6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa by Dedek Surya Mahadipa
February 26, 2021
in Esai
Cerita-Cerita Biasa dan Tak Biasa Semasa Pandemi

Dedek Surya Mahadipa

Sudah satu setengah tahun saya menjadi bagian dari keluarga kecil bernama Teater Kalangan. Satu setengah tahun yang padat dengan segala hal yang terjadi hingga mungkin beberapa lepas dari ingatan. Tapi sebisa mungkin saya ingin mengingat kejadian itu, mengingat proses yang saya lalui selama ini. Belum lagi tahun kemarin merupakan tahun yang sangat spesial bagi saya.

Mungkin bagi kebanyakan orang tahun 2020 adalah tahun yang tidak mengenakan, suram, dan segala hal buruk lainnya. Tahun ini pandemi Covid-19 muncul tak diundang, meluluh lantahkan semua dihadapannya. Menghancurkan rencana yang sudah tersusun rapi, menghilangkan pertemuan, dan menyebarkan ketakutan di sana dan sini. Tetapi di balik kesuraman itu banyak hal yang saya dapatkan pada tahun ini. Tidak hanya hal negatif tetapi juga banyak hal positif. Tidak hanya hal yang buruk tetapi juga hal yang baik.

Awal Tahun dan Pandemi

Pada bulan-bulan awal memang berjalan dengan lancar dan beberapa acara masih bisa dilaksanakan tanpa adanya masalah. Namun mulai bulan ketiga semua berubah. Seperti yang kita tahu semua mulai mengkarantina diri masing-masing dan menghindari pertemuan. Tentu saja itu juga berlaku untuk saya, bulan-bulan awal pandemi saya habiskan di rumah dan toko keluarga. Tidak seperti kebanyakan tempat yang harus menutup toko misalnya di tempat-tempat pariwisata. Toko di desa harus tetap buka setiap hari demi sesuap nasi esok hari. Maka dari itu tidak ada alasan untuk tutup dan libur. 

Maka dari itu saya membantu orang tua sebisa mungkin dalam menjalankan toko. Meski bantuan saya tidak seberapa tetapi setidaknya ini lebih baik daripada berdiam diri di dalam kamar. Lambat laun hari-hari itu mulai terasa bosan. Berusaha menghilangkan kebosanan dengan mengerjakan tugas yang diberikan kampus, namun itu hanya bertahan sementara. Kebosanan itu datang kembali.

Lalu perlahan saya membawa buku-buku yang belum tuntas dibaca. Membacanya sambil menunggu pelanggan yang datang entah kapan. Setidaknya saya bisa mengobati kebosanan ini dengan membaca. Banyak hal yang menarik terjadi selama bulan-bulan awal pandemi. Saya kembali berkumpul dengan keluarga. Keluarga yang jarang sekali saya temui dan menghabiskan waktu bersama dalam beberapa tahun ini.

Semenjak kuliah saya lebih sering menghabiskan waktu di luar. Bahkan setelah kos bareng dengan beberapa kawan, kehadiran saya di rumah lebih kecil lagi. Bahkan kehadiran saya bisa dua tiga kali dalam seminggu, itupun hanya beberapa jam saja. Setidaknya dengan adanya pandemi ini, saya dipaksa untuk berdiam diri di rumah. Ini salah satu hal yang saya syukuri dengan adanya pandemi. Rasanya seperti diberikan kesempatan kembali untuk mengenal dan bersama keluarga.

Menjalin Pertemuan dan Pengalaman Menulis

Kemudian setelah berlalu beberapa bulan, akhirnya saya kembali berkumpul dengan kawan-kawan Teater Kalangan. Rasanya ada sekitar dua bulan tidak bertemu satu sama lain. Ketika bertemu ada hal yang sangat berjarak saya rasakan. Dua bulan itu membuat saya sedikit tidak mengerti apa yang diobrolkan saat itu, rasanya seperti sudah berbeda dunia. Terasa tertinggal. Karena itu juga saya berusaha untuk mengikuti segala pertemuan yang ada, berusaha untuk mengejar ketertinggalan.

Pada saat itu kami sedang membahas sebuah program Dini Ditu Kalangan. Sebuah program untuk menjaga pertemuan di tengah masa-masa seperti saat itu. Memang pandemi berusaha untuk membuat kita terpisah satu sama lain dengan melarang adanya pertemuan. Tapi dengan adanya pandemi ini malah membuka pintu pertemuan lainnya. Bahkan lebih luas jangkauannya bahkan melebihi sebelumnya. Pertemuan tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu. Semuanya bisa terkoneksi dengan adanya media sosial dan perangkat lainnya.

Sangat terasa begitu banyak hal yang berubah, semua pertemuan langsung berganti dan berpindah ke digital. Banyak pertemuan, diskusi, meeting, dan lain sebagainya hadir lewat live ig, zoom, google meet, dan masih banyak lainnya. Pertemuan yang biasanya terhalang oleh jarak sekarang sudah lepas. Jarak antara waktu dan tempat sudah semakin mengabur berkat adanya perangkat-perangkat ini. Meskipun memang harus diakui bahwa pertemuan online tidak akan bisa menggantikan pertemuan offline. Tetapi setidaknya dengan adanya ini bisa membuka peluang relasi baru yang lebih luas.

