24 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak Pak Lurah || Analisis Semantik

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
December 27, 2020
in Esai
Anak Pak Lurah || Analisis Semantik

“Anak Pak Lurah” beberapa hari terakhir ini menjadi trending topik di media sosial. Hal ini disebabkan oleh pemberitaan Majalah Tempo tentang rekomendasi pembuatan goodie bag alias kantong kemasan untuk paket bansos dari Kementerian Sosial. Frase anak Pak Lurah mengacu pada Gibran Rakabuming yang disebut-sebut sebagai pihak yang merekomendasikan PT Sritex ke Kemensos untuk pembuatan tas itu. Gibran Rakabuming sudah memberi klarifikasi atas berita itu.

Yang menarik dari pemberitaan itu bukan saja masalah jatah kantong bansos itu, melainkan juga penggunaan frase “Anak Pak Lurah”, yang merujuk pada Gibran yang baru saja memenangkan Pilkada Solo. Apakah ini sebuah konspirasi untuk menjatuhkan Gibran? Tulisan ini tak membahas soal itu. Yang menjadi pertanyaan menarik adalah, mengapa hanya untuk menyebut nama Gibran dalam masalah ini harus menggunakan frase anak Pak Lurah. Mengapa tidak memakai anak Bapak Kepala Desa. Mengapa tidak memakai anak Pak Camat. Apakah ada sesuatu yang istimewa dari penggunaan frase anak Pak Lurah.

Makna kata lurah dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, kata lurah berarti (1) kepala pemerintahan tingkat terendah; kepala desa; (2) kepala atau pimpinan suatu bagian pekerjaan. Mengapa Gibran sebagai anak presiden dibandingkan dengan anak Pak Lurah yang hanya memimpin  wilayah kelurahan. Jika dibandingkan wilayah kekuasaan antara seorang lurah dengan presiden tentu sangat-sangat tidak sebanding.  

Apa makna yang tersirat pada frase anak Pak Lurah. Secara semantik ada tiga pendekatan untuk menganalisis makna dari sebuah kata.

Pertama, pendekatan konseptual memandang bahwa setiap satuan ujaran (leksem atau kata) pada dirinya secara inheren telah terkandung suatu konsep, gagasan, ide atau pemikiran mengenai sesuatu yang ada, terjadi, berlangsung atau yang dilakukan dalam dunia nyata. Pendekatan ini berawal dari teori yang dilontarkan Bapak Linguistik Modern, yaitu Ferdinand de Saussure (1857-1913) bahwa setiap tanda linguistik (Signe Linguistique) terdiri dari dua komponen, yaitu penanda (signifian) dan petanda (signifie)

Yang dimaksud dengan penanda adalah wujud bunyi bahasa dalam bentuk urutan fonem tertentu, sedangkan yang dimaksud dengan petanda adalah konsep gagasan, ide atau pengertian yang dimiliki oleh penanda itu. Umpamanya tanda linguistik yang di sini ditampilkan dalam wujud ortografis (kuda) terdiri dari komponen penanda dalam wujud deretan fonem /k/, /u/, /d/, dan /a/; dan komponen petanda, yaitu berupa konsep atau makna sejenis binatang berkaki empat yang biasa dikendarai (Chaer, 2020). Demikian pula frase anak Pak Lurah jika dianalisis secara pendekatan konseptual,  Anak Pak Lurah merupakan penanda yang terdiri dari deretan fonem /a/,/n/,/a/,/k/,/p/,/a/,/k/,/l/,/u/,/r/,/a/,/h/. Deretan fonem tersebut memiliki komponen petanda anak dari seorang kepala pemerintahan terendah (kelurahan).

Kedua, pendekatan  komponensial, setiap kata itu dapat dianalisis atau diuraikan atas sejumlah ciri atau komponen yang membentuk makna kata itu secara keseluruhan. Umpamanya kata bapak memiliki komponen atau ciri makna sebagai berikut: bapak (+ manusia,+ dewasa,+ punya anak, + sapaan dari anak untuk orang tua laki-laki, dan + sapaan terhadap orang laki-laki lain), ayah (+ manusia,+ dewasa,+ punya anak,+ sapaan dari anak untuk orang tua laki-laki, – sapaan terhadap orang laki-laki lain). (tanda + berarti memiliki ciri atau komponen makna itu; tanda – berarti tidak memiliki ciri makna itu dan tanda ± bisa memiliki bisa tidak).

Dari ciri atau komponen makna bisa kita lihat bahwa kata bapak bisa digunakan untuk menyapa siapa saja yang pantas disebut bapak atau pantas dihormati. Kalimat  (1) berikut berterima dan (2) tidak berterima. (1) kami mohon kesediaan Bapak lurah untuk membuka pertemuan ini. (2) Kami mohon kesediaan ayah lurah untuk membuka pertemuan ini.

