13 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Saṃpradāya Kuno Sampaikah ke Nusantara?*

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 4, 2021
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

— Catatan Harian Sugi Lanus, 4 Maret 2021

Untuk memahami sejarah Hindu secara lebih utuh sebaiknya tidak lupa membaca sejarah saṃpradāya di masa silam.

Kenapa? Beberapa saṃpradāya kuno menduduki tempat penting dalam sejarah Hindu kuno di masa pre-modern India dan Asia Tenggara.

1. Apa itu saṃpradāya?

Saṃpradāya सम्प्रदाय adalah ‘tradisi’, ‘garis silsilah spiritual’, ‘sekte’ atau ‘sistem religius’. Sampradāya berkaitan dengan tampuh pergantian para guru ke murid, yang menjadi garis silsilah perguruan yang disaluran lewat inisiasi spiritual. Artinya ada “pelantikan sakral” yang umum dikenal sebagai dīkśa dan masing-masing saṃpradāya punya kekhasan ritual dīkśa-nya.

Saṃpradāya bentuknya berupa praktik ritual, pembentukan pandangan dan sikap, diwariskan-diajarkan-ditularkan-ditransmisikan ke pengikutnya lewat inisiasi anggota, yang memberikan pedoman yang kadang sangat ketat, yang bahkan bisa bertentangan dengan tradisi dimana para anggotanya dilahirkan atau dibesarkan.

Silsilah perguruan tertentu (saṃpradāya) ini tidak sama dengan soroh atau kawitan, yang berjalan turun-temurun. Saṃpradāya memiliki dīkśa (inisiasi suci) ke dalam parampara seorang guru yang hidup, para guru yang masih hidup yang menjadi pewaris dari guru sebelumnya ini yang disebut sebagai guru saṃpradāya yang menginisiasi pengikut-pengikutnya yang baru. Dalam sampradaya seseorang tidak dapat menjadi anggota sejak lahir, seperti halnya dengan gotra, kawitan, pamaksan, bukan bersifat turun-temurun, tapi lewat inisiasi dīkśa masuk ke dalam parampara guru yang masih hidup.

Setelah masuk keanggotaan saṃpradāya seseorang tidak hanya diberikan “tingkat otoritas” pada klaim seseorang atas “kebenaran” dalam konteks tradisional Hindu, tetapi juga memungkinkan seseorang untuk membuat klaim bahwa ia punya posisi otoritas untuk mengajarkan dan merumuskan “kebenaran” karena telah masuk silsilah ajaran.

2. Bagaimana penjelasan Padma Purāṇa tentang saṃpradāya?

Padma Purāṇa umumnya dijadikan acuan oleh komunitas saṃpradāya berpaham Waisnawa, merupakan  salah satu dari delapan belas Purāṇa utama, menyebutkan: “Ada empat Waisnawa sampradāya yang memelihara mantra-mantra yang bermanfaat”. Dalam kitab ini disebutkan: “Semua mantra yang telah diberikan (kepada siswa) bukan lewat saṃpradāya yang resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga ini, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid atau punya otoritas”.

sampradāyavihīnā ye mantrāste niṣphalā matāḥ|

ataḥ kalau bhaviśyanti catvāraḥ sampradāyinaḥ||

Śrī-brahmā-rudra-sanakā vaiṣṇavā kṣitipāvanāḥ|

catvāraste kalau bhāvya hyutkale puruṣottamāt||

rāmānujaṃ śrī svicakre madhvācaryaṃ caturmukhaḥ|

śrīviṣṇusvāminaṃ rudro nimbādityaṃ catuḥsanāḥ||

Terjemahannya:

Semua mantra yang telah diberikan kepada para siswa bukan melalui saṃpradāya resmi tidak akan membuahkan hasil. Oleh karena itu, di Kali Yuga, akan ada empat saṃpradāya yang bonafid. Saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Śrī Devī dan dikenal sebagai Śrī Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Dewa Brahmā dan dikenal sebagai Brahmā Sampradāya, saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Lord Rudra dan dikenal sebagai Rudra Sampradāya; dan saṃpradāya yang mendapat pemberkatan dari Catur Kumara dan dikenal sebagai Sanakādi Sampradāya. Śrī Devī menjadikan Rāmānujācārya sebagai kepala dari silsilah itu. Demikian pula Dewa Brahmā menunjuk Madhvācārya, Sri Rudra menunjuk Viṣṇusvāmī dan keempat Kumara memilih Nimbāditya (sebutan untuk Śrī Nimbārkācārya).

