6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bhūr Bhuvaḥ Svaḥ Dalam Diri

Sugi Lanus by Sugi Lanus
October 15, 2020
in Esai
Covid-19 dalam Alam Pikir Religi Nusantara – Catatan Harian Sugi Lanus

ILustrasi tatkala.co / Nana Partha

—Catatan Harian Sugi Lanus, 15 Oktober 2020

1. Umat Hindu sedari kecil diajak mengucapkan doa-mantra Gayatri yang isinya mendoakan kedamaian bhūr bhuvaḥ svaḥ. Lalu disebutkan bahwa bhūr bhuvaḥ svaḥ itu adalah tiga dunia. Ada yang memberi arti: Damai di bumi, damai alam leluhur, dan damai alam dewata. Pada pokoknya umat Hindu diajari sedari kecil untuk berkontribusi dan berikrar untuk menegakkan cita-cita hidup bersama dalam kedamaian, dengan terus mendoakan harmoni dunia, sampai berlapis-lapis dunia lain.

2. Selain bhūr bhuvaḥ svaḥ mengandung arti tiga lapis alam luar yang “menyangga kehidupan”, ada penjelasan lainnya yang membuat kita lebih merasa lebih dekat dengan doa-mantra ini: Di dalam diri kita ada bhūr bhuvaḥ svaḥ.

Pembagiannya sebagai berikut: 

(a) bhūr adalah “ketika kita terjaga” atau “kesadaran terjaga”; 

(b) bhuvaḥ adalah “ketika kita bermimpi” atau “kesadaran ketika bermimpi dalam tidur”; dan

(c) svaḥ adalah “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi”, “hening sunia dalam tidur” atau “deep sleep”.

Penjelasannya sebagai berikut:

(a). Bhūr adalah “ketika kita terjaga” atau “kesadaran terjaga”. Ini adalah situasi manusia melek atau terjaga, ketika berinteraksi dan berpikir, menghayal, atau ketika dalam marah, bentuk sesal dan penderitaan karena sakit dan atau senang. Ini bisa disebut sebagai “dunia paling nyata” atau kasat mata yang dialami manusia. Di sini pikiran dan tubuh harus saling menjaga dan mendukung, kalau tidak tubuh akan menjadi sakit. Jika tubuh diperalat oleh kecerobohan pikiran dan ego, ambisi dan nafsu, serta berbagai gundah-gulana manusia, tubuh akan mengalami derita dan mudah jatuh sakit atau tidak bisa berpikir jernih. Dalam “kesadaran bhūr” peran pikiran sangat penting. Pikiran bahkan bisa dikatakan mendominasi dan berebutan dengan nafsu hayali dan keinginan tubuh yang mudah tergoda.

Seseorang menunggu tumbuhnya kedewasaan pikiran dan pertumbuhan batin untuk bisa mendamaikan pikiran, ego dan nafsu badaniahnya. Berdamai dan arif bijak mendamaikan kesehatan tubuh, loncatan dan ambisi pikiran yang suka ngelantur, atau dorongan fisikal, seperti nafsu dan keinginan ketubuhan lainnya; kesemuanya membutuhkan kedewasaan memahami, agar tidak saling mengorbankan. Tubuh, pikiran, imajinasi, semuanya ingin mendapat tempat masing-masing. Seiring bertumbuhnya kedewasaan, seseorang baru bisa mendamaikannya. Jika telah muncul kedewasaan, seseorang baru bisa memahami proporsi berbagai tarikan ego, pikiran dan ketertarikannya pada berbagai hal. Membutuhkan latihan kesadaran penuh untuk bisa mendamaikan semua letupan-letupan berlebihan yang tidak penting dari segala penjuru pikiran, nafsu, imajinasi dan segala kemalasan.

