24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebebasan dalam Keterbatasan Pertunjukan “W.ADU.AN” dan Beberapa Refleksi Diri Melalui Cermin

Satyawati by Satyawati
November 25, 2019
in Ulasan
Kebebasan dalam Keterbatasan Pertunjukan “W.ADU.AN” dan Beberapa Refleksi Diri Melalui Cermin

Pertunjukan “W.ADU.AN” di Canasta Art Space, Denpasar. (Foto: Putu Sayoga)

Ketika membicarakan tentang ruang pertunjukan teater, jarak antara penonton dan panggung seperti sengaja diciptakan: baris kursi penonton bertingkat disediakan agar penonton dapat berhadapan langsung dengan panggung dan melihat pertunjukan secara menyeluruh. Lalu, bagaimana jadinya ketika semua itu dikaburkan? Pertunjukan “W.AD.UAN” mungkin dapat memberikan sedikit gambarannya.

Suasana mencekam langsung terasa begitu masuk ke ruang pertunjukan. Selain karena pertunjukan itu (yang masih merupakan geladi bersih) baru dimulai sekitar pukul 10 malam, suasana mencekam juga didapatkan dari kedua pemain, dengan perawakan yang mirip, berbaju terusan putih dan rambut panjang hampir menutupi wajah, mereka berjalan mondar-mandir.

Kursi penonton dibuat melingkar dengan jarak antar-kursi yang cukup lebar. Di hadapan setiap bangku, tergantung sebuah cermin. Sebelum pertunjukan dimulai, ada pengarahan tentang tata cara menonton pertunjukan malam itu: Penonton diminta untuk menonton melalui cermin dan hanya diperbolehkan untuk mengarahkan pandangan ke cermin. Penonton bebas menggerak-gerakkan cermin untuk menyesuaikan sudut yang diinginkan ketika menonton.

Begitu penonton sudah duduk di tempat masing-masing, kedua aktor mulai meluncurkan dialog-dialognya. Pada bagian awal ini, kedua aktor seperti berdialog pada dirinya sendiri; bermonolog menceritakan kisah-kisah hidup yang telah mereka lalui. Pemain satu bercerita bagaimana ia ditinggalkan suami dan kemudian harus menjalani kehidupan seorang diri. Pemain dua bercerita tentang kerinduannya atas sentuhan seorang ayah yang tidak pernah ia dapatkan karena ayahnya lebih memilih pergi bersama perempuan lain. Namun, sejujurnya, cerita-cerita tersebut tidak terlalu saya perhatikan karena terlalu sibuk menggerak-gerakkan kaca, demi memenuhi keingin-tahuan terhadap apa yang sedang dilakukan para pemain.

Sambil bermonolog, kedua pemain mondar-mandir mengambil batu-batu besar yang tersebar di ruang pertunjukan dan meletakkannya ke tengah, di atas panggung kecil yang menjadi bagian dari tata panggung pertunjukan malam itu. Oiya, pertunjukan ini dilakukan di halaman belakang Canasta Creative Space. Tempatnya cukup terbuka dengan pemandangan langit malam; seolah langit malam dan desau angin menjadi bagian dari tata panggung pada malam itu.

Kedua pemain mulai berinteraksi, menjelma tokoh yang berbeda dari sebelumnya. Sang Adik mulai menyinggung agem sang Kakak yang pada masanya merupakan primadona partai besar di masa 1965. Sang Kakak juga melempar caci tentang pilihan partai politik berbeda yang diamini sang Adik. Ketegangan semakin meningkat ketika keduanya melempar curiga tentang rajah yang tertanam pada tubuh masing-masing.

Sang kakak pada awalnya berkilah terhadap tuduhan sang Adik tentang paha kirinya yang dirajah. Tapi, akhirnya ia membuka baju pada bagian dada kiri dan memperlihatkan dengan lantang rajahan itu. Berbalik menyerang, sang Kakak mempertanyakan dukun mana yang adiknya gunakan untuk membuatnya sakti. Tentu sang Adik berkilah juga. Tapi, pada kenyataannya rajah itu tertanam di paha kirinya.

