2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teatermu Untuk Apa, Untuk Siapa? Beneran Sudah Bahagia Berteater?

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
January 26, 2020
in Khas
Teatermu Untuk Apa, Untuk Siapa? Beneran Sudah Bahagia Berteater?

Setelah dikenal banyak orang, lalu untuk apa kita berteater lagi?

Apa benar teater membuatmu lebih peka, nyatanya kamu garap pementasan semalam suntuk, lalu sakit berulang kali pula! Untuk apa berteater ?

Nulis proposal cari dana ke lembaga besar, lalu kalau tidak ada dana, apa tetap berteater ?

Dapat suntikan dana dari pemerintah, lalu dibilanglah memihak , sebagai kaum oportunistik kepemimpinan !

Eh bener mau garapan, uang untuk beli rokok, makan, kopi, masih ada nggak bulan ini?


Dan masih banyak pertanyaan-pernyataan, keraguan-keraguan lainnya yang membayangi saya dalam berproses di Teater Kalangan sepanjang tahun 2019. Hal-hal itu muncul dari pengalaman tahun sebelumnya atas pergulatan saya di dunia teater yang tegang sekaligus sunyi ini.

Namun di satu sisi ada beberapa orang atau kelompok yang menjadi patron sekaligus penyemangat  dalam pengembaraan saya, sebut saja Ibed Surgana Yuga  sutradara dari Kalanari Theater Movement. Tahun 2019 saya cukup intens bertemu dengan Bli Ibed karena ada produksi pementasan bersama. Ia yang lebih banyak diam dan sibuk di depan laptopnya mungkin bisa saya sebut tokoh muda teater hari ini di Indonesia, yang masih berjuang dalam ideologi-ideologi aminanya yang entah sampai di mana dan sampai kapan. Kemudian jika agak luang bli Ibed akan bercerita banyak hal tentang pengalamannya berteater, kepenulisan naskah, hingga memberi refrensi-refrensi pementasan teater di kanal youtube.

“Orang teater itu tidak akan pernah kaya, lah kamu-kamu aja masih bekerja diluar untuk menghidupi teatermu toh” kelakarnya suatu ketika saat bercanda di halaman belakang Canasta Creative Space bersama kawan-kawan lainnya.

Saya benar-benar memikirkan kata-kata bli Ibed. Sampai kapan saya dan kawan-kawan berdarah-darah seperti ini, atau jangan-jangan teater tidak ada gunanya, hanya kejaran eksistensi di atas panggung dan menerima tepuk tangan megah para penonton. Tapi toh kawan-kawan saya senang-senang saja dan tidak masalah waktu istirahat malamnya harus dikorbankan untuk latihan berjam-jam dan berpeluh keringat, lalu diskusi ide-ide, ngobrolin pementasan orang-orang. Sungguh aneh.

“Siapa sih yang mau menonton Teater Kalangan, nonton saja harus mikir, pementasannya penuh simbol, penuh interpretasi terbuka begitu, mending ke bioskop, atau nonton pementasan komedi” ujar seorang kawan saat ngopi bersama di kedai kopi di Denpasar

Saya pun masih meraba jawaban atas pertanyaan kawan saya ini, mungkin saat teman-teman membaca tulisan saya ini, saya belum menemukan jawabannya atau mungkin tidak sama sekali. Apakah mereka yang datang benar-benar menikmati pementasan kami selama ini ? Saya tidak pernah menanyakan ini secara langsung kepada penonton usai pentas. Satu dua orang pasti ada yang mengontak lewat pesan whatsapp mengutarakan apresiasinya baik ataupun buruk sekalipun. Saya berterimakasih sekali pada penonton-penonton tersebut.

Lalu apakah bisa yah, Teater Kalangan ini menjaring lebih banyak penonton, bagaimana caranya? Kalau penonton  banyak, pementasan bisa memakai sistem ticketing. Waaaah, sudah barang tentu ada hibah pembagian hasil, bisa beli rokok lah minimal. Tapi sepertinya angan-angan masih jauh.

