7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tai dan Spiritual

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
July 28, 2020
in Esai
Atat Yang Bijaksana #1

ILustari tatkala.co | Nana Partha

Saya tidak bermaksud untuk memasangkan kedua kata itu sebagai kawan, atau pun mempertentangkannya sebagai lawan. Keduanya berdiri sendiri, tapi berhubungan dengan sangat halus. Yang satunya mewakili kekotoran, kejijikan, ketidaksucian. Sedangkan yang satunya, mewakili hal-hal sebaliknya: kebersihan, kesucian, kekaguman. Keduanya seperti magnit. Dua sisi berbeda yang saling tarik-menarik dan melekat jika bertemu atau dipertemukan.

Ada banyak warisan cerita yang isinya berkisar seputar tai. Dalam cerita-cerita itu, tai tidak hanya berarti kekotoran, tapi sekaligus mewakili kecerdasan, ketulusan, keberuntungan, dan tentu saja magis!

Salah satu cerita I Belog adalah warisan yang menunjukkan tai sebagai cermin ketulusan. Karena ketulusanlah, ia mengiringi seorang pendeta kemana-mana. Membawakan barang-barang, dan dilarang menginjak bayangan Pendeta. Jika Pendeta sakit perut dan membuang isi perutnya, I Belog juga tidak mau ketinggalan. Dengan tulus ia mengiringi tai Pendeta dengan tai miliknya. Di sungai, kedua tai itu hanyut saling mendahului tanpa bisa kita kenali lagi, tai yang mana milik siapa. Pokoknya, ketulusan diterjemahkan oleh I Belog sebagai pengabdian. Pengabdian sampai ke titik paling kecil dalam hidupnya.

Tai sebagai bentuk kecerdasan, ditunjukkan oleh cerita Pan Balak Tamak. Dengan apik ia menyusun rencana agar seluruh warga Banjar, melihat jaja iwel di sudut Bale Banjar. Jaja iwel itu dibentuk agar semirip-miripnya dengan tai anjing. Sontak jika Pan Balak Tamak menantang warga untuk memakannya, tidak akan ada satu pun yang cukup cerdas untuk memeriksa jaja iwel-tai anjing itu. Tidak akan ada yang curiga, tai jadi-jadian itu adalah bentuk kecerdasan Pan Balak Tamak. Pada akhirnya, sekumpulan warga Banjar yang sudah barang tentu adalah kumpulan orang-orang yang mengira dirinya terpelajar, dikalahkan dengan ‘tai anjing’.

Tidakkah kedua cerita berisi tai tadi cukup mencengangkan? Tapi kedua tai tadi, pastilah tidak lebih mencengangkan dari pada tai magis. Tai dalam pandangan mistik, diterjemahkan sebagai keberuntungan. Karena ini tai keberuntungan, tentu saja dikeluarkan oleh makhluk spesial. Setidaknya, makhluk ini haruslah suci. Yang namanya kesucian, hanya bisa dikeluarkan oleh yang suci-suci. Tidak akan ada yang meragukan kesucian Cicak. Saking sucinya, ia kita sebut simbol Dewata. Tidak main-main, ia diangkat setinggi-tingginya sebagai simbol kecerdasan. Kecerdasanlah yang konon membedakan manusia dari makhluk lain di muka bumi di bawah kolong langit. Dengan kecerdasan pembeda itu, kita bangga jika tiba-tiba cicak berak dan tainya jatuh di ubun-ubun tempat kediaman Shiwa.

Cicak yang suci pun bisa kita bunuh dengan tidak sengaja saat membuka atau menutup pintu. Atau entah bagaimana caranya, cicak lambang Dewi Kecerdasan, bisa tiba-tiba melupakan kecerdasan yang dimiliki dan masuk ke dalam alat-alat elektronik dan mati kesetrum di dalamnya. Yang jelas, mau tidak mau, ingin tidak ingin, terima tidak terima, kita ini adalah pembunuh kecerdasan. Alasan dasar pembunuhan itu, tidak lain ialah ketidaktahuan. Tidak tahu artinya bodoh. Karena kebodohan, kita membunuh kecerdasan!

Tai selanjutnya, adalah milik Bhatari Uma. Bhatari Uma dalam cerita yang satu ini, tidak mengeluarkannya dengan indria dubur atau payu. Meski istilah dubur ada dalam teks-teks tattwa, tapi saya belum pernah membaca ada yang menulis dubur para dewata. Apalagi menggambarkan dubur Bhatari Uma sebagai salah satu dewata yang berpangkat tinggi. Tentu saja, dalam konteks ini penilaian berperan penting dalam penulisan karya sastra. Nilai itulah yang mengendap-endap dari balik norma yang terpendam di dalam benak pengarangnya. Saya bahkan ragu, pengarangnya mengetahui kejadian ini dari awal. Jangan-jangan nilai itu baru disadarinya setelah cerita rampung dan lahir sebagai anak rohani. Di dalam cerita itulah, tai ini konon keluar dari mulut Bhatari. Tidak secara harfiah, tapi Bhatari mengatakannya lewat kata-kata.

[…] salah wuwusta, tan hana simne sor lawan lewih, yan mangkana, kadyangganing kasturi jbat, den padha keni kalawan tai […]

[ucapanmu salah, tidak ada tinggi rendah? jika demikian, seperti harumnya bunga Kasturi, sama dengan aroma tai!].

Begitu kata Bhatari Uma kepada Prabhu Caya Purusa. Kata-kata itu keluar, karena Caya Purusa menyamakan antara sakala dan niskala. Kedua alam itu saling masuk memasuki satu sama lain. Seperti udara yang masuk ke tubuh menjadi nafas, dan nafas yang keluar menjadi udara. Dialog-dialog selanjutnya berkisar antara pertanyaan dan jawaban tentang kekotoran, kesucian, kebebasan. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu, tidak akan pernah berhenti sampai pada satu titik Si Penanya dan Si Penjawab sama-sama terpuaskan dan kelelahan.