Jika diuraikan lebih lanjut gambaran umumnya seperti ini:

(a) Sri Saṃpradāya atau Rāmānuja Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Śrī Devī (Laksmi) terkait dengan Viṣṇu.

— Acharya: Ramanujacharya      

— Garis Pemikiran/Ajaran: Melukote, Srirangam, Vanamamalai, Tirukkurungudi, Kanchipuram, Ahobila, Parakala

— Sampradaya terkait: Ramanandi Sampradaya

(b) Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Tradisi kuno memuliakan Dewa Brahma, namun berkembang menjadi Viśnu (Narayana)/ Kriśna/ Rama/ Vithoba.

— Acharya: Madhvacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: Sri Kriśna Matha, Madhva Mathas, Gaudiya Math, ISKCON

— Sampradaya terkait: Vaiśnavisme Gaudiya

(c) Rudra Saṃpradāya

— Pujaan Utama: Rudra, berkembang ke pemujaan Viśnu dan Kriśna serta para awatara Viṣṇu.

— Acharya: Viṣṇusvāmī / Vallabhacharya

— Garis Pemikiran/Ajaran: –

— Sampradaya terkait: Garis Puśtimarga

(d) Kumara Saṃpradāya

— Dewa Utama: Catur Kumāra, berkembang menjadi Radha-Kriśna

— Acharya: Nimbarka

— Garis Pemikiran/Ajaran: Kathia Baba ka Sthaan, Nimbarkacharya Peeth, Ukhra Mahanta Asthal, Howrah Nimbarka Aśram

— Saṃpradāya terkait: –

Pembagian di atas bersifat gambaran umum saṃpradāya jika merujuk pada kitab Padma Purāṇa.

Mereka percaya bahwa kita masuk dalam era Kaliyuga dan selama Kali yuga akan muncul saṃpradāya-saṃpradāya yang bertugas memurnikan dan menyucikan kembali seluruh bumi. Saṃpradāya-saṃpradāya bekerja untuk menyucikan dunia dan membawa kembali dunia ke periode emas kemanusiaan.

Silsilah Kesadaran Kriśna (ISKCON) menarik garis silsilah dari garis silsilah Sri Brahma-Madhva-Gaudiya Sampradaya yang didirikan oleh Sri Chaitanya Mahaprabhu, yang kemudiaan berkembang menjadi International Society for Kriśna Consciousness (ISKCON) (ISKCON), kalau dicermati pemaparan Padma Purāṇa maka masuk saṃpradāya di bawah garis silsilah Brahma Saṃpradāya atau Madhva Saṃpradāya.

Ada berbagai sampradāya juga muncul dari empat garis silsilah saṃpradāya di atas, yang sangat berbeda dari ISKCON. Seperti Swaminarayan Saṃpradāya, yaitu saṃpradāya Hindu yang didirikan pada tahun 1801 oleh Swaminarayan (3 April 1781 – 1 Juni 1830), juga dikenal sebagai Sahajanand Swami, seorang seorang yogi dan pertapa yang kehidupan dan ajarannya membawa kebangkitan praktik sentral Hindu dharma, ahimsa dan brahmacarya. Sahajanand Swami diyakini oleh para pengikutnya sebagai reikarnasi Tuhan.

3. Saṃpradāya beraliran Śaiwa (Śiwaistik) yang utama

Ada tiga saṃpradāya beraliran Śaiwa utama yang dikenal sebagai “Kailasa Parampara” (Silsilah Kailaś ):

(a) Nandinatha Saṃpradāya

(b) Adinath Saṃpradāya

(c) Meykanda Saṃpradāya.

Nandinatha Saṃpradāya bisa dijejaki jejak awalnya setidaknya mulai 200 Sebelum Masehi. Pendiri sekaligus guru spiritual pertama yang diketahui adalah Maha Riśi Nandinatha, yang dikatakan telah menginisiasi 8 murid utamanya: Sanatkumara, Sanakara, Sanadanara, Sananthanara, Śivayogamuni, Patanjali, Vyaghrapada, dan Tirumulara, dan megutus mereka ke berbagai tempat belahan dunia untuk menyebarkan ajaran Śaiwaisme non-dualistik (advaita) ke seluruh dunia.

