2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kaum Urban vs Kemiskinan

I Nengah Suarmanayasa by I Nengah Suarmanayasa
January 24, 2020
in Opini
Kaum Urban vs Kemiskinan

Potret kemiskinan (Google)

Kemiskinan adalah suatu kenyataan yang belum dan takkan pernah terhapuskan dari muka bumi ini. Hal itu dikarenakan konsep dan pengertian kemiskinan itu sendiri terus mengalami perkembangan, seiring dengan perkembangan zaman.

Dahulu, seseorang dikatakan miskin bila tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Tetapi kemudian berkembang dengan masuknya unsur kesehatan, pendidikan, kemampuan melaksanakan fungsi kemasyarakatan, akses informasi, dan lainnya. Belum lagi bila yang dikatakan miskin adalah kelompok masyarakat berpenghasilan terendah dari suatu kumpulan, maka ketika kesejahteraan semua masyarakat dalam kumpulan itu meningkat, tetap saja akan ada orang miskin, yaitu mereka yang termasuk dalam kelompok berpendapatan terendah.

Potret kemiskinan terbaru yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali menyebutkan bahwa jumlah penduduk miskin di Bali pada Maret 2019 mencapai 163,85 ribu jiwa (3,79 persen). Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin pada Maret 2018 sebanyak 171,76 ribu jiwa, maka selama satu tahun terjadi penurunan jumlah penduduk miskin sebanyak 7,91 ribu jiwa. Berita ini mungkin menggembirakan karena angkanya menurun yang mengindikasikan keberhasilan program pemerintah. Tapi, jika dilihat berdasarkan daerah tempat tinggal, ternyata selama kurun waktu satu tahun terjadi pertambahan penduduk miskin di perkotaan sebanyak 3,95 ribu jiwa sedangkan di daerah perdesaan terjadi sebaliknya ada penurunan angka kemiskinan sebanyak 11,86 ribu jiwa.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi diyakini dapat mengurangi atau mengentaskan kemiskinan. Oleh karenanya, pembangunan ekonomi konvensional diarahkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi hingga mencapai level yang tinggi. Namun, pertumbuhan ekonomi tidak selamanya berdampak positif terhadap kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi Bali yang mencapai rata-rata 6 persen ternyata hanya menguntungkan segelintir orang. Pertumbuhan yang tidak pro poor ini tercermin dari distribusi pendapatan Bali yang tidak merata.

Bila merujuk data yang dirilis BPS Provinsi Bali, pada Maret 2014 tercatat 40 persen penduduk terbawah hanya menikmati 15,79 persen dari total pendapatan di Bali, sedangkan kelompok 20 persen teratas menikmati jauh lebih besar, yaitu sebesar 47,98 persen. Pada September 2014, kue pembangunan yang dinikmati oleh 20 persen penduduk teratas semakin besar, yaitu mencapai 50,01 persen, sedangkan kue pembangunan yang dinikmati oleh kelompok 40 persen terbawah semakin berkurang, yaitu 14,29 persen. Ketimpangan distribusi pendapatan diakibatkan dari pertumbuhan ekonomi Bali yang dominan diperankan oleh sektor tersier (jasa), dibanding sektor primer (pertanian).

Pendapatan asli daerah (PAD) yang besar dan cenderung meningkat setiap tahunnya, ternyata tidak menjadi jaminan sebuah daerah tersebut terbebas dari masyarakat miskin. Warga yang tergolong berada di garis kemiskinan masih ditemukan di Kota Denpasar. Sebagai kota metropolis, Denpasar tidak bisa terlepas dari masalah kemiskinan. Data yang dimiliki BPS menyebutkan, tahun 2013 penduduk miskin di Kota Denpasar sebesar 1,72 persen. Walau selama 3 tahun terakhir, yakni dari tahun 2011-2013 Kota Denpasar selalu menjadi daerah dengan jumlah persentase kemiskinan paling kecil dibandingkan kabupaten lainnya di Bali, tapi tahun 2013 angka kemiskinannya meningkat sebesar 0,20 persen dari tahun 2012.