(b). Kesadaran bhuvaḥ adalah kesadaran ketika kita memasuki tidur dan menemukan diri dalam mimpi. Ini adalah kegelisaan yang memenuhi pikiran ketika tidur.  “Ketika mimpi” atau “sang diri” dalam tidur kita sulit sekali dihandle atau dikontrol oleh pikiran. Ketika tidur pikiran kita seperti tidak berkuasa atau hilang. Padahal pikiran tidak tidur, tapi tetap bekerja dan berproses, mewujud dalam bentuk mimpi, yang tak lain bentuk kegelisahan berpikir. Dalam mimpi ini pikiran seperti memasuki hayal dalam tidur. Mimpi seperti halayan atau lamunanan ketika tubuh tertidur.

Tubuh tidur, pikiran melamun dan menghayal, dan atau kemana-mana tidak jelas, maka terjadi kegelisahan tidur. Bisa saja ketakutan dalam dunia nyata ketika kita terjaga, punya tanggungan kerja belum selesai, punya tunggakan, atau perasaan khawatir pada pasangan, atau kepemilikan berlebihan yang membuat kita takut kehilangan, dstnya, dll; ini membuat kita menjadi memasuki “kesadaran mimpi” yang amburadur tidak terkontrol. Tidur penuh mimpi, sering merasa bermimpi tetapi tidak kita ingat, dan kalau ingat kita menjadi sangat tidak nyaman baik ketika bermimpi, bahkan ketidaknyamanan itu terbawa ketika terjaga.

Apapun alasan kita “masuk ke kesadaran mimpi”, entah ada yang percaya itu sebagai petunjuk atau pengalaman batin dll, itulah kesadaran manusia atau diri kita dalam dunia mimpi, atau kesadaran bhuvaḥ. Biasanya orang yang tidak nyaman atau tidak damai dalam kesadaran terjaga (kesadaran Bhūr) juga tidak damai dalam tidurnya. Kesadaran terjaga (kesadaran Bhūr) berkorelasi dengan tidurnya, biasanya menyebabkan ketika tertidur akan memasuki alam tidur yang penuh mimpi tidak jelas. Mereka yang tidak tertata di “kesadaran Bhūr” ketika memasuki “kesadaran bhuvaḥ” menjadi tidak nyaman dan banyak mimpi yang tidak terjelaskan, mengganjal hati dan menyandra pikirannya di alam mimpi. Sering kali ingatan mimpinya, ketikan terjaga atau bangun, membuat bangun tidur tapi kelelahan atau uring-uringan, atau mengalami ketidaknyamanan seperti baru mengalami peristiwa buruk, walaupun secara nyata ia baru bangun tidur.

(c). Alam svaḥ adalah “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi”, “hening sunia dalam tidur” atau “deep sleep”.

Bisa tidur tanpa mimpi dan bisa masuk “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi” adalah bonus besar dalam hidup. Ini dikatakan sama dengan pengalaman meditasi mendalam. Mereka yang tertidur pulas dan hening seperti bayi, sesungguhnya “terhubung” dengan “Sumber Kehidupan”.

“Alam svaḥ” dalam diri manusia itu antara ada, tapi juga tiada.

Dalam “kesadaran tidur terdalam tanpa mimpi” manusia menyentuh titik persentuhan dengan kesadaran terdalam alam semesta. Ini terjadi ketika memasuki ambang batas tidur tanpa mimpi, dan masuk ke dalamnya lagi terjaga di sana, dalam sunyi hening tiada terperi, gemilang dan damai yang paling dalam. Tidak terlukis kata tapi ada sesuatu yang sadar di sana. Tidak bermimpi, tapi keheningan pulas yang sangat dalam.

3. Terjaga, tidur bermimpi, tidur hening tanpa mimpi — itulah dalam diri kita sebagai bhūr bhuvaḥ svaḥ. Bisakah semuanya dalam “situasi damai”? Ketika kita damai dalam kenyataan hidup, dalam ambang mimpi pun damai, dalam ketiadaan-ingatan dalam tidur lelap kita damai. Tiga alam kesadaran itu damai. Nasihat pustaka leluhur, tiga alam kesadaran ini diharapkan bisa damai.