Akhirnya saya lelah, atas pertanyaan saya sendiri, atas sindiran orang-orang, atas persepsi persepsi liar di luar sana. saya memutuskan tidak berkarya dulu di tubuh Teater Kalangan, saya tidak mengambil nomor produksi pementasan, 7 bulan terakhir di tahun 2019. Saya ingin berjarak, saya ingin berproduksi di tempat lain, lahirlah Kacak Kicak Puppet Theater, teater boneka yang saya inisiasi bersama kawan-kawan di luar Teater Kalangan. Meskipun jika kekurangan orang masih minta bantuan pemain ke Teater Kalangan.

Keberjarakan ini ternyata suatu upaya menisbikan diri, memulangkan diri pada awal mula, dan menanyakan ulang hal-hal yang saya tuliskan di atas. Semacam bercermin lalu menatap mata sendiri lebih dalam,  hingga menemukan wajah kita di bulatan mata itu. begitulah sebuah perjalanan ketika sudah jauh, harus dipertanyakan kembali untuk apa perjalanan tersebut dilakukan, bentuk menjaga kesadaran agar tidak berlebihan dan melampaui.


Apa yang dihasilkan sebuah perjalanan

adalah sebuah ketiadaan

kita seolah mendalihkan takdir

demi nasib baik atau  buruk sekalipun


Potongan puisi saya yang belum selesai atas perjalanan bersama Teater Kalangan ini semacam pertanyaan ulang yang saya jelaskan di atas.akhirnya kami pun sepakat untuk tidak memproduksi karya 7 bulan terakhir di Teater Kalangan, hanya sesekali pentas karena harus pentas dan mempertimbangan jalinan pertemanan yang telah lama. Apa yang saya lakuan dalam 7 bulan itu ? Saya tidak berhenti berkesenian, malah menjadi kutu loncat ke sana kemari, membantu sejumlah pertunjukan, menggarap pementasan teater boneka bersama Kacak Kicak Puppet Theater, datang ke acara seni yang beredar di Denpasar. Mungkin segala yang saya dapatkan di luar kemudian saya diskusikan di Teater Kalangan, untuk mencari formulasi kelompok berkelanjutan.

Aaaiiiiiih……Saya jadi ingat ketika tamat SMA melanjutkan studi di Surabaya, sewaktu kuliah saya jarang pulang ke Bali.  Ketika libur semester pun  saya habiskan di Surabaya, atau ke beberapa daerah di Jawa, sembari secara langsung atau tidak langsung mambaca Bali dari kejauhan dari kacamata yang berbeda, kemudian menelaahnyamenjadi pernyataan dan pertanyaan yang kadang saya sendiri tidak mampu menjawabnya.

Selama 7 bulan terakhir setiap anggota Teater Kalangan pun tengah mencari jalannya masing-masing, ada yang ikut produksi dengan kelompok lain, ada yang sibuk bekerja mencari dirinya diantara deadline kerjaan, ada yang tengah asik menonton pementasan lalu menulisnya, bahkan ada yang mencari dirinya diantara kesunyian kampung diantara deretan tafsir mimpi dan rumusan angka-angka. Setiap orang sedang berlatih di luar rumah, lalu untuk bertemu lagi membawa ceritanya masing-masing.  Waaaaaah saya jadi ingat adegan film One Piece saat sang kapten Mugiwara No Luffy memerintahkan seluruh krunya untuk berpisah selama dua tahun untuk berlatih masing-masing. Semua awak kapal menuruti perintahnya.

Mungkin saja pengandaiannya seperti itu kali yah.Nah pang serem gen dik.

Di tahun 2020, tepatnya bulan Februari semua kru berkumpul kembali, kami sedang menggarap satu pementasan yang cukup mendebarkan. Mari pantengin saja IG story Teater Kalangan. Prok Prok akan jadi apaaaaaa? [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan KKN Undiknas University: Memadukan Wisata, Budaya dan Arak, di Desa Tri Eka Buana, Karangasem

Next Post

Asal Mula Lalat Punya Mulut Penghisap, Main di Sampah dan Makan Kotoran

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Asal Mula Lalat Punya Mulut Penghisap, Main di Sampah dan Makan Kotoran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co