Pada akhirnya, mereka berdua berhadap-hadapan telah berubah wujud menjadi leak, saling berbesar diri siapa yang paling kuat di antara keduanya. Belum sampai mereka bertarung, kami digiring keluar ruangan karena pertunjukan dinyatakan sudah selesai.

 “W.ADU.AN” berusaha menghadirkan pembicaraan atau isu yang sudah cukup banyak disinggung orang (isu perempuan dan masa 1965) dalam sebuah konsep pertunjukan yang tidak biasa.

Tentu, cara menonton melalui cermin menjadi komponen paling menarik dalam pertunjukan ini. Penonton diberi kebebasan, tetapi juga sekaligus dibatasi. Dengan menggunakan cermin itu, penonton dapat menciptakan sendiri angle manayang diinginkan. Tapi, secara bersamaan juga sekaligus dibatasi karena dengan menonton melalui cermin, penonton tidak dapat melihat pertunjukan secara menyeluruh.

Nyatanya, eksperimen dalam hal ruang pertunjukan dan cara-cara berinteraksi dengan penonton itu sendiri sedang banyak dilakukan. Misalnya, pementasan “Margi Wuta” yang memosisikan para aktornya (tuna netra) sebagai pihak yang bisa melihat dan penonton sebagai pihak yang tidak bisa melihat. Para penonton diminta untuk melihat pertunjukan dengan ditutup matanya.

Tentang eksperimen ruang pertunjukan, Levitating Theatre sebagai pemenang Prague Quadrennial 2019, merupakan salah satu contoh ruang pertunjukan yang saat ini tampaknya memang diusahakan untuk lebih dekat dan menyatu dengan sekitar. Bersifat luar-ruangan dan berada di antara dua pohon besar, panggung dari Levitating Theatre tidak berbentuk persegi panjang atau bulat seperti pada panggung umumnya.

Cara menonton melalui cermin yang “W.ADU.AN” tawarkan tentu menjadi pengalaman baru (termasuk rasa pusing karena cermin yang terus bergoyang sepanjang pertunjukan). Cara menonton seperti ini juga memunculkan rasa-rasa refleksi diri tentang bagaimana kita bereaksi terhadap kejadian di sekitar. Sebab, sempat beberapa saat saya tidak terlalu memperhatikan pertunjukan itu sendiri karena teralihkan oleh pantulan diri di cermin. Atau, justru cermin dalam pertunjukan ini juga sebagai bentuk apresiasi diri karena telah terlibat dalam pertunjukan dan telah membuat pertunjukan malam itu menjadi bermakna. Selain itu, kebebasan yang diberikan untuk menentukan sendiri sudut mana yang ingin dilihat melalui cermin juga menyadarkan saya: Bagaimana cara kita memaknai sesuatu dapat dilakukan dari berbagai sisi dan sudut pandang.

Kita seharusnya bisa mewawas diri dan kemudian memberikan makna terhadap kejadian di sekitar tanpa sekalipun mengabaikan peran kita di dalamnya.

Ah, pusing ini masih juga tersisa.

Tags: Canasta Creative SpaceParade Teater CanastaTeater
Share35TweetSendShareSend
Previous Post

TELUR

Next Post

Berbicara Tabu dan Ruang Kreatif di Dalamnya #Diskusi-Lokakarya Parade Teater Canasta 2019

Satyawati

Satyawati

Biasa dipanggil Tya. Mahasiswa linguistik Unud yang cukup aktif menulis di blog pribadinya: lihat-dengar.blogspot.com

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Berbicara Tabu dan Ruang Kreatif di Dalamnya #Diskusi-Lokakarya Parade Teater Canasta 2019

Berbicara Tabu dan Ruang Kreatif di Dalamnya #Diskusi-Lokakarya Parade Teater Canasta 2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co