Dalam ajaran filsafat Śaiva Siddhanta di Tamil dikenal sebagai garis keturunan dari ajaran Sanatkumara, salah satu Kumara. Garisnya sebagai berikut: Sanatkumara lalu ke Satyanjana Darśini, bersambung ke Paranjyoti riśi yang memberikan garis silsilahnya pada Meykandar.

Ada pula Daśanami Saṃpradāya merupakan tradisi Hindu yang menekankan tradisi monastik dari Sannyasin ēkadaṇḍi umumnya terkait dengan tradisi Advaita Vedanta. Para pewaris tradisi ini — Ekadandis atau Dasanāmis — telah mendirikan pertapaan dan pemujaan di India dan Nepal pada zaman kuno. Setelah kemunduran agama Buddha, satu bagian Ekadani diorganisir oleh Adi Śankara pada abad ke-8, ini terkait dengan empat maṭha atau aliran pemikiran yang berjasa menyediakan pondasi pemikiran bagi pertumbuhan agama Hindu ke tahap lebih lanjut.

Para Dasanāmis terkait erat dengan tradisi Smartha yang sejalan dengan Advaita Vedānta, walaupun tidak mencakup semuanya. Salah satu contohnya adalah tradisi Yoga Kriyā yang menganggap dirinya eklektik dengan kepercayaan kuno yang tidak dapat diubah, dan di luar lingkup perbedaan dalam pemahaman Vedanta. Ekadaṇḍi sannyāsa tidak semuanya bertumbuh dalam kendali maṭha pergurauan Śankara. Banyak bagian Dasanāmis atau Ēkadaṇḍi juga didirikan, berafiliasi dengan maṭha, ashram, dan pusat pemujaan di luar kendali maṭha Śankara. Namun demikian, kesemuanya berada di bawah payung tradisi Advaita Sampradāya.

Advaita Sampradāya bukanlah sekte Śaiva, meskipun ada hubungan historis dengan Śaivisme sangat kental: Advaitin (penganut advaita vedanta) adalah non-sektarian, dan mereka menganjurkan pemujaan Šiva dan Viśnu sama dengan dewa-dewi Hindu lainnya, seperti Sakti, Ganapati dan lain-lain.

Sekalipun dalam perkembangannya pemikiran Śankaracarya memang secara historis  memiliki pengaruh lebih besar di dalam komunitas Śaiva daripada di komunitas garis silsilah Vaisnava. Pengaruh terbesar dari para guru tradisi Advaita adalah di antara pengikut tradisi Smartha, yang mengintegrasikan ritual Veda domestik dengan aspek devosional Hinduisme.

Bhagavad Gita yang diterjemahkan dari teks Sanskrit dan diberi komentar oleh Śankaracarya, adalah komentar tersohor dan paling awal dari Bhagavad Gita. Komentar dan interpretasi Śankaracarya terhadap teks Gita menjadi rujukan yang sangat penting melihat Gita dari sudut advaita vedanta, telah turun-temurun selama berabad-abad sebagai teks otentik dan komentarnya ini telah terbukti menjadi nilai yang sangat penting sejak saat itu dan sampai kini dalam kesusastraan atau kefisafatan India. Terjemahan dan komentar Śankaracarya dianggap sebagai dasar utama dari banyak filosofi Hindu termasuk Vedanta.

Keterkenalan Bhagavad Gita sekarang tidak terpisahkan dari komentar dan terjemahan Śankaracarya, sang pematik lahirnya Daśanami Saṃpradāya.

4. Saṃpradāya Purva-Mimamsa, Śakta, Saura dan Gana.

Saṃpradāya Śrauta sangat langka di India, yang paling terkenal adalah Brahmana Nambudiri dari Kerala yang ultra-ortodoks. Mereka mengikuti Purva-Mimamsa (bagian awal dari Veda) berbeda dengan Vedanta yang diikuti oleh Brahmana lainnya. Mereka menempatkan pentingnya kinerja Kurban Weda (Yajna). Brahmana Nambudiri terkenal dengan pelestarian Somayaagam kuno, ritual Agnicayana yang telah lenyap di bagian lain India.

