-komite-unesco).

Dalang-Dalang Cilik dalam Euforia Hari Wayang Nasional 2021 di Bali

Seni dramatari topeng di Bali tidak hanya tontonan semata namun juga sebagai  tuntunan kehidupan yang tersirat dalam antawacana monolog penari topeng tersebut. Tokoh Maling dikisahkan susah untuk ditaklukan dalam alur lakon diberikan intrepretasi, disebut Maling Meguna bahwa maling yang berguna. Si maling, dia mencuri harta benda para punggawa yang berlimpah untuk dipindahkan untuk rakyat jelata yang lebih membutuhkan. Ini dilakukan demi pemerataan ekonomi di tengah hirup pikuk kerajaan zaman itu.

Begitu juga tokoh Raja Sukawati bertanggung jawab menuntaskan keresahan rakyatnya dengan cara memperdaya si maling bukan dengan kekerasan fisik melainkan memainkan akal dan kecerdasan intelektual.

Antusias peserta sebagian besar dari kalangan seniman muda mengikuti ajang lomba ini, memberikan rasa optimis terhadap keberlangsungan dramatari topeng Bali. Dulunya kesenian topeng pelakunya identik oleh seniman tua karena kompleksitas berbagai unsur seni yang harus dikuasai sipenarinya. Hal itu terbantahkan ketika kita amati hal yang terjadi pada event Lomba Topeng Melampahan Se-Bali ini yang digerakkan oleh kalangan seniman muda, dengan para peserta para yowana/pemuda, dan penonton yang memberikan semangat tiap-tiap jagoanya dari kalangan anak millenial.

Ini menunjukan seni pertunjukan dramatari topeng Bali akan selalu “lampah” yang artinya berjalan, berjalan dengan segala daya kreativitas menembus relung-relung dinamika zaman masa mendatang.[T]

25 April 2022

Tags: GianyarISI DenpasarLomba Topeng Melampahantopeng
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membicarakan “Gagal Menjadi Manusia” di Emperan Toko di Tokyo

Next Post

Menghadirkan Ekspresi Keceriaan Anak-anak Secara Natural dalam Foto

I Bagus Wijna Bratanatyam

I Bagus Wijna Bratanatyam

Dosen Seni Pedalangan ISI Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Menghadirkan Ekspresi Keceriaan Anak-anak Secara Natural dalam Foto

Menghadirkan Ekspresi Keceriaan Anak-anak Secara Natural dalam Foto

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co