Denpasar sebagai pusat pemerintahan, pusat pendidikan, serta tempat berkumpulnya aktivitas perekonomian memberikan dampak terhadap munculnya kaum urban. Serbuan kaum urban ke Denpasar memicu timbulnya berbagai persoalan.  Penyumbang angka kemiskinan di Denpasar datang dari kaum urban ini. Inilah salah satu persoalan kota Denpasar menjadi kota urban. Namun sayangnya, pemerintah kesulitan melarang masyarakat untuk tidak datang ke kota. Pasalnya, perpindahan seseorang dari satu daerah ke daerah lainnya merupakan hak pribadi.

Selama ini kota Denpasar telah menjadi tujuan banyak orang untuk mendapatkan kesejahteraan dan kenyamanan hidup. Tidak heran jika setiap tahun jumlah penduduk kota Denpasar semakin bertambah, hal ini bukan karena jumlah kelahiran penduduk kota tergolong tinggi, namun justru sebagian besar penduduknya merupakan warga migran yang berasal dari desa. Banyaknya warga desa yang melakukan urbanisasi ini bisa terjadi karena berbagai alasan. Diantaranya, terbatas dan homogennya pekerjaan yang ada di desa, dan tidak memadainya fasilitas yang ada di desa. Namun dengan banyaknya jumlah migran desa ini justru menimbulkan berbagai masalah diperkotaan karena umumnya ketika mereka hijrah ke kota mereka tidak membekali diri dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk dapat bekerja di kota.

Banyaknya kaum urban yang tidak memiliki keterampilan menyebabkan mereka kembali harus menanggung status sebagai orang miskin. Masalah yang kemudian muncul dari kaum miskin urban ini adalah meningkatnya tindak kriminal, meningkatnya pekerja sektor informal yang mencari penghasilan lewat mengemis, memulung dan sejenisnya. Masyarakat urban ini memilih kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tapi kenyataanya mereka mengalami dan merasakan keadaan yang sebaliknya. Keluar dari kemiskinan desa, mereka kemudian masuk dalam kemiskinan perkotan yang justru semakin parah. 

Banyaknya persoalan yang dihadapi masyarakat urban ini, membuat tingkat kecemasan dan kegelisahan mereka akan meningkat. Jika di desa mereka hanya cemas memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan makan, ketika di kota mereka juga merasakan kecemasan akan penggusuran tempat tinggal. Kecemasan akibat kesenjangan ekonomi dan sosial yang nyata terlihat, pendidikan yang semakin tidak terjangkau akibat biaya pendidikan yang lebih mahal diperkotaan serta kecemasan-kecemasan lainnya.

Konflik yang terjadi secara horisontal dapat terjadi antar personal maupun antar komunitas, yang umumnya berkaitan dengan wilayah tempat tinggal dan wilayah kerja. Sedangkan konflik vertikal lebih terlihat ketika terjadinya penggusuran di daerah-daerah yang ditempati oleh masyarakat miskin urban yang sebenarnya terlarang untuk ditempati. Solusi untuk mengatasi semua permasalahan ini adalah pemerintah provinsi dan kabupaten harus bersinergi menciptakan lapangan kerja serta menyediakan fasilitas yang memadai di perdesaan. Jika hal ini tidak dilakukan maka permasalahan yang selama ini dihadapi perkotaan tidak akan terselesaikan. [T]

Tags: kaum urbankemiskinanKotaurbanisasi
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Budaya Memintal Benang, Menenun, dan Membatik di Kampungku: Kekayaan atau Ketertinggalan?

Next Post

Poems by Kriapur # The Party Of The Nights

I Nengah Suarmanayasa

I Nengah Suarmanayasa

Staf pengajar di FE Undiksha-Singaraja

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Poems by Kriapur # The Party Of The Nights

Poems by Kriapur # The Party Of The Nights

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co