23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Desa Pengotan, Tak Ada Dagang Aksesoris, Tak Ada Loloh Cem-cem

Dian Suryantini by Dian Suryantini
August 11, 2019
in Tualang
Desa Pengotan, Tak Ada Dagang Aksesoris, Tak Ada Loloh Cem-cem

Suasana di Desa Pengotan yang mirip dengan Desa Penglipuran, Bangli

Ini cerita saya ketika pertama kali datang ke Desa Pengotan, Bangli. Awalnya saya berniat tidak ikut karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi rencana ya tinggal rencana. Takdir berkata lain. Pekerjaan bisa saya tuntaskan. Diluar ekspektasi. Dan saya bisa ikut pergi.

Sebelum berangkat saya bertanya dulu apakah Bangli itu dingin? Jawabannya “Banget”. Mendengar kata itu saya segera mencari sweeter saya yang notabene jarang saya pakai dan hanya dipakai saat musim hujan. Jam 3 sore berangkatlah saya dari Singaraja.

Sepanjang perjalanan saya ditemani tiga orang lelaki. Tapi aman kok, karena salah satunya adalah pacar sekaligus sopir handal saya. Hehehe. Dari Singaraja kurang lebih tiga jam (bawa mobilnya selow dan berhenti makan bakso). Sepanjang perjalanan kami berbincang. Membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Sama halnya dengan tulisan ini yang (mungkin) tidak penting.

Oh ya, hampir lupa tujuan kami ke Desa Pengotan, Bangli, adalah untuk memutar film program Indonesia Raja 2019. Tempatnya di Wantilan Desa Pengotan yang juga menjadi posko KKN dari mahasiswa STKIP Suar Bangli. Jadwalnya pukul 19.30 wita. Tapi kami sampai lebih awal yakni pukul 17.45 wita.

Sambil menunggu waktu, saya berjalan-jalan disekitar tempat tersebut. Saat melihat-lihat, tempat itu mirip sekali dengan Desa Wisata Penglipuran. Bangunannya masih bangunan tua tapi rumah-rumahnya sudah banyak yang direnovasi, namun tidak mengubah konsep bangunan. Angkul-angkul (gerbang) khas Bali yang ada di sana juga mirip dengan yang ada di Penglipuran.


Rumah-rumah penduduk di Desa Pengotan, Bangli

Rumah-rumah tinggal di kawasan itu dibangun dengan model yang sama. Pendek dan kecil. Dalam satu bidang tanah, bisa dibanguni hingga 7 rumah. Tanpa sekat. Hanya saja lingkungan di Desa Pengotan itu lebih kecil. Tak ada dagang aksesoris dan loloh cem-cem. Berbeda dengan di Penglipuran yang arealnya lebih luas dan ada dagangnya.

Suasana Desa Pengotan sangat sepi dan sangat dingin. Rumah-rumah yang berjejer rapi itu tak ada penghuninya. Saat itu hari masih sore. Langit masih terang. Masih bagus untuk selfie.

Ketika saya berjalan-jalan dan berniat untuk kembali ke posko KKN, saya bertemu dengan seorang ibu yang hendak memberi pakan babi. Saya sempat ngobrol sebentar dan bertanya, apakah bangunan rumah di desa itu semuanya mungil dan pendek-pendek. Si ibu bilang memang begitu dari dulu.

Di desa itu tidak boleh membuat bangunan tinggi-tinggi atau rumah bertingkat. Itu tidak boleh. Menurut kepercayaan masyarakat disana, leluhur mereka tidak menghendaki untuk membuat bangunan yang tinggi melebihi tempat ibadah (sanggah). Saya tak tau kenapa. Sempat pula saya bertanya, jika ada yang membuat bangunan bertingkat, akan bagaimana, atau akan trejadi apa. Tapi si ibu tidak memberikan jawaban.