Tersisa Śakta Saṃpradāya dalam 2 pilah, yaitu:

(a). Kalikula ada di Bengal, Assam, Nepal & Odiśa. Pujaan utamanya adalah Dewi Kali.

(b). Srikula menyebar di Tamil Nadu, Andhra , Telangana, Karnataka, Kerala & Sri Lanka. Pujaan utamanya adalah Lalita Devi atau Sri Devi.

Dari tradisi Srikula dalam Śaktisme, adalah Tripura Sundari yang paling utama dari Mahavidya, aspek tertinggi dari Dewi Adi Paraśakti. Tripura Upaniśad menempatkannya sebagai Śakti (energi, kekuatan) tertinggi di alam semesta, yang digambarkan sebagai kesadaran tertinggi, lebih atas dari Brahma, Wisnu, Rudra dan Iśwara.  Tripurasundari dikisahkan duduk di pangkuan Sadaśiva dalam wujudnya sebagai Kāmeśvara, “Penguasa Keinginan”. Dia juga dewi utama yang terkait dengan tradisi Tantra Śakta yang dikenal sebagai Sri Vidya. Apakah ini yang menjiwai pemujaan Dewi Sri di Nusantara?

Terdapat juga garis silsilah pemuja Surya atau Saura adalah pengikut Hindu yang jejaknya bisa dilihat awal mulanya sangat awal dalam tradisi Weda, dan memuliakan keagungan Surya sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Sejarah tradisi Saura telah dijejaki oleh para peneliti mempunyai pengaruh yang berpengaruh luas dan mendalam di Asia Selatan, terutama di barat, utara, dan wilayah lainnya, dengan banyak pemujaan Surya yang dibangun antara 800 dan 1000 Masehi. Salah satunya Kuil Konark dibangun pada pertengahan abad ke-13. Tradisi Hinduisme pemuliaan Surya disebutkan mulai menurun pada sekitar abad ke-12 dan ke-13 M. Saat ini disebutkan masih ada tetap menjadi gerakan sangat kecil di berbagai wilayah tersebut. Sementara itu yang masih kuat pemujaan Surya tetap menjadi praktik dominan di Bihar-Jharkhand dan Uttar Pradesh Timur dalam bentuk Chhath Puja yang dianggap sebagai festival utama yang sangat penting di wilayah ini. Di Bali ditemukan lontar Puja Bwat Sora yang merupakan manual khusus pemujaan Surya yang diwariskan dalam silsilah keluarga Bhujangga di Bali, ini semacam Argapatra dalam versi yang kemungkinan lebih kuno.

Pemujaan Ganapati masuk dalam saṃpradāya yang sangat kuno walaupun baur dengan pemujaan Śiwaisme lainnya, namun terdapat tradisi kuno di mana Dewa Ganeśa dipuja sebagai bentuk utama dari Saguna Brahman. Garis ajaran ini tersebar luas dan berpengaruh di masa lalu dan tetap penting sampai kini di wilayah Maharaśtra.

Jejak Saṃpradāya dalam Perjumpaan Nusantara

Banyak temuan lontar-lontar Rsi Gana terwariskan di Nusantara, kini disimpan dalam kekhususan tradisi Bhujangga Sangguru yang mewarisi sistem puja Rsi Gana yang secara spesifik, tergabung dalam kompilasi sistem puja Wesnawa-Śaiwa di Bali yang khas mungkin hanya ada dalam tradisi Jawa Kuno dan Bali, tidak ditemukan di bagian manapun di India, kemungkinan telah punah, atau memang sebagai koalisi-pembuahan bijak kepanditaan Nusantara yang lebih memilih berjumpa daripada berpisah. Ada lagi Petra Puja yang khas sebagai bagian dari Garuda Purana yang terwariskan di Bali, viṣṇupūjā atau visnuapañjara berbaur dengan śivapūjā, aṣṭākṣara, mantra japa dvādaśākṣara, semua terdamaikan dalam kompilasi yang terikat setara dan masing-masing punya tempat khusus dan keistimewaan. Sistem kepanditaan kuno Nusantara yang tercermin di tanah Sunda, Jawa dan Bali, lebih memilih menyatukan niat baik, dari pada berpisah karena selisih.

