14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Pengotan, Tak Ada Dagang Aksesoris, Tak Ada Loloh Cem-cem

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 11, 2019
in Tualang
Desa Pengotan, Tak Ada Dagang Aksesoris, Tak Ada Loloh Cem-cem

Suasana di Desa Pengotan yang mirip dengan Desa Penglipuran, Bangli

Ini cerita saya ketika pertama kali datang ke Desa Pengotan, Bangli. Awalnya saya berniat tidak ikut karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi rencana ya tinggal rencana. Takdir berkata lain. Pekerjaan bisa saya tuntaskan. Diluar ekspektasi. Dan saya bisa ikut pergi.

Sebelum berangkat saya bertanya dulu apakah Bangli itu dingin? Jawabannya “Banget”. Mendengar kata itu saya segera mencari sweeter saya yang notabene jarang saya pakai dan hanya dipakai saat musim hujan. Jam 3 sore berangkatlah saya dari Singaraja.

Sepanjang perjalanan saya ditemani tiga orang lelaki. Tapi aman kok, karena salah satunya adalah pacar sekaligus sopir handal saya. Hehehe. Dari Singaraja kurang lebih tiga jam (bawa mobilnya selow dan berhenti makan bakso). Sepanjang perjalanan kami berbincang. Membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Sama halnya dengan tulisan ini yang (mungkin) tidak penting.

Oh ya, hampir lupa tujuan kami ke Desa Pengotan, Bangli, adalah untuk memutar film program Indonesia Raja 2019. Tempatnya di Wantilan Desa Pengotan yang juga menjadi posko KKN dari mahasiswa STKIP Suar Bangli. Jadwalnya pukul 19.30 wita. Tapi kami sampai lebih awal yakni pukul 17.45 wita.

Sambil menunggu waktu, saya berjalan-jalan disekitar tempat tersebut. Saat melihat-lihat, tempat itu mirip sekali dengan Desa Wisata Penglipuran. Bangunannya masih bangunan tua tapi rumah-rumahnya sudah banyak yang direnovasi, namun tidak mengubah konsep bangunan. Angkul-angkul (gerbang) khas Bali yang ada di sana juga mirip dengan yang ada di Penglipuran.


Rumah-rumah penduduk di Desa Pengotan, Bangli

Rumah-rumah tinggal di kawasan itu dibangun dengan model yang sama. Pendek dan kecil. Dalam satu bidang tanah, bisa dibanguni hingga 7 rumah. Tanpa sekat. Hanya saja lingkungan di Desa Pengotan itu lebih kecil. Tak ada dagang aksesoris dan loloh cem-cem. Berbeda dengan di Penglipuran yang arealnya lebih luas dan ada dagangnya.

Suasana Desa Pengotan sangat sepi dan sangat dingin. Rumah-rumah yang berjejer rapi itu tak ada penghuninya. Saat itu hari masih sore. Langit masih terang. Masih bagus untuk selfie.

Ketika saya berjalan-jalan dan berniat untuk kembali ke posko KKN, saya bertemu dengan seorang ibu yang hendak memberi pakan babi. Saya sempat ngobrol sebentar dan bertanya, apakah bangunan rumah di desa itu semuanya mungil dan pendek-pendek. Si ibu bilang memang begitu dari dulu.

Di desa itu tidak boleh membuat bangunan tinggi-tinggi atau rumah bertingkat. Itu tidak boleh. Menurut kepercayaan masyarakat disana, leluhur mereka tidak menghendaki untuk membuat bangunan yang tinggi melebihi tempat ibadah (sanggah). Saya tak tau kenapa. Sempat pula saya bertanya, jika ada yang membuat bangunan bertingkat, akan bagaimana, atau akan trejadi apa. Tapi si ibu tidak memberikan jawaban.

Beliau malah bercerita. Dulu salah satu SMP di sana bangunannya roboh karena bertingkat. Ketika saya tanya kenapa, dengan nada yang sedikit naik si ibu menjawab, “Nika sampun dugas linuhe, bangunane roboh. Nak metingkat nika. Untung dugas nto ten wenten murid. Wengi nika kejadiane, Gek”. (Itu waktu ada gempa. Bangunannya roboh. Karena bertingkat. Beruntung saat itu tak ada siswa. Kejadiannya malam, Dik).

Mendengar itu saya hanya manggut-manggut. Sambil berpikir sebab musabab dari kerobohannya sekolah itu. Apakah karena gempa atau karena hal lain. Tapi ya sudahlah. Itu cerita.


Pura keluarga (sanggah) di Desa Pengotan, Bangli

Semakin malam semakin sepi. Sepinya lingkungan disana saya pikir karena masih sore orang-orang disana masih belum pulang dari bekerja. Atau masih belum menyelesaikan pekerjaannya di kebun. Bangli kan banyak jeruk.  Paling hanya ada tiga atau empat rumah yang masih tinggal disana. Ternyata saya salah. Orang-orang tak kembali.

Tak ada lampu yang menyala dari rumah-rumah itu. Hanya sedikit. Tempat yang paling terang adalah tempat yang kami kunjungi saja, posko KKN, dan pura Penataran Agung yang ada di sana. Jalanan pun sepi. Gelap.

Usut punya usut, ternyata warga di sana memang jarang pulang. Karena kesibukannya di tempat bekerja membuat mereka menetap di kota atau wilayah tempat mereka mengais rejeki. Mereka baru akan pulang saat hari raya saja. Setelah itu kembali ditinggalkan. Kembali sepi. Tapi ketika ada rapat desa, warga di desa itu seluruhnya hadir untuk mengikuti rapat desa. Yang jauh maupun yang dekat, semuanya menyempatkan diri untuk melaksanakan kewajibannya sebagai krama desa.

Potensi Desa Pengotan ini sangat bagus bila ditata dengan baik. Mungkin bisa menjadi Penglipuran kedua, karena kawasannya sangat mirip dengan desa wisata yang ngetop itu. Dan belakangan saya mengetahui Kawasan Desa Pengotan tenyata sudah masuk dalan kawasan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) sejak lama.

Desa Pengotan merupakan salah satu Desa Tua atau Desa Bali Aga. Desa dengan hawa dingin ini sangat memperhatikan dan mempertahankan keaslian budaya yang mereka miliki. Salah satunya bahasa. Ketika bertemu dengan saya mereka berkomunikasi dengan bahasa mereka yang saya pikir mirip dengan bahasa Desa Pedawa, Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Jika tak paham, mereka akan menggunakan bahasa Bali Alus untuk menjelaskan. (jika yang diajak berbicara adalah orang Bali). Sangat sopan.

Mereka begitu memperhatikan bahasa yang mereka keluarkan. Saya sangat terkesan. Anak-anak di sana pun sangat sopan. Saat bertemu dengan saya dengan tidak sengaja ketika bermain-main, mereka langsung menyapa saya dengan “Om Swastyastu, Mbok”.

Dengan spontan saya langsung membalas dengan ucapan yang sama sambil mencakupkan tangan saya. Saat itu saya merasa kalah dari mereka. Saya merasa malu dengan anak-anak itu. [T]

Tags: baliBangliDesa Pengotandesa wisata
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Mulus Dedek-Tiwi, Dari Jegeg Bagus Udayana hingga Jegeg Bagus Bali

Next Post

Pre-Event Ubud Village Jazz Festival di Rumah Luwih Beach Resort & Spa

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Pre-Event  Ubud Village Jazz Festival di Rumah Luwih Beach Resort & Spa

Pre-Event Ubud Village Jazz Festival di Rumah Luwih Beach Resort & Spa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co