6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti by Kadek Sonia Piscayanti
December 14, 2019
in Esai
Omong Kutang Kutang

Kadek Sonia Piscayanti

Dalam sebuah percakapan dengan ibu mertua ketika saya baru-baru menikah, saya tertegun dengan sebuah idiom yang digunakan ibu mertua saya. Omong kutang-kutang. Dilanjutkan dengan isi ceritanya.

Saya tidak sepenuhnya tahu, paham atau mengerti dengan istilah omong kutang-kutang. Kutang itu bahasa Bali, artinya buang. Jadi, omong kutang-kutang adalah semacam pembicaraan yang dibuang-buang.

Apakah begitu? Mungkin. Kembali pada omong kutang-kutang. Beberapa kali sejak saya bicara dengan ibu mertua yang didahului dengan omong kutang-kutang, maka saya sesungguhnya sedang menyimak serius sekali. Saya tahu ibu mertua tidak mungkin bercerita jika hanya untuk di-kutang atau dibuang-buang.

Salah satu ceritanya begini. Syahdan ada seorang perempuan yang sangat baik hatinya dan selalu menolong sesama namun dia hanya memiliki satu anak laki-laki dan ketika dewasa tiba waktu si anak laki-laki menikah. Muncul persoalan klasik. Perempuan ini sering bertengkar dengan menantunya atau istri dari anak lelakinya. Dan tak bisa didamaikan.

Menilik situasi rumah yang makin lama makin panas, si perempuan baik hati ini memilih meninggalkan rumahnya dan membangun rumah baru, menepi di pinggir kampung, membuat warung sederhana untuk membiayai dirinya dan dengan  demikian tak lagi minta pada anak menantunya. Nah lalu dimana letak omong kutang-kutang-nya?

Begini. Omong kutang-kutangnya adalah: Seandainya perempuan baik hati ini meninggal, bukankah semua hartanya akan jatuh ke tangan anak laki-laki dan mantunya? Lalu mengapa tidak dijadikan pertimbangan untuk menjaga perempuan baik itu sebab toh semua akan kembali untuk anaknya?

Nah. Bukankah tidak ada yang perlu dibuang dalam cerita itu? Mana yang sebenarnya omong kutang-kutang? Tidak jelas. Yang lebih jelas bagi saya, mungkin itu adalah semuanya adalah cerita utuh.

Kali lain ibu mertua bercerita tentang seorang janda tua yang mati gantung diri.

Omong kutang-kutang katanya janda itu sangat kesepian sehingga tidak tahu lagi caranya menjalani hidup yang memang tidak bisa diharapkan. Tidak ada suami, anak, apalagi cucu, untuk menghiburnya. Lalu dimana omong kutang-kutangnya? Katanya begitulah perempuan tua kesepian yang bisa saja bunuh diri untuk sekaligus membunuh kesepiannya.

Lalu sekali lagi dimana omong kutang-kutangnya? Semua cerita itu bagi saya adalah intinya.

Lalu saya mendengar sekali lagi omong kutang-kutang yang lain. Tentang seorang perempuan doduga selingkuh, disiksa suamin dan diusir lalu diceraikan. Padahal si perempuan ini rajin dan sangat berbakti pada keluarga. Omong kutang-kutangnya, kalau tidak ada perempuan ini, sekeluarga itu bisa kelaparan karena dialah yang satu satunya yang bekerja di keluarga itu.

Saya tidak mengerti. Tapi jikapun benar itu omong kutang-kutang, tapi tetap bagi saya itu bukan omong kutang-kutang. Saya tetap menyerapnya sebagai cerita utuh.

Barangkali karena saya selalu menyimak semua omong kutang-kutang itu dengan serius, ibu mertua selalu bercerita banyak sekali omong kutang-kutang yang lain.

Saya selalu berpikir setelah menyimaknya. Mengapa ada istilah omong kutang-kutang? Dalam dunia literasi yang sangat maju saat ini, dimana semua pesan harus disampaikan dengan efektif maka saya tidak mengenal omong kutang-kutang. Dalam bahasa Indonesia ini tidak ada padanannya. Apakah terjemahannya menjadi omong yang dibuang, pesan kosong, atau bualan semu (sudah bualan, semu pula)?.

Dalam ilmu bahasa yang saya pelajari ada sebuah istilah peyorasi atau penurunan makna. Contohnya tai adalah peyorasi dari kotoran. Dia merendahkan makna. Tapi kan memang tai itu kotoran. Bagaimana bisa dia disebut mengalami penurunan makna. Ini cukup bisa diperdebatkan.

Sebagai lawan peyorasi adalah ameliorasi. Peninggian derajat makna. Misalnya buta menjadi tunanetra. Ini juga bagi saya cukup aneh. Makna ditinggikan, padahal niatnya sama. Begitulah bahasa. Terlalu banyak istilah sesuai keinginan pemakainya. Namun kembali ke omong kutang-kutang, dia bukan peyorasi dan bukan juga ameliorasi. Bukan juga apapun.

Apakah sejenis metafor? Untuk pengandaian?

Jadi saya tidak tahu apakah istilah ini memang ada untuk memetaforakan sesuatu yang memang sudah metafor. Kenyataan memang sangat metafor tanpa perlu dimetaforkan. Kadang kenyataan lebih metafor dari metafor itu sendiri. Sehingga metafor tak begitu banyak fungsinya. Jadi apakah ibu mertua ingin mengajarkan metafor pada saya? Atau kenyataan? Atau dua-duanya? Metafor yang nyata atau nyata yang metafor. Saya mengimaninya sebagai dua duanya. Bagi saya apapun itu, baik yang metafor maupun yang nyata, ada satu omong kutang-kutang dari ibu mertua saya yang akhirnya paling saya ingat.

Omong kutang-kutang itu adalah: “Nah, omong kutang-kutang, jika saya pergi, kamu harus siap”. Dia berkata tapi dia tidak menatap saya. Saya juga tidak menatapnya. Omong kutang-kutangnya adalah, kami berdua tidak pernah siap.

Itulah yang terjadi. Dia pergi. Meninggalkan saya yang belum siap. Barangkali tak pernah siap. Tapi juga memang kalau ditunggu saya tidak akan pernah siap. [T]

Tags: BahasaBahasa BaliBahasa Indonesiakata-katakomunikasi
Share133TweetSendShareSend
Previous Post

Sisa Hujan Semalam

Next Post

Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Kadek Sonia Piscayanti

Kadek Sonia Piscayanti

Penulis adalah dosen di Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Ulangan Sejarah Krisis Air di Nusa Penida

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co