Beliau malah bercerita. Dulu salah satu SMP di sana bangunannya roboh karena bertingkat. Ketika saya tanya kenapa, dengan nada yang sedikit naik si ibu menjawab, “Nika sampun dugas linuhe, bangunane roboh. Nak metingkat nika. Untung dugas nto ten wenten murid. Wengi nika kejadiane, Gek”. (Itu waktu ada gempa. Bangunannya roboh. Karena bertingkat. Beruntung saat itu tak ada siswa. Kejadiannya malam, Dik).

Mendengar itu saya hanya manggut-manggut. Sambil berpikir sebab musabab dari kerobohannya sekolah itu. Apakah karena gempa atau karena hal lain. Tapi ya sudahlah. Itu cerita.


Pura keluarga (sanggah) di Desa Pengotan, Bangli

Semakin malam semakin sepi. Sepinya lingkungan disana saya pikir karena masih sore orang-orang disana masih belum pulang dari bekerja. Atau masih belum menyelesaikan pekerjaannya di kebun. Bangli kan banyak jeruk.  Paling hanya ada tiga atau empat rumah yang masih tinggal disana. Ternyata saya salah. Orang-orang tak kembali.

Tak ada lampu yang menyala dari rumah-rumah itu. Hanya sedikit. Tempat yang paling terang adalah tempat yang kami kunjungi saja, posko KKN, dan pura Penataran Agung yang ada di sana. Jalanan pun sepi. Gelap.

Usut punya usut, ternyata warga di sana memang jarang pulang. Karena kesibukannya di tempat bekerja membuat mereka menetap di kota atau wilayah tempat mereka mengais rejeki. Mereka baru akan pulang saat hari raya saja. Setelah itu kembali ditinggalkan. Kembali sepi. Tapi ketika ada rapat desa, warga di desa itu seluruhnya hadir untuk mengikuti rapat desa. Yang jauh maupun yang dekat, semuanya menyempatkan diri untuk melaksanakan kewajibannya sebagai krama desa.

Potensi Desa Pengotan ini sangat bagus bila ditata dengan baik. Mungkin bisa menjadi Penglipuran kedua, karena kawasannya sangat mirip dengan desa wisata yang ngetop itu. Dan belakangan saya mengetahui Kawasan Desa Pengotan tenyata sudah masuk dalan kawasan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) sejak lama.

Desa Pengotan merupakan salah satu Desa Tua atau Desa Bali Aga. Desa dengan hawa dingin ini sangat memperhatikan dan mempertahankan keaslian budaya yang mereka miliki. Salah satunya bahasa. Ketika bertemu dengan saya mereka berkomunikasi dengan bahasa mereka yang saya pikir mirip dengan bahasa Desa Pedawa, Kecamatan Banjar Kabupaten Buleleng. Jika tak paham, mereka akan menggunakan bahasa Bali Alus untuk menjelaskan. (jika yang diajak berbicara adalah orang Bali). Sangat sopan.

Mereka begitu memperhatikan bahasa yang mereka keluarkan. Saya sangat terkesan. Anak-anak di sana pun sangat sopan. Saat bertemu dengan saya dengan tidak sengaja ketika bermain-main, mereka langsung menyapa saya dengan “Om Swastyastu, Mbok”.

Dengan spontan saya langsung membalas dengan ucapan yang sama sambil mencakupkan tangan saya. Saat itu saya merasa kalah dari mereka. Saya merasa malu dengan anak-anak itu. [T]

Tags: baliBangliDesa Pengotandesa wisata
Share77TweetSendShareSend
Previous Post

Jalan Mulus Dedek-Tiwi, Dari Jegeg Bagus Udayana hingga Jegeg Bagus Bali

Next Post

Pre-Event Ubud Village Jazz Festival di Rumah Luwih Beach Resort & Spa

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
0
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails
Next Post
Pre-Event  Ubud Village Jazz Festival di Rumah Luwih Beach Resort & Spa

Pre-Event Ubud Village Jazz Festival di Rumah Luwih Beach Resort & Spa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co