23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teatermu Untuk Apa, Untuk Siapa? Beneran Sudah Bahagia Berteater?

Jong Santiasa Putra by Jong Santiasa Putra
January 26, 2020
in Khas
Teatermu Untuk Apa, Untuk Siapa? Beneran Sudah Bahagia Berteater?

Setelah dikenal banyak orang, lalu untuk apa kita berteater lagi?

Apa benar teater membuatmu lebih peka, nyatanya kamu garap pementasan semalam suntuk, lalu sakit berulang kali pula! Untuk apa berteater ?

Nulis proposal cari dana ke lembaga besar, lalu kalau tidak ada dana, apa tetap berteater ?

Dapat suntikan dana dari pemerintah, lalu dibilanglah memihak , sebagai kaum oportunistik kepemimpinan !

Eh bener mau garapan, uang untuk beli rokok, makan, kopi, masih ada nggak bulan ini?


Dan masih banyak pertanyaan-pernyataan, keraguan-keraguan lainnya yang membayangi saya dalam berproses di Teater Kalangan sepanjang tahun 2019. Hal-hal itu muncul dari pengalaman tahun sebelumnya atas pergulatan saya di dunia teater yang tegang sekaligus sunyi ini.

Namun di satu sisi ada beberapa orang atau kelompok yang menjadi patron sekaligus penyemangat  dalam pengembaraan saya, sebut saja Ibed Surgana Yuga  sutradara dari Kalanari Theater Movement. Tahun 2019 saya cukup intens bertemu dengan Bli Ibed karena ada produksi pementasan bersama. Ia yang lebih banyak diam dan sibuk di depan laptopnya mungkin bisa saya sebut tokoh muda teater hari ini di Indonesia, yang masih berjuang dalam ideologi-ideologi aminanya yang entah sampai di mana dan sampai kapan. Kemudian jika agak luang bli Ibed akan bercerita banyak hal tentang pengalamannya berteater, kepenulisan naskah, hingga memberi refrensi-refrensi pementasan teater di kanal youtube.

“Orang teater itu tidak akan pernah kaya, lah kamu-kamu aja masih bekerja diluar untuk menghidupi teatermu toh” kelakarnya suatu ketika saat bercanda di halaman belakang Canasta Creative Space bersama kawan-kawan lainnya.

Saya benar-benar memikirkan kata-kata bli Ibed. Sampai kapan saya dan kawan-kawan berdarah-darah seperti ini, atau jangan-jangan teater tidak ada gunanya, hanya kejaran eksistensi di atas panggung dan menerima tepuk tangan megah para penonton. Tapi toh kawan-kawan saya senang-senang saja dan tidak masalah waktu istirahat malamnya harus dikorbankan untuk latihan berjam-jam dan berpeluh keringat, lalu diskusi ide-ide, ngobrolin pementasan orang-orang. Sungguh aneh.

“Siapa sih yang mau menonton Teater Kalangan, nonton saja harus mikir, pementasannya penuh simbol, penuh interpretasi terbuka begitu, mending ke bioskop, atau nonton pementasan komedi” ujar seorang kawan saat ngopi bersama di kedai kopi di Denpasar

Saya pun masih meraba jawaban atas pertanyaan kawan saya ini, mungkin saat teman-teman membaca tulisan saya ini, saya belum menemukan jawabannya atau mungkin tidak sama sekali. Apakah mereka yang datang benar-benar menikmati pementasan kami selama ini ? Saya tidak pernah menanyakan ini secara langsung kepada penonton usai pentas. Satu dua orang pasti ada yang mengontak lewat pesan whatsapp mengutarakan apresiasinya baik ataupun buruk sekalipun. Saya berterimakasih sekali pada penonton-penonton tersebut.

Lalu apakah bisa yah, Teater Kalangan ini menjaring lebih banyak penonton, bagaimana caranya? Kalau penonton  banyak, pementasan bisa memakai sistem ticketing. Waaaah, sudah barang tentu ada hibah pembagian hasil, bisa beli rokok lah minimal. Tapi sepertinya angan-angan masih jauh.