Tidak ada yang aneh jika kata tai keluar dari mulut suci salah satu Dewata. Hal ini membuktikan, ada masanya kesucian melahirkan kekotoran. Sama dengan kasus Pendeta suci yang mengeluarkan kotoran sebagai kebutuhan dasar. Tetapi kita juga tidak boleh lupa, bahwa Pendeta yang benar-benar suci bisa mengeluarkan kekotoran dengan sengaja tanpa diminta oleh tubuhnya. Peristiwa semacam itu, kita dapat dari cerita Sutasoma dan Ida Pedanda Sakti Ender. Keduanya konon bisa mengeluarkan kotoran perut dengan bantuan air mengalir. Air yang mengalir dari pancuran diteguk terus-menerus sampai memenuhi perut lalu mengeluarkannya dengan pasti melalui lubang yang seharusnya. Apakah ini hanya sekadar cerita? Biarpun ini sekadar cerita, dengan cara berpikir tertentu kita bisa memahami masih ada sesuatu yang sengaja disembunyikan di dalamnya.

Beberapa cerita tai tadi, sangatlah dekat dengan spiritual. Kedua kata itu tidak dipertentangkan satu sama lain, tidak juga dipasangkan. Keduanya berada pada jalur masing-masing tanpa bertubrukkan.

Jalur kata tadi tidak berbeda dengan jalur keyakinan yang kini banyak ditempuh. Kita menyebut jalan itu sebagai marga. Ada yang berjalan di jalur ramai disebut Prawreti. Ada di jalur sepi bernama Nirwreti. Meskipun keduanya jalan spiritual, keduanya dipengaruhi modal.

Ada orang yang memilih jalan beramai-ramai. Mereka perlu menggunakan alat agar tidak tersesat. Nama alat itu beraneka ragam. Kita kenal betul, salah satu nama alat itu banten. Banten adalah persembahan. Setidaknya begitu konsep awal di dalam pikiran kita yang berjalan. Ada masanya alat ini membuat perjalanan semakin berat, karena kerumitan dan jumlahnya yang makin banyak. Saat itulah peluang tercipta. Terutama bagi yang merelakan dirinya menyelam dalam kerumitan. Jual beli pun terjadi. Persembahan tidak lagi sekadar hubungan pribadi antara pemuja dengan pujaan. Tapi melibatkan hal-hal lainnya. Dan kita tahu, jual beli ini kita terima dengan malu-malu.

Pejalan di jalur tidak ramai bukannya lepas dari kuasa pemegang modal. Pejalan jenis ini, tentu masih manusia dan harus mengurusi perutnya. Maka jangan heran ada jenis makanan yang khusus dibuat untuk perut-perut pejalan ini. Tidak aneh, itu sangat normal. Bukan karena terpaksa, tapi karena memang begitu hukum alam. Agar tubuh bertahan, mau tidak mau harus makan dan minum. Kecuali ada suatu perjanjian tertentu yang sedang berusaha ditepatinya.

Diam-diam pemilik modal menemukan celah halus di dalam benak pejalan sepi. Agar berjalan lebih nyaman, disediakanlah peralatan-peralatan. Alas duduk, pakaian bersih, minyak wangi aroma terapi relaksasi, semuanya tidak jatuh begitu saja dari alam niskala yang dipujan-puja. Jadi jalur sepi pun, tidaklah sesepi ekspektasi.

Modal dan spiritual bukan pasangan yang aneh. Untuk berguru, Airlangga harus membayar Baradah. Gusti Dauh Bale Agung pun demikian kepada Dang Hyang Nirartha. Pembayaran ini bernama Guru Daksina. Entah bagaimana kemudian, segala hal-hal yang berhubungan dengan spiritual seolah diposisikan jauh dari modal. Padahal untuk mengundang seorang juru Topeng Sidakarya, kita sama-sama paham harus ada banten dan kelengkapan lainnya yang dihaturkan. Untuk mendengarkan wejangan seorang penekun spiritual yang mumpuni, kita juga harus merogoh kantung dalam-dalam.

Kedua jalan ini berada pada relnya masing-masing. Sesekali keduanya akan bertemu di persimpangan. Saat itu terjadi, para pejalan dihadapkan pada beberapa pilihan. Memilih saling menabrakkan diri, berhenti dan melihat situasi, kembali, atau pilihan-pilihan lainnya. Pilihan-pilihan itulah yang kita sebut penyikapan. Berbeda cara penyikapan, berbeda pula hasilnya. Perbedaan cara penyikapan, hanya bisa terjadi jika situasi macam itu dilihat dari sudut pandang berbeda pula.

Sekarang setelah kita berjalan semakin menjauhi asal untuk mendapat tujuan spiritual, kita akan dihadapkan pada satu pertanyaan; “Semua jenis makanan untuk jasmani dan ruhani yang kita nikmati, kebanyakan jadi sari atau tai?” [T]

Tags: sastraSpiritual
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Usaha Menuju Good Public Governance di Tanah Ubud

Next Post

Bahasa Bali, Cipta Lagu di Antara Pilihan – [Webinar Talksow #4 SAPBB STAHN Mpu Kuturan Singaraja]

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Bali, Cipta Lagu di Antara Pilihan – [Webinar Talksow #4 SAPBB STAHN Mpu Kuturan Singaraja]

Bahasa Bali, Cipta Lagu di Antara Pilihan – [Webinar Talksow #4 SAPBB STAHN Mpu Kuturan Singaraja]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co