4. Ada pula yang menyebutkan bahwa ketiga alam ini terkait dengan SARIRA TRAYA:  Sthula sarira (badan kasar); Suksma sarira (badan halus) dan Karana Sarira (tubuh lapisan terdalam sebagai ‘penyebab’).

Lapis alam, lapis kesadaran, lapis sarira, terangkum dalam ungkapan bhūr bhuvaḥ svaḥ di dan dalam diri manusia.

5. Lebih jauh, kenapa ada kata “dhīmahi” dalam doa-mantra Gayatri? “Dhīmahi” = Marilah bemeditasi padanya. Muasal katanya: “dhī”. Ada pula dalam kata “samadhī”. Berpusat pada “dhī” = pikiran. Seorang yogi atau sesorang yang menjalani disiplin mendalam dalam tradisi yoga, bergerak lebih jauh lagi. Setelah berhasil mendamaikan tiga lapis alam kesadaran itu— bhūr bhuvaḥ svaḥ— dalam yoga ia “melampaui tidur tanpa mimpi”. Alam kesadaran ini hanya bisa dimasuki lewat yoga. Baik yoga dalam sikap duduk dari terjaga, atau kesadaran penuh (mindfullness) dalam setiap langkah sehari-hari, atau yoga dengan memasuki tidur, atau disebut sebagai yoga nidra. Dalam pustaka yogi yang diwariskan di Bali dan Jawa, alam melampaui ketiga ini disebut “turya” — bagian keempat. Ini bukanlah terjaga, bukan bermimpi, ataupun bukan tidur nyenyak. Sebelum sampai ke sana, menurut para guru batin yang menulis ajaran tattwa kuno, harus dipahami bahwa di antara tiga alam tersebut ada semacam titik temu atau ambangnya. Atau persimpangan antara salah satu dari tiga kesadaran atau alam tersebut, yaitu: Antara bangun dan bermimpi, antara bermimpi dan tidur nyenyak, dan antara tidur nyenyak dan bangun. Ada semacam jembatan titik-titik hubung jadi perantara di sana. Tiga kesadaran itu ditambah dengan “turya” menjadi 4 alam atau bagian. Kemudian, mereka yang disebut sebagai mencapai tingkatan tertinggi manusia, setelah melampaui 4 alam ini, ia masuk ke tahapan ke 5, yang disebut “turiyatita” — alam atau kesadaran di luar Turiya. Turiyatita ini disebut juga sebagai “śunya” — keadaan di mana seseorang mencapai pembebasan atau dikenal sebagai “jivanmukti” atau “moksha”.

6. Doa sehari-hari yang berisi doa kedamaian bhūr bhuvaḥ svaḥ bisa bersifat keluar diri, sekaligus ke dalam diri. Bhūr bhuvaḥ svaḥ sebagai tiga dunia luar, sekaligus lapis dalam diri. Lalu ditutup dengan “dhiyo yo naḥ pracodayāt”

dhiyoḥ = intelek, kemampuan rohaniah di dalam tubuh, aktivitas hidup

yoḥ = yang

naḥ = milik kita, dari kita

pracodayāt = untuk bergerak ke arah tertentu

cod = untuk memindahkan (sesuatu / seseorang) ke arah tertentu

pra = awalan “maju, maju”

pracud = “untuk memajukan (sesuatu / seseorang)”

Puncak doa-mantra ini memberi petunjuk dan arahan agar dunia di luar diri didamaikan dalam doa, lalu dunia atau alam di dalam diri didamaikan, menuju pemanunggalan luar-dalam, menaiki tangga diri memasuki dan menaiki kesadaran, “dhī” dan “dhiyoḥ”. Dari intelek yang mendalam dan bercahaya menuju esensi cahaya — “śunya” — atau “Turiyatita”.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sedarah, Jembatan Pencari dan Pendonor Plasma Pasien Covid-19

Next Post

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

“We Love Bali” Tour, Sebuah Perjalanan Tentang Merayakan Kesunyian

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co