6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kenapa Namanya “Rumah Sakit”, Bukan “Rumah Sehat”?

Putu Arya Nugraha by Putu Arya Nugraha
May 12, 2021
in Esai
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Cukup menarik jika dibahas, kenapa kita tidak memilih istilah “rumah sehat” untuk menyebut “rumah sakit”?

Mestinya, pilihan rumah sehat jauh lebih baik.  Dalam bahasa Inggris, rumah sakit adalah hospital yang berasal dari kata hospitality yang bermakna keramah-tamahan. Kata itu sendiri berasal dari bahasa Latin, hospes yang berarti tuan rumah/inang, yang juga kemudian diserap menjadi kata hotel.

Hotel dan hospital dibedakan, seakan-akan karena hospital memiliki peran dalam pelayanan medis, diagnosis sampai terapi. Sisanya, keduanya memiliki spirit dasar yang sama yaitu keramah-tamahan dan interaksi humanis antara “tuan rumah” dan “tamu”-nya.

Maka, pilihan istilah rumah sehat jauh lebih tepat ketimbang rumah sakit. Namun kenapa rumah sakit? Rupanya ini terkait dengan sejarah bangsa kita yang dijajah Belanda. Istilah rumah sakit memang diadopsi langsung dari bahasa Belanda yaitu ziekenhuis atau kalau didekatkan dengan bahasa Inggris adalah “sick house” yang tentu saja artinya rumah sakit.

Itulah makanya, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dahulu bernama Centrale Burgelijke Ziekenhuis (CBZ). Negara-negara yang dekat dengan Belanda pun menggunakan istilah rumah sakit untuk hospital seperti Jerman krankenhaus atau Norwegia sykehus.

Nama dan kata-kata, diyakini adalah doa dan harapan. Demikian juga dengan istilah rumah sakit. Adakah istilah ini kemudian kerap kali dan masih saja terjadi hingga saat ini menciptakan konflik lantaran keluhan pasien dan keluarganya atau masyarakat karena pelayanan petugas rumah sakit yang dinilai kurang ramah dan humanis? Rumah sakit bukan lagi hotel yang ramah, ceria dan wangi, namun sebaliknya seolah-olah menjelma menjadi bangunan angker yang menakutkan. Bahkan sering dijadikan tema untuk film-film horor yang dekat dengan kengerian dan kematian.

Dalam film-film itu, bukan hanya bangunan rumah sakit saja yang menebarkan aura seram, susternya pun bernasib malang karena dipilih menjadi pemeran sentral sebagai jagal kejam atau tukang siksa seperti suster ngesot dan lain-lain. Betul-betul gambaran yang jungkir balik dari hospital yang seharusnya melindungi, memeluk hangat, memberi rasa aman, menumbuhkan psikis yang kuat dan pada akhirnya memberi kesembuhan. Meskipun itu semua hanya fiksi, namun jangan lupa, karya seni dan produk kreatif sering terinspirasi dari kultur masyarakat, fakta-fakta yang terjadi dalam kehidupan masyarakat, meskipun bukan merupakan kecenderungan umum.

Saat masih kanak-kanak, bukan hal langka jika orang tua kami dan generasinya bertutur kisah tentang seorang dokter yang galak, judes dan kurang berperasaan. Deskripsi terbalik dari sosok seharusnya seorang dokter yaitu ramah, sabar dan humanis. Sifat dan sikap ini penting dan mendasar, sebab dokter punya tugas dan misi besar yaitu mengobati orang sakit. Seakan-akan nyawa seseorang telah berada dalam genggaman tangan seorang dokter. Namun demikianlah cerita-cerita yang saya dengar sejak kanak-kanak.

Kisah paling terkenal adalah saat seorang dokter menjawab dengan ketus ketika seorang pasien bertanya, apa saja yang ia tak boleh makan karena sakit yang telah diidapnya. Dokter tersebut menjawab dengan singkat, padat namun tidak jelas, “Batu!”. Hahaha! Tentu saja siapapun tidak mau makan batu. Apalagi orang sakit, lebih-lebih kalau pasien dengan keluhan sakit menelan. Jangankan batu, bubur sumsum saja sulit dicerna. Atau ada seorang dokter yang begitu sensitif dan merasa diajari saat seorang bapak menjelaskan keluhan anaknya yang sakit. Bapak itu mengantar anaknya untuk berobat ke dokter dan bercerita bahwa anaknya panas sejak kemarin, disertai nyeri menelan dan batuk berdahak. Selesai bercerita, dengan jutek si dokter memberi respon, “Bapak kan sudah pintar, sudah tahu sakit anaknya, ngapain lagi dibawa ke sini?” Hahaha! 

Pada masa-masa itu, di era sekitar tahun tujuhpuluhan, jumlah dokter dan rumah sakit memang belum banyak. Maka seorang dokter seakan-akan posisinya sudah seperti sosok dewa. Sangat tinggi dan terhormat. Posisi ini, tanpa disadari kemudian, bisa jadi telah membuat mereka sombong, angkuh dan congkak. Masyarakat dalam posisi lemah yang sangat membutuhkan pertolongan seorang dokter lalu hanya bisa menerima nasib mereka seikhlas-ikhlasnya. Sebuah gambaran yang sangat tidak egaliter antara seorang dokter dan pasiennya.

Situasi seperti ini tentu dapat memberi potensi risiko menjadi tidak profesional untuk seorang dokter dan terjadi ketidakadilan bagi seorang pasien. Namun saat ini, dengan bertambahnya jumlah dokter, meskipun belum sampai pada rasio ideal 1:1.000 dengan jumlah penduduk, sikap-sikap dokter feodal seperti demikian niscaya akan berkurang dan seharusnya tidak ada lagi. Kita dapat meniru interaksi dokter-pasien atau rumah sakit-pasien di negara-negara barat yang sudah maju dan modern. Dokter/rumah sakit dan pasien berada pada satu garis datar profesionalisme dan garis lingkar humanisme. Dokter dan nakes yang baik adalah roh sebuah rumah sakit yang baik dan rumah sakit yang baik akan terganti namanya menjadi rumah sehat. [T]

____

BACA KOLOM DOKTER ARYA YANG LAIN

Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Tags: Bahasakesehatanrumah sakit
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Ranupura” | Wajah Bangli sebagai Hulu

Next Post

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Putu Arya Nugraha

Putu Arya Nugraha

Dokter dan penulis. Penulis buku "Merayakan Ingatan", "Obat bagi Yang Sehat" dan "Filosofi Sehat". Kini menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Umum Daerah Buleleng

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Idulfitri | Mari Mudik ke Kesejatian

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co