Perjumpaan semua saṃpradāya kuno yang sempat menjadi garis pewarisan tradisi Weda yang berkembang dari arus ke India Selatan dan ke Asia Tenggara, atau lewat jalur Nepal dan Asia Tenggara, semuanya berujung manis di titik terjauh karena di perjalan yang panjang yang ditempuh semua ego-sentris telah pupus diterpa angin laut dan buih ombak yang menguji keimanan para pandita, telah melalui pulau dan pegunungan hijau yang menenangkan, sampai akhirnya semua ego-sentris saṃpradāya luluh berjumpa saripatinya. Semuanya dalam panjang perjalanan laut dan perjalanan panjang sejarah, tertinggal sarinya, bunga-bunga dan buah baiknya yang unggul, yang jumpa dalam damai esensi vedic yang menjernihkan, menghilangkan semua kulit perbedaan, temu dalam kemurnian tujuan batiniah yang tidak lagi rajas dan tamas, tapi satwam dan satwam, lalu satyam dan sundaram menjadi ujungnya terwariskan dalam kompilasi tidak terpisah Śiwa, Waisnawa, Ganapati, Saura, Śakta, Śrauta, advaita dan dvaita, semuanya manunggal dalam sang-hyang-suci yang tinggal ruh agung tersucinya.

Sebagai “perantau” mereka berdamai. Dimana ada “rantau” yang jauh di tanah seberang yang tidak mungkin pulang saling sikut? Di titik temu “para rantau” berjumpa dengan tangan terbuka anak-anak bumi Nusantara yang santun dan sahaja, semuanya berpelukan, melupakan mana rantau mana pribumi, dari titik itulah berangkat “kita Nusantara” membangun peradaban bersama yang berlapang hati, berpikir baik dan jernih saling menguatkan.

Pada titik itu kebudayaan Nusantara adalah ujung perjalanan yang diimpikan, berjumpa dengan tanah yang subur. Berjumpa dan bertumbuh. Satu menyediakan benih, satu menyediakan ladang suburnya.[T]

*Catatan ini adalah jawaban tertulis atas sebuah pertanyaan yang disampaikan salah satu peserta Rapat Koordinasi Pejabat Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dengan Tokoh-Tokoh Umat Hindu, Senin, 22 Februari 2021, Hotel Grand Mercure, Jakarta. Beberapa pertanyaan peserta tidak terjawab tuntas karena hambatan teknis daring. Penulis (Sugi Lanus) diundang sebagai narasumber dan menyampaikan hasil presentasi berjudul: Perjumpaan India Kuno & Nusantara: Sebuah Kilas Balik Pertalian Religi Pre-Modern India & Religi Nusantara.

Tags: balihinduNusantarasampradaya
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alangkah Sulitnya Menghapus Stigma

Next Post

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails

Wartawan Kehabisan Bensin

by Angga Wijaya
October 12, 2026
0
Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

Read moreDetails

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

Read moreDetails

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
0
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

Read moreDetails

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

by Angga Wijaya
October 10, 2026
0
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

Read moreDetails

China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

by Agung Sudarsa
October 10, 2026
0
China, Tibet, dan Bali: Ketika Pembangunan Kehilangan Mata Ketiga

China yang Membuat Dunia Terpesona China hari ini sulit untuk tidak dikagumi. Dalam beberapa dekade, negeri itu berubah menjadi salah...

Read moreDetails

“In Money We Trust”, Kembalikan Baliku Padaku

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 9, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, akhir-akhir ini ramai dibicarakan orang, menyoal lontaran Arya Wedakarna (AWK). Di tengah polemik tentang pengalaman sejumlah...

Read moreDetails
Next Post
Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Kupetik Puisi di Langit | Buku Puisi dari SMAK Harapan

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?
Ulas Rupa

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

by Made Chandra
October 10, 2026
“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara
Esai

“De Liunan Lala-Lele!” — Efektivitas Orang Bali dalam Berbicara

"De Liunan Lala-Lele!" Kalimat itu sering saya dengar sebagai orang Bali, terutama ketika maksud lawan bicara dianggap kurang jelas, berputar-putar,...

by Angga Wijaya
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co