Beranalogi dari analisis tersebut kata presiden dan lurah memiliki komponen makna:


Presiden

+ kepala pemerintahan (tertinggi)

+ cakupan wilayah (negara dalam bentuk republik)


Lurah

+ kepala pemerintahan (terendah)

+ cakupan wilayah (kelurahan)

Analisis berdasar pada komponen makna sangat jelas perbedaan antara presiden dan lurah. Presiden merupakan kepala pemerintahan suatu negara yang berbentuk republik sedangkan lurah merupakan kepala pemerintahan (terendah) suatu kelurahan. Yang menjadi pertanyaan mengapa majalah Tempo menggunakan frase Anak Pak Lurah untuk merujuk pada Gibran. Apakah pemerintahan Pak Jokowi dianggap seperti pemerintahan sebuah kelurahan? Apakah dengan menganggap Gibran sebagai anak Pak Lurah, tersirat bahwa  memimpin negara seperti memimpin sebuah kelurahan dan ada suatu stigma negatif  terhadap pemerintahan kelurahan, misalnya sistem birokrasi kelurahan tidak dilakukan dengan menerapkan prinsip manajemen good governance? Secara implisit, misalnya, pemimpin keluharan bisa begitu mudah melibatkan anggota keluarga dalam proyek pembangunan.

Ketiga, pendekatan operasional menyatakan bahwa makna setiap leksem/kata sangat tergantung pada konteks (kalimat) di mana kata itu digunakan. Frase anak Pak Lurah, mungkin digunakan untuk  menyindir dan memberikan kritik secara tidak langsung. Majalah Tempo tidak dengan terang-terangan menyebut keterlibatan anak presiden dalam memberikan rekomendasi PT Sritex. Ini merupakan bentuk satire. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Masker = Pakaian Dalam?

Next Post

Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
0
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

Read moreDetails

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
0
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

Read moreDetails

King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

by Hartanto
May 22, 2026
0
King Lear dan Refleksi Kekuasaan Hari Ini

SAAT gelisahku, saat bongkar-bongkar buku lama berdebu – saya justru tertarik drama-drama karya William Shakespeare. Setelah mencoba memahami lakon Macbeth...

Read moreDetails

‘Trust the Process’: Arsenal-Arteta Bisa, Bagaimana Indonesia-Prabowo?

by Afgan Fadilla
May 22, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

ADA satu kalimat yang beberapa tahun terakhir identik dengan Arsenal: trust the process. Kalimat itu awalnya lebih sering menjadi bahan...

Read moreDetails

Besar Cerita, Besar Berita

by Angga Wijaya
May 21, 2026
0
Besar Cerita, Besar Berita

ENTAH kebetulan atau tidak, saya beberapa kali mendapati pada beberapa keluarga di Bali yang suka membesar-besarkan cerita tentang bantuan yang...

Read moreDetails

Hati-Hati Ada Proyek!

by Dede Putra Wiguna
May 21, 2026
0
Hati-Hati Ada Proyek!

DI Bali, terutama wilayah selatan, papan bertuliskan ‘Hati-Hati Ada Proyek’ bukan lagi sekadar penanda pembangunan. Ia telah menjadi semacam slogan...

Read moreDetails

‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

by Lailatus Sholihah
May 20, 2026
0
‘Moral Panic’ di Ruang Tafsir: Membaca Polemik Film ‘Pesta Babi’ di Era Digital

ERA digital ini, kemarahan hampir selalu bergerak lebih cepat daripada proses memahami, seperti sebuah judul yang diadili sebelum karya itu...

Read moreDetails

Mozaik 20 Mei: Banyak Seremoni, Miskin Kebangkitan

by Chusmeru
May 20, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SETIAP tanggal 20 Mei bangsa Indonesia seolah menyetel ulang kompas tentang nasionalisme. Dari mana nasionalisme dimulai, dan kini hendak dibawa...

Read moreDetails

Sudut Pandang, Cinta, dan Manusia yang Terlalu Cepat Menghakimi

by Emi Suy
May 19, 2026
0
Menulis: Perspektif Pengalaman Pribadi

DUNIA modern melahirkan manusia-manusia yang semakin pandai berbicara, tetapi perlahan kehilangan kemampuan memahami. Hari ini, orang terlalu cepat membuat kesimpulan...

Read moreDetails

Setelah Tari Pembuka, Apa yang Tersisa dari Diplomasi Budaya Indonesia?

by Early NHS
May 19, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

JUMAT malam, 8 Mei 2026, di Mactan Expo, Cebu, Filipina, dalam jamuan santap malam KTT ke-48 ASEAN, budaya tampil lagi...

Read moreDetails
Next Post
Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang

Pameran Surya Subratha di Kulidan || Menelisik Tradisi Membentang Ruang

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
Catatan Perjalanan Janger Beringkit
Panggung

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026
Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026
Olahraga

Semangat Sportivitas dan Solidaritas Warnai UHA Futsal Competition 2026

SEJAK Kamis, 21 Mei 2026 ada semangat hidup sehat dan kebersamaan yang dihadirkan di Dewata Mas Futsal di Jalan Raya...

by Julio Saputra
May 23, 2026
Oleh-Oleh dari Baduy Luar
Tualang

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali
Persona

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang
Puisi

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

by Chusmeru
May 22, 2026
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto
Cerpen

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

by Dody Widianto
May 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co