Dini Ditu Kalangan merupakan ruang pertemuan itu, pertemuan yang melepas batas jarak. Di dalamnya ada banyak acara, mulai dari diskusi dan pertunjukan. Selain juga menjadi alasan untuk menjaga kewarasan, Dini Ditu juga menghadirkan banyak hal yang tak terduga. Terutama saya merasakan pengaruh dari Dini Ditu terhadap diri ini. Dalam program ini saya mendapat tugas untuk menulis cuplikan dari setiap minggunya.

Dan dari sini saya belajar banyak menganai kepenulisan. Terutama dalam membiasakan diri untuk menulis. Menulis setiap minggu ternyata membutuhkan tenaga yang ekstra, terutama dalam membulatkan tekad untuk menyelesaikannya tepat waktu. Jujur saja sampai saat ini saya masih kesulitan untuk menyelesaikan tulisan tepat pada waktunya. Saya bingung mengapa ini terjadi? Padahal awal-awal menulis cuplikan saya dapat menyelesaikannya tepat pada waktu. Lalu lama-kelamaan menjadi lebih dekat dengan deadline hingga pengumpulan melewati batas waktu yang ditentukan.

Apakah ini kebosanan? Atau memang diri ini yang malas? Atau jangan-jangan mandet? Saya masih bingung akan jawaban ini, akhir-akhir ini saya juga merasa tulisan terdahulu lebih bercerita. Entah mengapa lebih enak di baca ketimbang yang sekarang. Lagi-lagi saya tidak tahu mengapa saya merasa seperti ini, mungkinkah karena jengah? Atau ini hanya perkiraan saya saja? Atau mungkin saat ini saya tidak bisa merasakan puas dalam tulisan akhir-akhir ini?

Tapi saya bersyukur tahun ini tidak begitu buruk. Pengalaman menulis yang cukup menarik selama tahun kemarin membuatnya menjadi tahun yang cukup spesial. Memang kadang kala saya kesulitan dalam menulis. Kadang juga stress dan yang paling parah suka mengganggu jam tidur. Kadang harus begadang menyelesaikan tulisan, terkadang juga sampai ke bawa mimpi. Lalu pagi-pagi ketika masih pada fase antara setengah sadar dan tidur, kadang memikirkan dan menyusun apa yang ingin saya tulis.

Atau memikirkan ide-ide yang mungkin menarik jika dijadikan tulisan. Jalan kepenulisan setahun kemarin cukup berat tidak hanya lantaran tugas kampus dan tugas-tugas lainnya. Tetapi juga melawan diri ini yang masih sangat suka dengan rebahan dan malas-malasan. Tentu saja jalan kepenulisan saya belum selesai, masih banyak hal yang kurang di sana-sini. Masih banyak hal yang harus diperbaiki. Karena masih banyak kekurangan artinya masih banyak hal yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Melalui tulisan saya bisa mengungkapkan apa yang selama ini tidak bisa terucapkan. Melalui tulisan saya mengasah pikiran dan gagasan. Melalui tulisan saya bisa terhubung dengan orang-orang yang lebih luas lagi. Melalui tulisan saya bisa membuka kemungkinan-kemungkinan menarik lainnya.

Ruang-Ruang Baru dan Kabar Ulat

Tahun kemarin menjadi sangat menarik bagi saya, meski ada beberapa hal yang tidak menyenangkan seperti kuliah online dan lain sebagainya. Tahun lalu saya banyak mencoba beberapa ruang-ruang baru. Mulai dari mencoba mengikuti pameran, workshop, dan penelitian. Ruang-ruang yang cukup menarik untuk dimasuki. Mencoba bertemu dengan berbagai macam orang dan merasakan berbagai suasana.

Tahun kemarin menjadi gudang percobaan saya dalam memasuki ruang-ruang tersebut. Pameran yang menjadi laboratorium saya dalam merancang dan menggagas sebuah karya. Banyak hal yang terjadi selama prosesnya, mulai dari banyak diskusi yang hadir dan banyak revisi yang terjadi.  Banyak ide yang diulang, dipakai, diganti, bahkan dibuang. Kemudian workshop yang membawa peluang pertemuan baru dan menambah pertemanan. Lalu penelitian yang membawa banyak hal baru terutama dalam hal saya memandang arsitektur.

Pada akhirnya tahun 2020 bukanlah tahun yang cukup buruk untuk diri saya. Banyak pengalaman, pertemuan, percobaan, dan hal-hal menarik lainnya terjadi dalam tahun itu. Saya jadi teringat akan tulisan saya di catatan awal tahun 2020 kemarin.

Dalam tulisan itu ulat, baru saja mengenal dunia yang disinggahinya, kemudian berusaha ingin menjadi kupu-kupu yang cantik. Tetapi dalam tulisan ini saya rasa ulat masih senang menjadi dirinya, kemudian mencoba melihat dunia dari sudut pandangnya. Mencoba berkeliling untuk mengeksplorasi hal-hal yang tidak diketahuinya. Mencoba menikmati masa-masanya menjadi ulat sebelum pada akhirnya berubah menjadi kupu-kupu. [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Baca Lontar Bersama Umberto Eco

Next Post

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Dedek Surya Mahadipa

Dedek Surya Mahadipa

I Wayan Dedek Surya Mahadipa. Mahasiswa Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa. Anggota Teater Kampus Warmadewa. Mulai ingin serius mendalami teater di Teater Kalangan.

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Kenapa Orang Bali Tidak Memuja Arca-Lukisan Penulis Kitab?

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co