Akhirnya saya lelah, atas pertanyaan saya sendiri, atas sindiran orang-orang, atas persepsi persepsi liar di luar sana. saya memutuskan tidak berkarya dulu di tubuh Teater Kalangan, saya tidak mengambil nomor produksi pementasan, 7 bulan terakhir di tahun 2019. Saya ingin berjarak, saya ingin berproduksi di tempat lain, lahirlah Kacak Kicak Puppet Theater, teater boneka yang saya inisiasi bersama kawan-kawan di luar Teater Kalangan. Meskipun jika kekurangan orang masih minta bantuan pemain ke Teater Kalangan.

Keberjarakan ini ternyata suatu upaya menisbikan diri, memulangkan diri pada awal mula, dan menanyakan ulang hal-hal yang saya tuliskan di atas. Semacam bercermin lalu menatap mata sendiri lebih dalam,  hingga menemukan wajah kita di bulatan mata itu. begitulah sebuah perjalanan ketika sudah jauh, harus dipertanyakan kembali untuk apa perjalanan tersebut dilakukan, bentuk menjaga kesadaran agar tidak berlebihan dan melampaui.


Apa yang dihasilkan sebuah perjalanan

adalah sebuah ketiadaan

kita seolah mendalihkan takdir

demi nasib baik atau  buruk sekalipun


Potongan puisi saya yang belum selesai atas perjalanan bersama Teater Kalangan ini semacam pertanyaan ulang yang saya jelaskan di atas.akhirnya kami pun sepakat untuk tidak memproduksi karya 7 bulan terakhir di Teater Kalangan, hanya sesekali pentas karena harus pentas dan mempertimbangan jalinan pertemanan yang telah lama. Apa yang saya lakuan dalam 7 bulan itu ? Saya tidak berhenti berkesenian, malah menjadi kutu loncat ke sana kemari, membantu sejumlah pertunjukan, menggarap pementasan teater boneka bersama Kacak Kicak Puppet Theater, datang ke acara seni yang beredar di Denpasar. Mungkin segala yang saya dapatkan di luar kemudian saya diskusikan di Teater Kalangan, untuk mencari formulasi kelompok berkelanjutan.

Aaaiiiiiih……Saya jadi ingat ketika tamat SMA melanjutkan studi di Surabaya, sewaktu kuliah saya jarang pulang ke Bali.  Ketika libur semester pun  saya habiskan di Surabaya, atau ke beberapa daerah di Jawa, sembari secara langsung atau tidak langsung mambaca Bali dari kejauhan dari kacamata yang berbeda, kemudian menelaahnyamenjadi pernyataan dan pertanyaan yang kadang saya sendiri tidak mampu menjawabnya.

Selama 7 bulan terakhir setiap anggota Teater Kalangan pun tengah mencari jalannya masing-masing, ada yang ikut produksi dengan kelompok lain, ada yang sibuk bekerja mencari dirinya diantara deadline kerjaan, ada yang tengah asik menonton pementasan lalu menulisnya, bahkan ada yang mencari dirinya diantara kesunyian kampung diantara deretan tafsir mimpi dan rumusan angka-angka. Setiap orang sedang berlatih di luar rumah, lalu untuk bertemu lagi membawa ceritanya masing-masing.  Waaaaaah saya jadi ingat adegan film One Piece saat sang kapten Mugiwara No Luffy memerintahkan seluruh krunya untuk berpisah selama dua tahun untuk berlatih masing-masing. Semua awak kapal menuruti perintahnya.

Mungkin saja pengandaiannya seperti itu kali yah.Nah pang serem gen dik.

Di tahun 2020, tepatnya bulan Februari semua kru berkumpul kembali, kami sedang menggarap satu pementasan yang cukup mendebarkan. Mari pantengin saja IG story Teater Kalangan. Prok Prok akan jadi apaaaaaa? [T]

Tags: TeaterTeater Kalangan
Share59TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan KKN Undiknas University: Memadukan Wisata, Budaya dan Arak, di Desa Tri Eka Buana, Karangasem

Next Post

Asal Mula Lalat Punya Mulut Penghisap, Main di Sampah dan Makan Kotoran

Jong Santiasa Putra

Jong Santiasa Putra

Pedagang yang suka menikmati konser musik, pementasan teater, dan puisi. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Kisah Perjalanan Mangga dan Pisau Menuju Titik Nirwana

Asal Mula Lalat Punya Mulut Penghisap, Main di Sampah dan Makan Kotoran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co